Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konflik dan Strategi Manajemen dalam Implementasi Hybrid Learning di Perguruan Tinggi Intan Nuruya; Friska Dwi Sabrina; Dwi Bulan Ramadhani; Muhammad Fauzzul Adhim
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8884

Abstract

Implementasi model hybrid learning yang memadukan pembelajaran tatap muka dan daring di perguruan tinggi menjadi respons penting terhadap transformasi pendidikan pada era digital. Model ini menawarkan fleksibilitas waktu, perluasan akses belajar, serta peluang pemanfaatan teknologi dalam proses akademik. Namun, penerapannya tidak selalu berjalan lancar karena memunculkan berbagai konflik, baik pada tingkat individu maupun institusional. Konflik individu tampak dalam perbedaan persepsi antara dosen dan mahasiswa mengenai efektivitas pembelajaran, tingkat interaksi, beban tugas, serta kesiapan mengikuti proses belajar berbasis teknologi. Sementara itu, konflik institusional berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur digital, ketidaksiapan sistem pendukung, dan kebijakan kampus yang belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan hybrid learning. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk-bentuk konflik yang muncul dalam implementasi hybrid learning di perguruan tinggi serta mengidentifikasi strategi manajemen konflik yang tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik paling dominan berkaitan dengan rendahnya interaksi akademik, kesenjangan kemampuan teknologi, perbedaan harapan terhadap kualitas pembelajaran, dan hambatan komunikasi antara pihak yang terlibat. Strategi manajemen konflik yang relevan meliputi kolaborasi sebagai pendekatan utama, diikuti kompromi dan akomodasi untuk menyelesaikan perbedaan kepentingan maupun kendala teknis. Selain itu, komunikasi terbuka, pelatihan teknologi, evaluasi berkala, dan kebijakan institusional yang fleksibel diperlukan agar konflik dapat dikelola secara konstruktif. Dukungan pimpinan kampus, kesiapan dosen, serta partisipasi mahasiswa juga menjadi faktor penting dalam memastikan keberhasilan penerapan strategi tersebut di lingkungan akademik. Dengan strategi yang tepat, konflik dalam hybrid learning tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga diubah menjadi peluang untuk membangun sistem pembelajaran perguruan tinggi yang lebih inklusif, adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan pada masa depan akademik.
Implementasi Program Kampung Kue Dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Kecamatan Rungkut, Surabaya Muhammad sifak Nurhidayatullah; Muhammad Fauzzul Adhim; Vella Elfanny Meisyacharis; Aisyah Lailatul Isnaini; Alisya Regitta Cahyani
EKONOMI DAN BISNIS DIGITAL Vol 5 No 1 (2026): jURNAL EKONOMI DAN BISNIS DIGITAL
Publisher : SMARTINDO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58765/ekobil.v5i1.425

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Kampung Kue dalam penyerapan tenaga kerja lokal di Kecamatan Rungkut, Surabaya. Program ini merupakan bentuk pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat yang lahir dari kondisi krisis ekonomi pasca-PHK massal, dengan menggerakkan ibu-ibu rumah tangga melalui usaha produksi kue skala UMKM. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengacu pada teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan, observasi lapangan, dan dokumentasi pada bulan April 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Kampung Kue telah berjalan cukup baik ditinjau dari keenam variabel: standar dan tujuan program telah terdefinisi jelas, komunikasi antar organisasi berjalan baik melalui pembinaan Disperdagin dan forum paguyuban, karakteristik dan disposisi pelaksana sangat positif dan adaptif, serta program terbukti mampu menyerap hampir seluruh warga kawasan melalui 63 paguyuban aktif. Namun demikian, keterbatasan modal dan kenaikan harga bahan baku menjadi hambatan utama dalam memperluas kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja tambahan. Program ini memberikan kontribusi nyata terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga dan sejalan dengan SDGs Poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.