Deki Ridho Adi Anggara
University of Darussalam Gontor

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Ru’yatu Allâh Perspektif Mu’tazilah dan Ahl al-Sunnah Wa al-Jamâ’ah (Studi Komparatif Tafsîr al-Kassyâf Karya al-Zamakhsyary dan Mafâtīḥ al-Ghayb Karya al-Râzî) Deki Ridho Adi Anggara
Studia Quranika Vol. 3 No. 2 (2019): January
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Para mufassir berbeda pendapat mengenai ayat-ayat ru’yatullah. Mufassir Mu’tazilah menyatakan bahwa Allah mustahil dapat dilihat. Sementara mayoritas muffasir Sunni menetapkan bahwa Allah dapat dilihat. Seorang mufassir dari penganut Mu’tazilah adalah al-Zamakhsyary, sementara mufassir dari penganut Sunni adalah al-Râzî. Letak permasalahannya adalah latar belakang yang mendorong perbedaan penafsiran antara al-Zamakhsyary dan al-Râzî dalam menafsirkan ayat-ayat ru’yatullah. Latar belakang yang mendorong perbedaan penafsiran antara al-Zamakhsyary dan al-Râzî adalah perjalanan kehidupan keduanya. Dari sisi kehidupan al-Zamakhsyary dibesarkan dilingkungan Mu’tazilah, sedangkan al-Râzî hidup pada masa penuh dengan pertikaian pemikiran idiologi Sunni dengan Mu’tazilah. Kemudian dalam Latar belakang pendidikan, al-Zamakhsyary berguru pada ulama Mu’tazilah dan ulama dengan mazhab Hanafi serta ahli bahasa, sedangkan al-Râzî berguru kepada ayahnya yang ahli fiqih dan bermazhab al-Shâfi’i dan ulama yang berakidah al-Asy’ary serta banyak belajar karya-karya filsafat Muslim. Sehingga tentang ru’yatullah al-Zamakhsyary berpendapat bahwa ru’yatullah tidak dapat terjadi kapanpun, dimanapun, oleh siapapun. Sedangkan al-Râzî meyakini ru’yatullah dapat terjadi kelak di akhirat, sementara di dunia bisa saja terjadi namun karena kelemahan potensi penglihatan maka Allah belum dapat dilihat.