Anto J. Hadi
Department of Public Health, Faculty of Health, Universitas Aufa Royhan, Padangsidimpuan, North Sumatera, Indonesia

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Peran Pola Makan Berisiko Sebagai Prediktor Obesitas: Studi Observasional pada Kelompok Remaja di Kota Padangsidimpuan Anto J. Hadi; Lucy Widasari; Hapiz Arlanda Sani; Erni Yetti R; Zadrak Tombeg; Saskiyanto Manggabarani
Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition Vol. 1 No. 1 (2026): Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/jmphlwn.v1i1.102

Abstract

Obesitas remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, perilaku, dan lingkungan. Pola makan berisiko ditandai oleh tingginya konsumsi makanan padat energi (gorengan/fast food), minuman berpemanis, makanan ultra-proses, serta rendahnya konsumsi serat dari buah dan sayur diperkirakan berperan sebagai prediktor utama terjadinya obesitas. Bukti lokal berbasis komunitas diperlukan untuk memetakan faktor diet yang paling berkontribusi pada risiko obesitas remaja di Kota Padangsidimpuan. Menganalisis peran pola makan berisiko sebagai prediktor kejadian obesitas pada kelompok remaja di Kota Padangsidimpuan. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain observasional potong lintang pada remaja di Kota Padangsidimpuan. Sampel diperoleh menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah responden (n=136). Data pola makan dikumpulkan menggunakan kuesioner frekuensi konsumsi/food frequency questionnaire (FFQ) dan diklasifikasikan menjadi pola makan berisiko rendah dan tinggi berdasarkan skor standar angka kecukupan gizi. Status obesitas ditentukan melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) dan dikategorikan menggunakan indikator IMT menurut umur (IMT/U) dengan rujukan standar WHO. Analisis mencakup univariat, uji bivariat (Chi-square), serta regresi logistik untuk memperoleh prevalence odds ratio (POR) dan 95%CI (α=0,05). Proporsi remaja dengan pola makan berisiko tinggi sebesar (64,0%) dan prevalensi obesitas sebesar (50,0%). Pola makan berisiko tinggi berhubungan bermakna dengan obesitas (p<0,05) dan tetap menjadi prediktor setelah pengendalian kovariat utama jenis kelamin dengan POR (14,22; 95% CI 4,66–43,45). Pola makan berisiko merupakan prediktor penting kejadian obesitas pada remaja di Kota Padangsidimpuan. Disarankan penguatan edukasi gizi, pembatasan konsumsi minuman berpemanis dan makanan ultra-proses, peningkatan akses buah-sayur, serta intervensi berbasis sekolah dan keluarga untuk membentuk kebiasaan makan sehat. Kata kunci: Pola Makan Berisiko; Obesitas; Remaja; Prediktor; IMT/U.
Pengetahuan K3 dan Kepatuhan Keselamatan terhadap Perilaku Berkendara Siswa SMA di Padangsidimpuan: Cross-Sectional Study Nayodi Permayasa; Anto J. Hadi; Lucy Widasari; Asdi Lastari; Saskiyanto Manggabarani; Syamsopyan Ishak
Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition Vol. 1 No. 1 (2026): Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/jmphlwn.v1i1.103

Abstract

Tingginya penggunaan kendaraan bermotor oleh siswa SMA meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas. Rendahnya perilaku berkendara aman pada remaja menunjukkan perlunya kajian terkait faktor-faktor yang memengaruhi keselamatan berkendara, khususnya pengetahuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), sikap, dan kepatuhan terhadap keselamatan berkendara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan K3, sikap terhadap keselamatan berkendara, dan kepatuhan keselamatan terhadap perilaku berkendara aman pada siswa SMA di Kota Padangsidimpuan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional study. Populasi penelitian adalah siswa SMA di Kota Padangsidimpuan yang menggunakan kendaraan bermotor, dengan jumlah sampel sebanyak 96 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan K3, sikap terhadap keselamatan berkendara, dan kepatuhan keselamatan berkendara berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku berkendara aman pada siswa SMA (p < 0,05). Pengetahuan K3, sikap positif, dan kepatuhan keselamatan berkendara merupakan faktor penting dalam membentuk perilaku berkendara aman pada siswa SMA. Diperlukan upaya edukasi keselamatan berkendara yang komprehensif dan berkelanjutan untuk menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas pada kelompok pelajar. Kata kunci: pengetahuan K3; sikap keselamatan; kepatuhan keselamatan; perilaku berkendara; siswa SMA
Keragaman Jenis Fast Food Sebagai Indikator Konsumsi Fast Food Remaja: Cross Sectional Study Anto J. Hadi; Lucy Widasari; Asdi Lastari; Saskiyanto Manggabarani; Syamsopyan Ishak; Nayodi Permayasa
Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition Vol. 1 No. 1 (2026): Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/jmphlwn.v1i1.104

