Agus Wahyudi
Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Maqashid-Based Framework for Islamic Digital Economy Transformation in Indonesia Agus Wahyudi; Abdurrohman Kasdi; Abu Choir
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0058

Abstract

The global digital economic transformation is reshaping financial systems and compelling Islamic economics to adapt while preserving its foundational ethical principles. This study examines strategies for integrating Islamic economic values into Indonesia’s digital economy, focusing on challenges related to digital literacy, regulatory fragmentation, technological infrastructure, and the operationalization of maqashid al-sharia. A systematic literature review was conducted using a critical synthesis of peer-reviewed journal articles, books, and contemporary policy documents to map emerging patterns within Islamic digital finance discourse. The findings show that the digitalization of Islamic finance—particularly through fintech innovations and digital banking—has contributed significantly to financial inclusion and the expansion of halal MSMEs. Rather than treating challenges as isolated phenomena, this study integrates them into a maqashid-based evaluative framework and introduces the concept of “maqashid fragmentation” to describe the misalignment between ethical objectives, technological design, and regulatory structures in Islamic fintech ecosystems. The analysis further demonstrates that maqashid al-sharia can function as a normative and strategic framework that aligns digital efficiency with Islamic ethical imperatives. This study highlights that sustainable development of Islamic economics in the digital era requires coordinated collaboration among government, industry, and academia through a triple helix approach to strengthen literacy, improve regulatory coherence, and expand inclusive infrastructure. The main contribution lies in offering a conceptual roadmap that advances Islamic economics as a viable framework for equitable and sustainable development in the digital age. Kerangka Berbasis Maqashid untuk Transformasi Ekonomi Digital Islam di Indonesia. Transformasi ekonomi digital global telah mengubah struktur sistem keuangan dan mendorong ekonomi Islam untuk beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip etika fundamentalnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi integrasi nilai-nilai ekonomi Islam dalam ekonomi digital Indonesia, dengan menyoroti tantangan literasi digital, fragmentasi regulasi, infrastruktur teknologi, serta operasionalisasi maqashid syariah. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review melalui sintesis kritis terhadap artikel jurnal bereputasi, buku akademik, dan dokumen kebijakan terkini untuk memetakan perkembangan kajian ekonomi digital Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi keuangan syariah, khususnya melalui inovasi fintech dan perbankan digital, telah berkontribusi signifikan terhadap perluasan inklusi keuangan serta penguatan UMKM halal. Alih-alih memandang tantangan secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan berbagai persoalan tersebut ke dalam kerangka evaluatif berbasis maqashid syariah serta memperkenalkan konsep “fragmentasi maqashid” untuk menggambarkan ketidaksesuaian antara tujuan etika Islam, desain teknologi, dan struktur regulasi dalam ekosistem fintech syariah. Lebih lanjut, maqashid syariah diposisikan sebagai kerangka normatif dan strategis yang mampu menyelaraskan efisiensi digital dengan nilai-nilai etika ekonomi Islam. Penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan ekonomi Islam di era digital memerlukan kolaborasi terkoordinasi antara pemerintah, industri, dan akademisi melalui pendekatan triple helix untuk memperkuat literasi, menyempurnakan regulasi, dan membangun infrastruktur yang inklusif. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyusunan peta jalan konseptual untuk memperkuat peran ekonomi Islam dalam mendukung pembangunan yang adil dan berkelanjutan di era digital
Transformasi Tradisi Dandangan di Kudus: Adaptasi Kreatif, Negosiasi Budaya, dan Ketahanan Identitas dalam Perspektif Teori Bourdieu Agus Wahyudi; Dewi Ulya Mailasari; Moh. Rosyid; Mas'udi Mas'udi
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.104852

Abstract

Transformasi bentuk ritual keagamaan menjadi festival budaya sering kali dianggap sebagai desakralisasi. Namun, studi tentang Tradisi Dandangan di Kudus, Jawa Tengah ini, mengungkap dinamika yang lebih kompleks. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan Dandangan dari ritual penanda awal Ramadhan menjadi festival sosio-kultural dalam perspektif teori Bourdieu. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan etnografi kritis, sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif serta wawancara mendalam dengan sepuluh partisipan di antaranya dari tokoh agama dan pedagang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di balik komersialisasi yang berjalan secara massif di masa sekarang, masyarakat Kudus aktif menegosiasi makna tradisi Dandangan dengan tetap mempertahankan esensi spiritual  dari tradisi tersebut. Filosofi Gusjigang (“Bagus, Ngaji, Dagang”) berfungsi sebagai habitus kolektif sehingga memungkinkan adaptasi kreatif terhadap modernitas tanpa kehilangan identitas. Dandangan dipetakan sebagai arena pertarungan modal simbolik, budaya, sosial, ekonomi antara aktor agama, pemerintah, dan pedagang melalui kerangka Pierre Bourdieu.  Secara teoretis, temuan ini menawarkan model adaptasi kreatif yang melampaui narasi linier desakralisasi dan menegaskan relevansi teori Bourdieu dalam menjelaskan transformasi tradisi di Indonesia. Implikasinya, model ini dapat menjadi rujukan bagi kebijakan pelestarian warisan budaya yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan nilai spiritual. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan ketahanan tradisi lokal di tengah arus modernitas.