Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Visualisasi Alam Ghaib: Mekanisme Istiarah dan Kontribusi Imajinasi Eskatologi dalam Shahih Bukhari dan Muslim Aang Saeful Milah; Muhammad Faqih Choiruddin; Clarisa Aulia Dewi; Anisa Fitriyani; Ilhamiyatul Hidayah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7164

Abstract

Bahasa agama sering kali menghadapi tantangan epistemologis dalam menjembatani kognisi manusia yang terbatas dengan realitas metafisika yang absolut, khususnya dalam narasi eskatologi. Penelitian ini bertujuan untuk membedah mekanisme Istiarah (metafora) sebagai instrumen konstruksi imajinasi alam ghaib dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan retoris-hermeneutik berbasis kerangka Ilmu al-Bayan, penelitian ini melakukan analisis mikro-struktural terhadap hadis-hadis eskatologi pilihan yang memiliki intensitas visual tinggi. Data dikumpulkan melalui teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan metode dekonstruksi unsur retoris (Musta’ar Minhu, Musta’ar Lahu, Alaqah, dan Qarinah). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa narasi eskatologi dalam Sahih Bukhari dan Muslim secara dominan menggunakan Istiarah Makniyyah (50%) dan Istiarah Tamtsiliyyah (30%) untuk mentransformasikan konsep abstrak menjadi citraan konkret. Temuan spesifik menunjukkan bahwa personifikasi kematian sebagai entitas biologis dan animasi fenomena alam (seperti napas neraka dan sujudnya matahari) berfungsi sebagai visualizing agent yang mereduksi kompleksitas ontologis menjadi skema pengalaman duniawi. Hal ini membuktikan bahwa mekanisme Istiarah bekerja melalui pemetaan fungsional yang memungkinkan audiens membangun peta mental yang jelas mengenai realitas transenden. Implikasi teoretis dari penelitian ini memperluas fungsi Balagah klasik dari sekadar hiasan stilistika menjadi epistemologi visualisasi iman, sementara secara praktis memberikan kerangka interpretatif baru bagi pengajaran hadis agar terhindar dari bias literalisme kaku. Penelitian ini menegaskan posisi retorika kenabian sebagai mahakarya kognitif yang mengintegrasikan estetika linguistik dengan kedalaman teologis dalam diskursus akademik internasional.Bahasa agama sering kali menghadapi tantangan epistemologis dalam menjembatani kognisi manusia yang terbatas dengan realitas metafisika yang absolut, khususnya dalam narasi eskatologi. Penelitian ini bertujuan untuk membedah mekanisme Istiarah (metafora) sebagai instrumen konstruksi imajinasi alam ghaib dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan retoris-hermeneutik berbasis kerangka Ilmu al-Bayan, penelitian ini melakukan analisis mikro-struktural terhadap hadis-hadis eskatologi pilihan yang memiliki intensitas visual tinggi. Data dikumpulkan melalui teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan metode dekonstruksi unsur retoris (Musta’ar Minhu, Musta’ar Lahu, Alaqah, dan Qarinah). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa narasi eskatologi dalam Sahih Bukhari dan Muslim secara dominan menggunakan Istiarah Makniyyah (50%) dan Istiarah Tamtsiliyyah (30%) untuk mentransformasikan konsep abstrak menjadi citraan konkret. Temuan spesifik menunjukkan bahwa personifikasi kematian sebagai entitas biologis dan animasi fenomena alam (seperti napas neraka dan sujudnya matahari) berfungsi sebagai visualizing agent yang mereduksi kompleksitas ontologis menjadi skema pengalaman duniawi. Hal ini membuktikan bahwa mekanisme Istiarah bekerja melalui pemetaan fungsional yang memungkinkan audiens membangun peta mental yang jelas mengenai realitas transenden. Implikasi teoretis dari penelitian ini memperluas fungsi Balagah klasik dari sekadar hiasan stilistika menjadi epistemologi visualisasi iman, sementara secara praktis memberikan kerangka interpretatif baru bagi pengajaran hadis agar terhindar dari bias literalisme kaku. Penelitian ini menegaskan posisi retorika kenabian sebagai mahakarya kognitif yang mengintegrasikan estetika linguistik dengan kedalaman teologis dalam diskursus akademik internasional.
DIGITALISASI HADITS: PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN DI ERA MODERN Ilhamiyatul Hidayah; Endad Musaddad
Amsal Al-Qur’an: Jurnal Al-Qur’an dan Hadis Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Yayasan Baitul Hikmah al-Zain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63424/amsal.v2i2.361

Abstract

This article examines hadith digitalization as both an epistemological shift and a technological transformation that reshapes how Muslims engage with prophetic traditions in the modern age. Through a qualitative literature-based approach, the study traces the evolving forms of digital hadith representation, ranging from e-books and mobile applications to takhrij software and social media platforms. It analyzes how these digital spaces reconfigure the frameworks of transmission, authentication, and interpretation. The findings reveal that digitalization greatly enhances public access to hadith literature, democratizes textual dissemination, and enables faster, more flexible learning across geographic boundaries. However, these benefits are counterbalanced by emerging risks such as the proliferation of fabricated hadiths, the erosion of traditional scholarly authority, and the algorithmic bias that privileges viral content over verified religious knowledge. The study argues that hadith digitalization is not merely a change in medium, but a redefinition of the epistemic landscape—one that demands ethical safeguards, robust digital religious literacy, and strategic collaboration between scholars and technologists to ensure that the transmission of prophetic knowledge remains authentic, contextually relevant, and epistemologically sound in today’s interconnected world.