Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Manajemen Konflik Sebagai Indikator Efektivitas Penguatan Diri: Perbedaan Antara Pola Pikir dalam Mengelola Emosional Antara Gen z dan Gen Milenial dalam Perspektif SDGs Afifah Fatmala Nurlianti; Vella Elfanny Meisyacharis; Albaitul Khoiridah Fitriani; Hieronimus Febian Jona Hendrawan; Revienda Anita Fitrie; Nuh Krama Hadianto
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8268

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya konflik interpersonal di era digital yang dipicu oleh tingginya intensitas interaksi daring serta adanya perbedaan pola pengelolaan emosi antar generasi, khususnya Generasi Z dan Milenial. Perkembangan teknologi komunikasi yang pesat turut memperluas ruang interaksi sosial, namun di sisi lain juga meningkatkan potensi kesalahpahaman dan konflik akibat keterbatasan ekspresi emosional dalam komunikasi digital. Permasalahan utama dalam penelitian ini terletak pada belum optimalnya pemahaman mengenai bagaimana kedua generasi tersebut mengelola konflik dan emosi dalam konteks sosial yang semakin kompleks dan dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran manajemen konflik dan kecerdasan emosional sebagai indikator penguatan diri, serta mengkaji perbedaan strategi yang digunakan oleh Generasi Z dan Milenial dalam perspektif Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan mental dan pembangunan masyarakat yang inklusif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi, melalui teknik wawancara mendalam terhadap enam informan yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung menggunakan strategi menghindar serta regulasi emosi berbasis refleksi diri dalam menghadapi konflik. Sementara itu, Generasi Milenial lebih mengedepankan pendekatan kolaboratif dan komunikasi terbuka untuk menyelesaikan permasalahan interpersonal. Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan dalam mengelola konflik dan emosi memiliki kontribusi signifikan terhadap kesehatan mental individu, peningkatan kohesi sosial, serta mendukung terciptanya masyarakat yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan sesuai dengan tujuan pembangunan global.
Manajemen Konflik Digital dalam Perspektif SDGs 16: Studi Kasus Eskalasi dan Resolusi Konflik SEAblings vs KNetz Rahma Fitriyani; Vannisha Rafa Naura Harina; Yusrotul Widad Sugiyanto; Herdiyanto Fransiskus Samosir; Revienda Anita Fitrie; Nuh Krama Hadianto
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8543

Abstract

Konflik digital di media sosial semakin kompleks dan sulit dikendalikan, terutama ketika melibatkan perbedaan identitas budaya serta mekanisme algoritma yang mempercepat eskalasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola eskalasi konflik digital antara komunitas SEAblings dan KNetz, mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu konflik, serta menilai strategi penyelesaian yang digunakan dalam perspektif manajemen konflik dan Sustainable Development Goal (SDG) 16, berfokus pada perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dipadukan dengan netnografi. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipatif dan dokumentasi digital pada platform X (Twitter), TikTok, Instagram, dan Telegram selama periode puncak eskalasi konflik, yaitu tanggal 9 hingga 11 Februari 2026. Sumber data meliputi unggahan, komentar, dan tangkapan layar yang dianalisis menggunakan analisis tematik dari Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik SEAblings vs KNetz mengalami eskalasi dalam tiga fase cepat: fase pemicu, fase penyebaran viral, serta fase polarisasi dan aksi kolektif. Faktor-faktor yang memicu konflik meliputi identitas kelompok yang kuat, anonimitas di media sosial, algoritma platform yang memprioritaskan konten provokatif, serta keterbatasan mediasi lintas batas. Strategi resolusi yang muncul sangat terbatas dan didominasi oleh gaya kompetisi, sementara upaya rekonsiliasi seperti permintaan maaf tenggelam oleh banjir konten konflik. Dari perspektif SDG 16, konflik ini melanggar prinsip perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh karena menghasilkan kekerasan verbal tanpa sanksi, ketidakadilan prosedural, serta kegagalan platform digital dalam mencegah eskalasi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pengembangan mekanisme mediasi lintas platform dan lintas negara, serta reformasi algoritma yang mendorong rekonsiliasi agar target SDG 16 dapat tercapai di era digital.
Legitimasi Kekuasaan dan Ketidakpercayaan Publik terhadap Kepala Daerah : Studi Kasus Demonstrasi Warga Pati dalam Perspektif Manajemen Konflik dan SDGs 16 Maura Alayya Nusantari; Intan Aurellia Evania; Felia Noorlibna Badzlin; Rangga Naim Ansori; Revienda Anita Fitrie; Nuh Krama Hadianto
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8649