Abstract

Konsumsi fast food pada remaja meningkat seiring perubahan lingkungan pangan, kemudahan akses, dan paparan pemasaran makanan tidak sehat. Secara global, pola konsumsi makanan tidak sehat pada anak dan remaja juga dipengaruhi agresivitas pemasaran dan ketersediaan pilihan makanan berdampak pada kenaikan prevalensi overweight dan obesitas pada anak dan remaja. Menganalisis hubungan keragaman jenis fast food dengan konsumsi fast food pada remaja. Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study pada 86 remaja di Kelurahan Batunadua Julu Kota Padangsidimpuan serta pengambilan sampel secara accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner penelitian. Analisis data menggunakan uji Chi-square (α=0,05). Responden didominasi laki-laki (54,7%) dan usia 12-13 tahun (52,3%), serta keragaman jenis fast food ditemukan hubungan kuat dengan konsumsi fast food pada remaja dengan nilai p (0,000) < 0,05. Konsumsi fast food pada remaja dipengaruhi oleh keragaman jenis fast food. Sehingga perlu memperkuat kebijakan lingkungan pangan di masyarakat  seperti pembatasan promosi penjualan makanan tidak sehat, edukasi gizi dan literasi media. Kata kunci: Remaja; Konsumsi Fast Food; Pemasaran Makanan; Edukasi Gizi.
Implementasi Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) dalam Menurunkan Risiko Kecelakaan Kerja Tenaga Kesehatan: Studi Cross-Sectional Asdi Lastari; Anto J. Hadi; Lucy Widasari; Saskiyanto Manggabarani; Syamsopyan Ishak; Nayodi Permayasa
Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition Vol. 1 No. 1 (2026): Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/jmphlwn.v1i1.105

Abstract

Rumah sakit merupakan lingkungan kerja dengan tingkat risiko tinggi terhadap kecelakaan kerja, khususnya pada tenaga kesehatan yang terpapar berbagai bahaya kerja. Upaya pengendalian risiko kecelakaan kerja dilakukan melalui penerapan program keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit (K3RS), namun implementasinya di berbagai rumah sakit masih menunjukkan variasi. Menganalisis hubungan implementasi Program K3RS dengan risiko kecelakaan kerja tenaga kesehatan di RSUD Padangsidimpuan. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study pada 67 tenaga kesehatan di RSUD Padangsidimpuan dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner penelitian dan dianalisis menggunakan uji Chi-square (α = 0,05). Responden didominasi oleh perempuan (56,7%) dan kelompok usia >30 tahun (56,7%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara implementasi Program K3RS dengan risiko kecelakaan kerja tenaga kesehatan dengan nilai p = 0,002 (< 0,05). Risiko kecelakaan kerja tenaga kesehatan dipengaruhi oleh implementasi Program K3RS. Oleh karena itu, diperlukan penguatan penerapan K3RS melalui peningkatan komitmen manajemen, pelatihan keselamatan kerja, pengawasan penggunaan alat pelindung diri, serta pengembangan budaya keselamatan kerja di rumah sakit. Kata kunci: K3RS; Kecelakaan Kerja; Tenaga Kesehatan; Rumah Sakit.
Implementasi K3 dalam Kegiatan Tanggap Darurat Bencana Banjir Bandang oleh Petugas Relawan Muhammad Riswal; Anto J. Hadi; Lucy Widasari; Asdi Lastari; Saskiyanto Manggabarani; Syamsopyan Ishak; Nayodi Permayasa
Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition Vol. 1 No. 1 (2026): Journal Malnutrition, Public Health and Local Wisdom Nutrition
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/jmphlwn.v1i1.106

