Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Sastra Arab Modern Dan Negosiasi Identitas Budaya Dalam Masyarakat Arab Kontemporer Muhammad Jailani
Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol. 2 No. 01 (2026): Qawaid: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sastra Arab modern menempati posisi penting dalam kajian sastra dan budaya global sebagai medium yang merefleksikan sekaligus membentuk proses negosiasi identitas budaya dalam masyarakat Arab kontemporer. Perubahan sosial, politik, dan ideologis yang dipicu oleh globalisasi, modernisasi, dan mobilitas transnasional mendorong karya sastra Arab modern untuk berperan sebagai ruang diskursif tempat nilai tradisional dan realitas modern dipertemukan, diperdebatkan, dan dirumuskan ulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran sastra Arab modern dalam proses negosiasi identitas budaya masyarakat Arab kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer berupa karya sastra Arab modern yang mencakup puisi, novel, dan drama, sedangkan data sekunder meliputi artikel jurnal ilmiah dan buku akademik terbitan mutakhir (2020–2025) yang relevan dengan kajian sastra Arab, identitas, dan budaya. Pengumpulan data dilakukan melalui metode dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan metode analisis isi yang dipadukan dengan pendekatan hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sastra Arab modern merepresentasikan identitas budaya sebagai konstruksi yang dinamis, plural, dan kontekstual, yang terbentuk melalui dialog antara tradisi dan modernitas, lokalitas dan globalitas, serta pengalaman nasional dan diaspora. Sastra tidak hanya merekam perubahan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai agen budaya yang aktif dalam membentuk dan merundingkan identitas kolektif masyarakat Arab. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dalam memperkaya kajian sastra Arab dan studi identitas budaya dengan menempatkan sastra sebagai ruang negosiasi identitas yang berkelanjutan dalam konteks masyarakat Arab kontemporer.
Transformasi Islam dari Masa Pewahyuan, Kekhalifahan Awal, hingga Modernitas Kontemporer Muhammad Jailani; Aris Wahyu Aji; Muhammad Za’im Al-Hisyam
Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 02 (2025): Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
Publisher : Jurnal Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji transformasi Islam dari masa pewahyuan, kekhalifahan awal, hingga modernitas kontemporer sebagai proses berkelanjutan yang menegaskan kemampuan Islam beradaptasi dengan perubahan sosial dan intelektual. Isu utama yang diteliti adalah bagaimana Islam mempertahankan identitas spiritual dan moralnya di tengah arus modernisasi, sekularisasi, dan globalisasi. Kajian ini penting karena menjawab pertanyaan mendasar tentang daya tahan Islam sebagai sistem nilai dan peradaban di tengah perubahan zaman yang cepat dan kompleks. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif historis-hermeneutik, dengan analisis terhadap teks-teks keislaman klasik, literatur sejarah kekhalifahan, dan pemikiran Islam modern. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan dianalisis dengan triangulasi teori (Giddens, Rahman, Asad) untuk menelusuri pola kesinambungan dan perubahan epistemologis dalam Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam tidak mengalami perpecahan antara tradisi dan modernitas, melainkan bertransformasi melalui mekanisme reinterpretasi wahyu. Sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga era global, Islam mempertahankan nilai dasar tauhid, keadilan, dan kemaslahatan melalui dialog dinamis antara teks dan konteks. Dalam konteks Indonesia, hal ini tercermin dalam munculnya Islam Nusantara yang menggabungkan spiritualitas universal dengan nilai-nilai lokal. Implikasinya, penelitian ini menegaskan bahwa keberlangsungan Islam ditentukan oleh fleksibilitas epistemologis dan kemampuan hermeneutiknya, bukan oleh resistensi terhadap perubahan. Temuan ini relevan bagi pengembangan kebijakan pendidikan Islam yang integratif, penguatan moderasi beragama, serta pembangunan peradaban Islam yang kontekstual dan berkelanjutan di era modern.