Abstract

Krisis legitimasi kekuasaan kepala daerah menjadi isu penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah karena memengaruhi kepercayaan publik dan stabilitas sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis krisis legitimasi kekuasaan kepala daerah di Kabupaten Pati, mengidentifikasi faktor penyebab menurunnya kepercayaan masyarakat, serta mengkaji konflik sosial yang muncul melalui aksi demonstrasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Data diperoleh dari jurnal ilmiah, buku, dokumen kebijakan, dan pemberitaan media yang dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis legitimasi dipicu oleh kebijakan pemerintah yang dinilai kurang transparan, minim partisipasi publik, serta dianggap tidak berpihak pada kepentingan masyarakat. Kondisi tersebut memunculkan ketidakpercayaan publik yang ditandai dengan demonstrasi berulang, berkembangnya narasi negatif terhadap pemerintah daerah, dan lemahnya komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat. Konflik yang terjadi meliputi konflik kepentingan, konflik komunikasi, dan potensi konflik horizontal antarkelompok masyarakat. Dalam perspektif manajemen konflik, penanganan yang dilakukan pemerintah masih cenderung reaktif dan belum mengedepankan dialog, mediasi, serta partisipasi masyarakat secara inklusif. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan transparansi kebijakan, peningkatan partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan, serta perbaikan komunikasi pemerintah daerah untuk memulihkan legitimasi dan kepercayaan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan tata kelola pemerintahan daerah yang lebih demokratis, responsif, dan selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh.
Manajemen Konflik Kebijakan Publik dalam Perspektif SDG 16: Analisis Respons Masyarakat terhadap Kebijakan Subsidi BBM di Indonesia Navy Restiani Anggita Nurlaila; Rosalia Triana Dewi; Clara Aurora Salsabila; Perdy Alfa Resal; Ravienda Anita Fitrie; Nuh Krama Hadianto
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8847

Abstract

Kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia merupakan salah satu kebijakan publik yang sering menimbulkan konflik sosial karena berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk konflik, faktor penyebab konflik, serta respons masyarakat terhadap kebijakan subsidi BBM dalam perspektif manajemen konflik dan Sustainable Development Goals (SDG) 16. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui pengkajian berbagai sumber, seperti jurnal ilmiah, buku, laporan pemerintah, dan artikel berita yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik subsidi BBM tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga, tetapi juga disebabkan oleh distribusi subsidi yang tidak tepat sasaran, lemahnya pengawasan, rendahnya transparansi, serta kurang optimalnya komunikasi pemerintah kepada masyarakat. Respons masyarakat terhadap kebijakan subsidi BBM ditunjukkan melalui demonstrasi, kritik di media sosial, hingga perubahan pola konsumsi energi. Pemerintah telah melakukan berbagai strategi manajemen konflik, seperti pemberian bantuan sosial, digitalisasi distribusi BBM, dan komunikasi publik, namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala sehingga konflik serupa terus berulang. Dalam perspektif SDG 16, pengelolaan konflik kebijakan subsidi BBM memerlukan tata kelola pemerintahan yang lebih inklusif, transparan, partisipatif, dan responsif agar tercipta stabilitas sosial serta penguatan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan sistem distribusi subsidi, penguatan pengawasan, serta peningkatan komunikasi publik agar kebijakan subsidi BBM dapat diterapkan secara lebih efektif dan minim konflik sosial.
Analisis Strategi Mitigasi Struktural Tsunami Aceh dalam Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat dengan Metode Analytical Hierarchy Proses Lathifatil Auniyah; Winda Dwi Cahyani; Melantika Dewi Kharisma; Assyifa Syanna Zhafira Dinar Putri; Evana Clairina Heriyanto; Emilda Putri Sania; Nuh Krama Hadianto; M.Noer Falaq Al Amin
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6172