Abstract

Banjir bandang dikategorikan sebagai bencana alam yang menimbulkan ancaman substansial terhadap kesejahteraan dan status kesehatan para relawan yang berpartisipasi dalam respons tanggap darurat bencana. Lingkungan yang tidak bersahabat, kondisi yang tidak pasti, serta defisit perlengkapan dan fasilitas meningkatkan potensi risiko cedera kerja dan kondisi medis terkait pekerjaan di kalangan relawan. Integrasi Prinsip-prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sangat krusial untuk menjaga keamanan relawan serta menjamin efisiensi operasi penanggulangan bencana. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan K3 dalam upaya respons darurat terhadap banjir bandang yang dilakukan oleh tenaga relawan. Pendekatan metodologis yang diadopsi melibatkan tinjauan literatur komprehensif terhadap publikasi jurnal ilmiah, buku, laporan dari badan nasional dan internasional, serta kerangka hukum yang relevan dengan K3 dan manajemen bencana. Studi tersebut mengindikasikan bahwa penerapan prinsip-prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melibatkan identifikasi potensi bahaya dan evaluasi risiko, pemanfaatan perangkat pelindung diri, program pelatihan bagi sukarelawan, pengelolaan jadwal kerja dan periode istirahat, serta mekanisme kolaborasi yang efisien. Temuan riset ini menggarisbawahi bahwa komitmen terhadap K3 yang terstruktur dan kontinu mutlak diperlukan untuk mereduksi potensi ancaman dalam tugas relawan dan mengoptimalkan keberhasilan misi respons bencana banjir bandang. Kata kunci: Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Tanggap Darurat, Banjir Bandang, Relawan.
Stunting Prevention Behavior for Children Under Five Years of Age Based on Integrated Nutrition Education with Local Culture MARTABE: A Quasi Experiment Yuli Arisyah Siregar; Nurhalimah Batubara; Anto J. Hadi; Haslinah Ahmad
Journal of Public Health and Pharmacy Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Teknologi Informasi dan Jurnal Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jphp.v5i3.6675

Abstract

Introduction: Stunting is a serious problem in public health, especially in children under five years old. The nutrition education program integrated with the local culture of MARTABE Batak Angkola Tribe can effectively prevent stunting in children under five years old. This study aims to assess the influence of nutrition education programs integrated with local culture on stunting prevention behavior. Methods: The study was conducted with a quasi-experimental design. Sampling was carried out by purposive sampling. The sample was divided into two groups: the intervention group that will be given the MARTABE local cultural integrated nutrition education program and the control group that did not receive the intervention. The intervention group was given a MARTABE local cultural integrated nutrition education program as a module, while the control group only received ordinary education through a leaflet. The local culture-based nutrition education program was carried out for 6 weeks, which included counseling on balanced nutrition, the benefits of local food, and ways to prevent stunting. Data was collected through questionnaires and observations. Data analysis used statistical techniques such as paired t-test, chi-square, and hoteling test. Results: The results showed that both the intervention and control groups had a significant influence on knowledge (p=0.002), attitude (p=0.000), action (p=0.001), and behavior (p=0.000) after being given nutrition education integrated with MARTABE's local culture. Hotelling's Trace values for overall behavior change showed significant results (F=5794,811, p=0.000). This shows a significant difference in the behavior of caregivers under five between before and after the intervention. In other words, local culture-based nutrition education programs effectively influence changes in the behavior of caregivers under five years old. Conclusion: Nutritional education integrated with local culture improves knowledge, attitudes, actions, and behaviors concerning stunting prevention in children under five. Therefore, this approach can be used as an intervention model in stunting prevention in Indonesia.
Stunting Prevention of Elementary School Children Based on Nutrition Education Peer Group: A Quasy Experimental Nurhalimah Batubara; Yuli Arisyah Siregar; Anto J. Hadi; Haslinah Ahmad; Adi Antoni; Abdullah A.A
Journal of Public Health and Pharmacy Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Teknologi Informasi dan Jurnal Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jphp.v5i3.6683

