Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Semantik (Dalalah) Sebagai Sebuah Disiplin IlmuKajian Linguistik Diakronik Puji Sumeh Pangestu; Fajar Lazuardi; Amarullah Amarullah
Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol. 2 No. 01 (2026): Qawaid: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ilmu semantik atau ‘ilm ad-dalālah merupakan salah satu cabang utama dalam linguistik yang mengkaji makna bahasa, baik pada tataran kata, frasa, klausa, kalimat, maupun dalam hubungannya dengan konteks penggunaan bahasa. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif konsep semantik, sejarah perkembangannya, objek kajiannya, serta hubungannya dengan disiplin ilmu linguistik dan nonlinguistik lainnya. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan menelaah berbagai sumber klasik dan modern yang relevan dengan kajian semantik, baik dari tradisi Arab-Islam maupun Barat. Hasil kajian menunjukkan bahwa semantik memiliki akar historis yang kuat dalam tradisi keilmuan Arab-Islam, terutama melalui kajian Al-Qur’an, balaghah, dan ushul fiqh yang menekankan relasi antara lafaz dan makna. Tokoh-tokoh seperti Sibawaih, Ibnu Jinni, al-Farabi, dan Abdul Qahir al-Jurjani memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan teori makna. Di sisi lain, tradisi Barat juga berperan penting dalam mematangkan semantik sebagai disiplin ilmiah, khususnya melalui pemikiran Michel Bréal, Ferdinand de Saussure, dan Noam Chomsky. Objek kajian semantik mencakup makna denotatif dan konotatif, relasi leksikal seperti sinonimi, antonimi, polisemi, dan hiponimi, serta makna dalam struktur kalimat dan konteks pragmatik. Kajian ini menegaskan bahwa semantik bersifat interdisipliner karena berkaitan erat dengan fonologi, morfologi, sintaksis, pragmatik, semiotika, serta bidang filsafat dan psikologi bahasa. Dengan demikian, semantik berperan penting dalam memahami bahasa sebagai sistem makna dan sebagai sarana utama komunikasi manusia.
TELAAH PERBANDINGAN KURIKULUM 2013 DAN KMA 183-184 TAHUN 2019 DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI MADRASAH TSANAWIYAH Fajar Lazuardi; Keysa Tamami; Ubaid Ridho; Maswani Maswani
Ihya al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/ihya.v11i3.27094

Abstract

This study aims to analyze the conceptual and implementive differences between the 2013 Curriculum and the 2019 Curriculum (KMA No. 183-184 of 2019) in Arabic language learning at the Madrasah Tsanawiyah level. Using a qualitative research method based on literature study, this study examines the philosophical, sociological, psychopedagogical foundations, and characteristics of the two curriculums as listed in various official documents and scientific literature. The results of the study show that the 2013 Curriculum emphasizes national standardization through the structure of Core Competencies (KI) and Basic Competencies (KD) which are standard and centralized, so that Arabic language learning tends to be oriented to structural and theoretical aspects. On the contrary, KMA 183-184 of 2019 presents a new paradigm through Learning Outcomes (CP) and Learning Objectives (TP) that are more flexible, contextual, and oriented towards communicative competence and religious moderation. The 2019 curriculum also provides more space for the use of technology, strengthening local culture, and teacher autonomy in designing learning that is relevant to the needs of students and the challenges of the Industrial Revolution 4.0 era. Thus, it can be concluded that KMA 2019 offers a more adaptive, holistic, and functional approach to learning Arabic, while responding to global demands and the development of science and technology.