Deki Ridho Adi Anggara
University of Darussalam Gontor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ru’yatu Allâh Perspektif Mu’tazilah dan Ahl al-Sunnah Wa al-Jamâ’ah (Studi Komparatif Tafsîr al-Kassyâf Karya al-Zamakhsyary dan Mafâtīḥ al-Ghayb Karya al-Râzî) Deki Ridho Adi Anggara
Studia Quranika Vol. 3 No. 2 (2019): January
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Para mufassir berbeda pendapat mengenai ayat-ayat ru’yatullah. Mufassir Mu’tazilah menyatakan bahwa Allah mustahil dapat dilihat. Sementara mayoritas muffasir Sunni menetapkan bahwa Allah dapat dilihat. Seorang mufassir dari penganut Mu’tazilah adalah al-Zamakhsyary, sementara mufassir dari penganut Sunni adalah al-Râzî. Letak permasalahannya adalah latar belakang yang mendorong perbedaan penafsiran antara al-Zamakhsyary dan al-Râzî dalam menafsirkan ayat-ayat ru’yatullah. Latar belakang yang mendorong perbedaan penafsiran antara al-Zamakhsyary dan al-Râzî adalah perjalanan kehidupan keduanya. Dari sisi kehidupan al-Zamakhsyary dibesarkan dilingkungan Mu’tazilah, sedangkan al-Râzî hidup pada masa penuh dengan pertikaian pemikiran idiologi Sunni dengan Mu’tazilah. Kemudian dalam Latar belakang pendidikan, al-Zamakhsyary berguru pada ulama Mu’tazilah dan ulama dengan mazhab Hanafi serta ahli bahasa, sedangkan al-Râzî berguru kepada ayahnya yang ahli fiqih dan bermazhab al-Shâfi’i dan ulama yang berakidah al-Asy’ary serta banyak belajar karya-karya filsafat Muslim. Sehingga tentang ru’yatullah al-Zamakhsyary berpendapat bahwa ru’yatullah tidak dapat terjadi kapanpun, dimanapun, oleh siapapun. Sedangkan al-Râzî meyakini ru’yatullah dapat terjadi kelak di akhirat, sementara di dunia bisa saja terjadi namun karena kelemahan potensi penglihatan maka Allah belum dapat dilihat.
Rhetorical Coherence and Eco-Theological Meaning in Qur’anic Water Verses: A Disciplined Semitic Rhetorical Analysis Aqdi Rofiq Asnawi; Mahmud Rifaannudin; Deki Ridho Adi Anggara; Oky Ayu Agustin
Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis Vol. 27 No. 1 (2026): Januari
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/qh.v27i1.6716

Abstract

Too often, eco-theological readings of Qur’anic water verses outrun the text—because structural claims are made without a disciplined, transparent, and auditable method. This article examines whether Semitic Rhetorical Analysis (SRA) can serve as an audit-able tool for reading Qur’anic water passages in a way that disciplines ecological inference. Focusing on Q 23:18–19 and Q 25:48–49, it asks how rhetorical segmentation and parallelism clarify the internal logic of the verses beyond atomistic citation. Using qualitative library-based research, the study applies Meynet’s SRA procedure (segmenting the text, identifying correspondences, and mapping inter-unit relations) and then compares the resulting structure with thematic Qur’anic-ecological readings on water, balance (mīzān), and stewardship (khalīfah). The analysis shows that SRA makes visible a coherent argumentative sequence—sending down water, settling it, and directing its benefits—that frames water as an entrusted measure rather than a merely descriptive sign. It also constrains interpretive overreach by requiring each ecological claim to be traceable to a demonstrable textual relation, while still supporting an ethic of restraint and care. Overall, the article indicates that rhetorical-structural analysis can strengthen eco-tafsīr by providing a replicable pathway from textual structure to ethical inference.