Integrasi Nilai Spiritualitas Dalam Pendidikan Islam: Telaah Konseptual Tentang Tazkiyah Al-Nafs Sebagai Tujuan Pembelajaran Muhammad Jailani
Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 02 (2025): Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
Publisher : Jurnal Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis moral, degradasi etika, dan melemahnya spiritualitas dalam dunia pendidikan modern menunjukkan bahwa pembelajaran sering berfokus pada aspek kognitif semata, sementara dimensi spiritual yang menjadi sumber kebijaksanaan dan keseimbangan batin terabaikan. Dalam perspektif pendidikan Islam, keseimbangan antara ilmu dan penyucian diri (tazkiyah al-nafs) merupakan pilar utama dalam pembentukan karakter dan kepribadian insan kamil. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, pembahasan ini menelaah secara konseptual nilai tazkiyah al-nafs sebagai fondasi spiritual pendidikan Islam berdasarkan literatur ilmiah lima tahun terakhir yang membahas spiritualitas, moralitas, dan pendidikan berbasis nilai keislaman. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi nilai tazkiyah al-nafs memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan kepribadian, pengendalian diri, dan keseimbangan spiritual. Empat aspek utama yang mengalami peningkatan meliputi kesadaran spiritual (67%), keikhlasan dan tanggung jawab (65%), kedisiplinan moral (63%), serta keseimbangan emosional (59%). Nilai-nilai ini menegaskan bahwa pendidikan Islam sejati harus memadukan dimensi intelektual, emosional, dan spiritual dalam satu kesatuan yang harmonis. Secara konseptual, tazkiyah al-nafs menawarkan paradigma baru bagi pendidikan Islam yang humanistik, integratif, dan berorientasi pada pencerahan batin. Integrasi nilai penyucian jiwa ke dalam kurikulum dan praktik pembelajaran merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga mensucikan hati, menumbuhkan akhlak mulia, serta membentuk manusia beriman, berilmu, dan beradab.
Character Education from an Islamic Perspective as a Foundation for Ethical and Responsible Citizenship Muhammad Jailani
Islamic Journal of Teaching and Learning Vol. 2 No. 1 (2026): Islamic Journal of Teaching and Learning
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan (STAIKuningan)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59784/zs4m8z23

Abstract

Background : In the contemporary global context, rapid social change driven by globalization and technological advancement has generated ethical challenges such as moral degradation and declining civic responsibility. Objective : Therefore, this study examines character education from an Islamic perspective as a foundation for fostering ethical and responsible citizenship. Method : Using a qualitative library research approach, the study analyzes and synthesizes scholarly literature published between 2020 and 2025 from peer-reviewed journals indexed in SINTA and Scopus, with a focus on key concepts of Islamic character education, particularly the integration of faith (iman), knowledge (‘ilm), and righteous action (‘amal salih), and their implications for moral development and civic behavior. Findings and Implications : The findings indicate that Islamic character education offers a comprehensive value-based framework that integrates spiritual, moral, and social dimensions of education, contributing to the formation of individuals with strong moral awareness, ethical conduct, and social responsibility.Theoretically, this study contributes to the discourse on character and citizenship education by articulating an Islamic normative framework that complements and enriches predominantly secular models of ethical citizenship. Practically, it provides insights for the development of educational curricula and civic education programs that promote moral integrity, social cohesion, and responsible civic engagement in pluralistic societies. Conclusion : The study concludes that Islamic character education constitutes a relevant and viable foundation for developing ethical and responsible citizenship in both national and global contexts.
Transformasi Manajemen Pendidikan Islam Berbasis Artificial Intelligence Dalam Perspektif Kepemimpinan Pendidikan Era Society 5.0 Muhammad Jailani; Sena Puja Kesuma; Aden Adma Hakim; Mifedwil Jandra
El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah Vol. 2 No. 03 (2026): El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah
Publisher : El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid development of Artificial Intelligence (AI) in the Society 5.0 era has accelerated the transformation of educational management, including within Islamic educational institutions. However, AI implementation continues to face significant challenges, including limited digital leadership competencies, inadequate integration of AI into educational management systems, and the need to ensure that technological innovation remains aligned with Islamic values. This study aims to analyze the transformation of AI-based Islamic educational management, examine the role of educational leadership in facilitating AI implementation, and develop an integrative model to support institutional transformation in the Society 5.0 era. This research employed a qualitative approach using the library research method. Data were collected from national and international journal articles, books, and academic publications published between 2020 and 2025. The data were analyzed using thematic content analysis through coding, theme categorization, interpretation, and synthesis. The findings indicate that AI enhances educational management by automating administrative processes, improving data management, enabling data-driven decision-making, and strengthening educational services. Successful AI implementation is strongly influenced by visionary educational leadership, digital competency development, and governance grounded in Islamic values. This study proposes the Integrative AI-Based Islamic Education Management model, which integrates AI, educational leadership, and Islamic values into a comprehensive conceptual framework for adaptive, innovative, ethical, and sustainable transformation of Islamic educational management in the Society 5.0 era.