Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Manajemen Konflik Sebagai Indikator Efektivitas Penguatan Diri: Perbedaan Antara Pola Pikir dalam Mengelola Emosional Antara Gen z dan Gen Milenial dalam Perspektif SDGs Afifah Fatmala Nurlianti; Vella Elfanny Meisyacharis; Albaitul Khoiridah Fitriani; Hieronimus Febian Jona Hendrawan; Revienda Anita Fitrie; Nuh Krama Hadianto
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8268

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya konflik interpersonal di era digital yang dipicu oleh tingginya intensitas interaksi daring serta adanya perbedaan pola pengelolaan emosi antar generasi, khususnya Generasi Z dan Milenial. Perkembangan teknologi komunikasi yang pesat turut memperluas ruang interaksi sosial, namun di sisi lain juga meningkatkan potensi kesalahpahaman dan konflik akibat keterbatasan ekspresi emosional dalam komunikasi digital. Permasalahan utama dalam penelitian ini terletak pada belum optimalnya pemahaman mengenai bagaimana kedua generasi tersebut mengelola konflik dan emosi dalam konteks sosial yang semakin kompleks dan dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran manajemen konflik dan kecerdasan emosional sebagai indikator penguatan diri, serta mengkaji perbedaan strategi yang digunakan oleh Generasi Z dan Milenial dalam perspektif Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan mental dan pembangunan masyarakat yang inklusif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi, melalui teknik wawancara mendalam terhadap enam informan yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung menggunakan strategi menghindar serta regulasi emosi berbasis refleksi diri dalam menghadapi konflik. Sementara itu, Generasi Milenial lebih mengedepankan pendekatan kolaboratif dan komunikasi terbuka untuk menyelesaikan permasalahan interpersonal. Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan dalam mengelola konflik dan emosi memiliki kontribusi signifikan terhadap kesehatan mental individu, peningkatan kohesi sosial, serta mendukung terciptanya masyarakat yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan sesuai dengan tujuan pembangunan global.
Implementasi Program Kampung Kue Dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Kecamatan Rungkut, Surabaya Muhammad sifak Nurhidayatullah; Muhammad Fauzzul Adhim; Vella Elfanny Meisyacharis; Aisyah Lailatul Isnaini; Alisya Regitta Cahyani
EKONOMI DAN BISNIS DIGITAL Vol 5 No 1 (2026): jURNAL EKONOMI DAN BISNIS DIGITAL
Publisher : SMARTINDO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58765/ekobil.v5i1.425

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Kampung Kue dalam penyerapan tenaga kerja lokal di Kecamatan Rungkut, Surabaya. Program ini merupakan bentuk pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat yang lahir dari kondisi krisis ekonomi pasca-PHK massal, dengan menggerakkan ibu-ibu rumah tangga melalui usaha produksi kue skala UMKM. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengacu pada teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan, observasi lapangan, dan dokumentasi pada bulan April 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Kampung Kue telah berjalan cukup baik ditinjau dari keenam variabel: standar dan tujuan program telah terdefinisi jelas, komunikasi antar organisasi berjalan baik melalui pembinaan Disperdagin dan forum paguyuban, karakteristik dan disposisi pelaksana sangat positif dan adaptif, serta program terbukti mampu menyerap hampir seluruh warga kawasan melalui 63 paguyuban aktif. Namun demikian, keterbatasan modal dan kenaikan harga bahan baku menjadi hambatan utama dalam memperluas kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja tambahan. Program ini memberikan kontribusi nyata terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga dan sejalan dengan SDGs Poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.