Perkembangan media sosial dan budaya konsumtif di era digital telah memunculkan fenomena flexing dan perilaku hedonisme di kalangan mahasiswa. Flexing dipahami sebagai tindakan mempertontonkan kekayaan, gaya hidup, maupun pencapaian tertentu untuk memperoleh pengakuan sosial, sedangkan hedonisme merupakan pola hidup yang berorientasi pada kesenangan dan kepuasan material. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku flexing dan hedonisme mahasiswa dalam perspektif nilai-nilai pendidikan Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui studi kepustakaan, observasi sosial, serta analisis terhadap fenomena yang berkembang di lingkungan mahasiswa dan media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku flexing dan hedonisme dipengaruhi oleh faktor lingkungan pergaulan, perkembangan teknologi digital, kebutuhan akan eksistensi diri, serta rendahnya pemahaman nilai spiritual dan moral. Dalam perspektif pendidikan Islam, perilaku tersebut bertentangan dengan nilai kesederhanaan (zuhud), rendah hati (tawadhu’), syukur, serta prinsip keseimbangan dalam kehidupan. Pendidikan Islam menekankan pentingnya pembentukan karakter, pengendalian diri, dan pemanfaatan harta secara bijaksana agar mahasiswa tidak terjebak dalam budaya pamer dan gaya hidup berlebihan. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai pendidikan Islam menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran moral dan spiritual mahasiswa di tengah tantangan modernisasi dan perkembangan media sosial.