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi akibat letaknya pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, salah satunya adalah bencana tsunami. Provinsi Aceh menjadi wilayah yang sangat rentan terhadap tsunami, terutama setelah terjadinya gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 yang menimbulkan kerusakan besar serta korban jiwa dalam jumlah tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prioritas kebijakan mitigasi bencana tsunami yang paling efektif di Aceh menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui penyusunan hierarki keputusan yang terdiri atas tujuan, kriteria, dan alternatif kebijakan. Kriteria yang digunakan meliputi anggaran, keberlanjutan, dampak, dan waktu pengerjaan, sedangkan alternatif kebijakan terdiri dari pembangunan infrastruktur dan pengembangan sarana kesiapsiagaan, pemasangan sirine Tsunami Early Warning System (TEWS) dan penanaman mangrove, serta optimalisasi tata ruang dan relokasi berbasis zonasi risiko. Hasil analisis menunjukkan bahwa kriteria dampak memiliki bobot tertinggi sebesar 0,43, diikuti keberlanjutan sebesar 0,33, anggaran sebesar 0,22, dan waktu pengerjaan sebesar 0,02. Berdasarkan sintesa evaluasi alternatif, kebijakan pemasangan sirine TEWS dan penanaman hutan pantai atau mangrove memperoleh nilai tertinggi sehingga menjadi alternatif prioritas dalam mitigasi tsunami di Aceh. Kebijakan tersebut dinilai mampu memberikan perlindungan yang lebih efektif dan berkelanjutan melalui kombinasi sistem peringatan dini dan perlindungan alami wilayah pesisir.
Evaluasi Manajemen Pascabencana Tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah Syaroni; Arshafa Rayya Maulidya; Christine Cicilia Sinaga; Chelomitha Dini Aprillia Putri; Mohammad Fauzan Al Angsyari; Cahyo Bagus Alfian; M. Noer Falaq Al Amin; Nuh Krama Hadianto
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6210

Abstract

Bencana tsunami yang melanda Kota Palu pada tahun 2018 menimbulkan dampak multidimensional pada aspek sosial, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi manajemen pascabencana di Kota Palu menggunakan pendekatan Build Back Better dalam kerangka Sendai Framework 2015–2030. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur melalui analisis deskriptif-analitis terhadap berbagai jurnal ilmiah, laporan resmi, serta dokumen kebijakan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi telah dilaksanakan pada berbagai sektor, meliputi pemulihan infrastruktur, sosial, ekonomi, dan tata kelola. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti koordinasi antar lembaga yang belum optimal, keterbatasan kapasitas kelembagaan, serta belum terintegrasinya pendekatan berbasis risiko dalam pembangunan daerah. Selain itu, proses pemulihan kelompok rentan, pelaku UMKM, serta penguatan mitigasi berkelanjutan masih memerlukan perhatian yang lebih konsisten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen pascabencana di Kota Palu perlu diperkuat melalui peningkatan koordinasi lintas sektor, penguatan kapasitas kelembagaan, integrasi mitigasi risiko, serta pemberdayaan masyarakat guna mewujudkan pemulihan yang tangguh dan berkelanjutan
Intergenerational Interpersonal Conflict in the Workplace at TK Aisyiyah 22 Surabaya Izza Naura Mawaddah; Astin Khoiriyah; Angeli Haura Diva Khansa; Aulia Putri; Revienda Anita Fitrie; Nuh Krama Hadianto
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6357