Abstract

Introduction: Stunting in elementary school children is a nutritional problem that impacts physical and cognitive development. One of the main factors causing stunting is the lack of knowledge, attitudes, and appropriate actions in maintaining children's nutrition. Objective: This study aims to evaluate the effectiveness of peer group-based nutrition education in preventing stunting in elementary school children. Methods: A type of quantitative research with a quasi-experimental design with experimental and control groups in two primary schools. The sample was selected by purposive sampling consisting of a treatment group and a control group of 30 samples each. The intervention was carried out for three months and was carried out in 6 meeting sessions for 3 weeks. Each session is held for 60 minutes and is guided by a facilitator who is trained through a nutrition education program carried out by peer students with materials that include the importance of nutritious diets, healthy living behaviors, and stunting with the media of nutrition posters and leaflets, every month children are monitored using modified food recalls. Data were analyzed using paired t-test and chi-square test to compare the difference before and after the intervention. Results: This study found a significant improvement in nutrition-related knowledge, attitudes, and actions in the experimental group compared to the control group (p=0.001<0.05). Conclusion: This study proves that peer group-based nutrition education programs effectively increase knowledge, attitudes, and actions that can prevent stunting in elementary school children. Based on these findings, it is recommended to expand the application of similar interventions in schools to reduce the prevalence of stunting.
Key Determinants of Tuberculosis Prevention Behaviors Among Families in Indonesia: A Cross-Sectional Study Analysis Hapiz Arlanda Sani; Anto J. Hadi; Herman Hatta
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v8i2.6860

Abstract

Introduction: Tuberculosis (TB) is one of the infectious diseases that is still a global health problem, including in Indonesia. TB prevention requires the active role of the family as the smallest unit of society to create a supportive environment. Studies of TB prevention behaviors in families are important to understand the factors influencing prevention success. Objective: This study analyzes factors related to TB prevention behavior in families. Methods: This study used a cross-sectional study design involving 129 families with family members with a history of TB in the Batunadua Health Center working area in Padangsidimpuan City, selected by purposive sampling. Data was collected through a structured questionnaire. Data analysis was conducted using the chi-square and logistic regression tests to see the relationship between the variables and the most meaningful variables. Results: This study found that knowledge about TB (p=0.001), access to health services (p=0.001), social and cultural environment (p=0.001), and personal health experiences (p=0.001) were related to TB prevention behavior in families. Meanwhile, the variable most related to TB prevention behavior is knowledge about TB Exp (B) = 46.888. Conclusion: This study concludes that TB prevention behavior in families is influenced by factors such as knowledge about TB, access to health services, social and cultural environment, and personal health experience, which have a significant relationship. Of the four variables, knowledge about TB is the most dominant factor influencing TB prevention behavior. Therefore, health education campaigns must be a priority, focusing on increasing family knowledge about TB through easily accessible media, such as counseling, social media, and pamphlets.
The Role of the Family in Preventing Child Wasting: A Systematic Literature Review Anto J. Hadi; Lucy Widasari; Hapiz Arlanda Sani; Erni Yetti R; Zadrak Tombeg; Saskiyanto Manggabarani
Science Publication: Journal of Public Health and Nutrition Vol. 2 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : PT Yapindo Jaya Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64965/spjphn.v2i1.41

Abstract

ABSTRACT Wasting is one of the public health nutrition problems in developing countries including South Asia, Africa, and Indonesia. This condition can lead to an increased risk of death in children under five years of age and affect their physical and cognitive development. Research shows that in addition to nutritional factors, the role of the family, including parenting, feeding, and social support, plays a significant role in preventing and overcoming wasting in children. This systematic literature review aims to explore the role of families in wasting prevention in children, focusing on factors that may influence the incidence of wasting. This study used a systematic literature review (SLR) approach by searching for relevant articles from various academic databases such as scopus. The selected articles analyzed family factors that contribute to the occurrence of wasting in children, including the role of mothers, parental education, household economic status, and the role of social support. Data were collected from various surveys and studies in countries with high prevalence of wasting, including countries in South Asia and Africa. The results of the analysis showed that family factors such as the mother's education level, nutritional knowledge, good parenting, and access to health facilities played a significant role in the prevention of wasting in children. In addition, families with low socio-economic status and limited access to clean water and poor sanitation are more at risk of wasting events. Some effective family-based interventions include providing nutrition education to parents, supplemental feeding programs, and increased social support for high-risk families. The role of the family is very important in the prevention of wasting in children, especially through the improvement of parenting behavior and nutritious feeding. Wasting prevention programs need to actively involve families by providing nutrition education, as well as providing adequate social support and health facilities. Multisectoral interventions involving the health, sanitation, and education sectors must be strengthened to achieve more effective reduction in the prevalence of wasting. Keywords: prevention of wasting, role, family, children, social support, parenting behavior