Abstract

Saat ini lingkungan kerja semakin diwarnai dengan keberadaan beragam generasi dengan nilai, gaya komunikasi, persepsi, dan etos kerja yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk konflik interpersonal yang muncul sebagai akibat dari perbedaan generasi antara Baby Boomers (Generasi Senior) dan Generasi Z di TK Aisyiyah 22 Surabaya, sekaligus mengidentifikasi faktor penyebab dan strategi yang digunakan untuk menyelesaikan konflik yang ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan dua informan yang dipilih secara purposif  satu dari kelompok Baby Boomers dan satu dari Generasi Z dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan analisis menggunakan model interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik antargenerasi terutama bersumber dari perbedaan gaya komunikasi, etos kerja, dan pendekatan terhadap teknologi. Baby Boomers cenderung menyukai pola kerja yang terstruktur, formal, dan berorientasi pada proses, sedangkan Generasi Z lebih mengutamakan efisiensi, fleksibilitas, dan penyelesaian tugas serta hasil yang cepat. Perbedaan ini termanifestasi dalam bentuk miskomunikasi, kesalahpahaman dalam pelaksanaan tugas, dan ketegangan interpersonal yang bersifat sementara. Meskipun demikian, konflik yang muncul umumnya dapat diselesaikan pada hari yang sama melalui komunikasi langsung, keterbukaan bersama, dan mediasi oleh kepala sekolah apabila diperlukan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konflik antargenerasi dapat dikelola secara konstruktif melalui sikap saling mengerti, kepemimpinan yang inklusif, dan budaya organisasi yang merangkul keberagaman generasi.
Konflik Sampit Dalam Perspektif Georg Simmel: Analisis Dinamika Konflik dan Integrasi Sosial Muhammad Nabil Hibatullah; Muhammad Thariq Ilham Fahmi; Rachmad Raffi Satria; Revienda Anita Fitrie; Nuh Krama Hadianto
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6593

Abstract

Konflik sosial merupakan fenomena yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat multikultural. Salah satu konflik terbesar di Indonesia adalah Konflik Sampit tahun 2001 di Kalimantan Tengah antara etnis Dayak dan Madura yang dipicu oleh ketimpangan sosial-ekonomi, persaingan sumber daya, perbedaan budaya, dan lemahnya integrasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika Konflik Sampit menggunakan perspektif teori konflik Georg Simmel. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui studi literatur dari berbagai jurnal, buku, dan dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Konflik Sampit tidak hanya menimbulkan dampak destruktif seperti korban jiwa, trauma sosial, pengungsian, dan segregasi sosial, tetapi juga memiliki fungsi konstruktif dalam memperkuat solidaritas internal dan identitas sosial kelompok. Selain itu, konflik menjadi sarana penyaluran ketegangan sosial serta membuka peluang terbentuknya integrasi sosial baru melalui rekonsiliasi pascakonflik. Dengan demikian, konflik dipahami sebagai bentuk interaksi sosial yang memiliki dimensi destruktif dan konstruktif sehingga perlu dikelola secara inklusif dan berkelanjutan untuk menciptakan stabilitas sosial yang lebih baik.
Implementasi Manajemen Bencana Angin Puting Beliung Terhadap Keselamatan Pekerja Konstruksi Gedung di Surabaya Farrel Ega Patria; Juan Sabam Gerson Sijabat; Farah Ardelia Ambarwati; Siti Sholihatul Habibah; Priscilia Bunga Margaretha; Nabilatus Sa’diyah; M.Noer Falaq Al Amin; Nuh Krama Hadianto
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i4.18233

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kerentanan pekerja konstruksi gedung di Surabaya terhadap bencana angin puting beliung serta belum optimalnya penerapan kebijakan keselamatan kerja di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji implementasi manajemen bencana dalam melindungi keselamatan pekerja konstruksi dengan menggunakan kerangka teori implementasi kebijakan Edwards III. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui pendekatan studi pustaka dengan teknik analisis deskriptif kualitatif terhadap jurnal ilmiah, regulasi, dan laporan kasus terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan belum berjalan efektif, yang tercermin pada kendala dalam aspek komunikasi, keterbatasan sumber daya, rendahnya komitmen pelaksana, serta lemahnya koordinasi dalam struktur birokrasi. Keempat aspek tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi tingkat keselamatan kerja di sektor konstruksi. Maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama terletak pada ketidakefektifan implementasi kebijakan secara sistemik. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memiliki implikasi penting dalam penguatan sistem manajemen bencana guna meningkatkan perlindungan keselamatan pekerja konstruksi.
Analisis Manajemen Pasca-Bencana dan Strategi Mitigasi Risiko: Studi Kasus Pemulihan Tragedi Kanjuruhan Malang Nabil Nazhif Fikri Ahmad; Annisa Hangesti Prihaningrum; Zeni Fradita Sari; Keisya Reydi Natasya Sifa; Ratnasari Dewi Faradilla; M. Noer Falaq Al Amin; Nuh Krama Hadianto
ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2026): ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora
Publisher : LP3M INSTITUT KH YAZID KARIMULLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/exr2jy75

Abstract

This study aims to examine post-disaster management and identify weaknesses and strategies for mitigating the risks of the Kanjuruhan Tragedy in Malang, which occurred in 2022. This incident was a non-natural disaster, caused by a failure in event management and security systems at large public events. This study employed a qualitative approach through literature review, collecting secondary data from various journals, official reports, and other relevant sources. The findings revealed that the Kanjuruhan Tragedy was caused by several key factors, such as stadium overcapacity, the use of tear gas, and weak evacuation systems and inter-agency coordination. In post-disaster management, the government has implemented several initiatives, including medical treatment, psychosocial recovery, and policy evaluation through new regulations. However, weaknesses remain in terms of risk mitigation and accountability. Therefore, a more comprehensive mitigation strategy is needed, including strengthening regulations, improving stadium safety standards, and improving peatland management to prevent similar incidents in the future.
Co-Authors Afifah Fatmala Nurlianti Ahmad Zaki Albaitul Khoiridah Fitriani Aliyah Rifdatul Nabilah Ananta Naufal Imamul Hikam Angeli Haura Diva Khansa Annisa Hangesti Prihaningrum Arshafa Rayya Maulidya Assyifa Syanna Zhafira Dinar Putri Astin Khoiriyah Aulia Putri Azzahra Anindya Krisna Putri Cahyo Bagus Alfian Chelomitha Dini Aprillia Putri Christine Cicilia Sinaga Clara Aurora Salsabila Daffa Mauludie Al Daufir Dhea Ananta Sindi Fabila Dwi Nurul Hidayah Emilda Putri Sania Emmanuel Jessica Priskilla Evana Clairina Heriyanto Fakhri Ramadhan Najmuddin Rahman Farah Ardelia Ambarwati Farrel Ega Patria Felia Noorlibna Badzlin Herdiyanto Fransiskus Samosir Hieronimus Febian Jona Hendrawan Intan Aurellia Evania Izza Naura Mawaddah Juan Sabam Gerson Sijabat Keisya Reydi Natasya Sifa Lathifatil Auniyah M Isnainah Salsabila M Noer Falaq Al Amin M. Noer Falaq Al Amin M.Noer Falaq Al Amin Maghfiroh Hefril Gatmalia Maura Alayya Nusantari Melantika Dewi Kharisma Mohammad Fauzan Al Angsyari Muhammad Ady Nursetya Muhammad Nabil Hibatullah Muhammad Naufal Firzatulloh Muhammad Nu’man Abror Muhammad Thariq Ilham Fahmi Nabil Nazhif Fikri Ahmad Nabilatus Sa’diyah Naina Vira Sakina Navy Restiani Anggita Nurlaila Nurhayati Nurhayati Oktavia Rahmadani Perdy Alfa Resal Priscilia Bunga Margaretha Rachmad Raffi Satria Rahma Fitriyani Rangga Naim Ansori Ratna Rizky Amalia Ratnasari Dewi Faradilla Ravienda Anita Fitrie Revienda Anita Fitrie Risma Dwiyana Arianty Rosalia Triana Dewi Sagita Happy Arida Sahiddna As Shiddiq Putri Argananto Siti Sholihatul Habibah Syaroni Talitha Rifqi Risqulloh Vannisha Rafa Naura Harina Vella Elfanny Meisyacharis Winda Dwi Cahyani Yusrotul Widad Sugiyanto Zahra Prima Putri Regina Zeni Fradita Sari