Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendidikan Agama Islam dalam Arus Perubahan: Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Iskandar Mirza; Aep Saepullah; Siti Fathonah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7832

Abstract

Studi ini secara kritis mengkaji urgensi rekonstruksi paradigma Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam merespons percepatan transformasi global yang ditandai oleh disrupsi digital, pergeseran epistemologis, dan rekonfigurasi sosial-budaya yang kompleks (Azra, 2022; Muhaimin, 2023). Dalam era kontemporer, pendidikan tidak lagi terbatas pada transmisi pengetahuan, tetapi semakin dituntut untuk merespons ketidakpastian, ambiguitas etis, dan cepatnya arus informasi dalam ekosistem digital yang terus membentuk ulang cara berpikir, nilai, dan perilaku manusia (Arifin, 2023). Dalam konteks ini, PAI menghadapi tantangan multidimensional dalam menjaga relevansi, koherensi, dan kapasitas transformatifnya dalam membentuk perkembangan moral dan intelektual peserta didik. Percepatan teknologi digital telah mengubah secara fundamental struktur produksi dan diseminasi pengetahuan, sehingga otoritas tidak lagi terpusat melainkan tersebar dalam platform digital dan jejaring sosial (Hidayat & Abdullah, 2022). Pergeseran ini berdampak pada pendidikan Islam, khususnya dalam cara kebenaran, moralitas, dan interpretasi keagamaan diakses dan dipahami peserta didik. Akibatnya, PAI tidak hanya menghadapi tantangan pedagogis tetapi juga disrupsi epistemologis yang mempengaruhi cara siswa membangun makna dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan metodologi kualitatif-kritis berbasis kajian pustaka luas dan analisis konseptual (Sugiyono, 2021), penelitian ini menyelidiki ketegangan struktural antara pendekatan pedagogis normatif-dogmatis tradisional dan tuntutan lanskap pendidikan yang berkembang pesat. Analisis menunjukkan bahwa stagnasi PAI berakar pada epistemologi yang terlalu berpusat pada teks yang cenderung memprioritaskan transmisi doktrin dibandingkan inkuiri kritis, keterlibatan kontekstual, dan dialog interdisipliner (Nata, 2021). Orientasi ini menghasilkan keterbatasan imajinasi pedagogis yang kesulitan merespons isu kontemporer seperti etika kecerdasan buatan, kewargaan digital, dan gangguan informasi di era post-truth (Fauzi, 2021). Selain itu, dominasi model pembelajaran berpusat pada guru memperkuat budaya belajar pasif, di mana siswa diposisikan sebagai penerima, bukan konstruktor aktif pengetahuan. Kondisi ini melemahkan potensi transformatif pendidikan Islam yang seharusnya menumbuhkan kesadaran kritis, penalaran etis, dan tanggung jawab sosial. Sebaliknya, tuntutan pendidikan kontemporer membutuhkan peserta didik yang mampu menavigasi kompleksitas, ambiguitas, dan perubahan cepat dengan ketajaman intelektual dan kejernihan moral. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini mengusulkan kerangka rekonstruksi transformatif-kontekstual bagi PAI. Kerangka ini mengintegrasikan berpikir kritis, literasi digital, kesadaran etis, dan nilai-nilai Islam universal untuk mereposisi PAI sebagai disiplin yang dinamis, adaptif, dan responsif secara sosial (Muhaimin, 2023). Dalam reorientasi ini, PAI tidak lagi dipahami semata sebagai sarana instruksi keagamaan, tetapi sebagai proses pedagogis emansipatoris yang menumbuhkan ketajaman intelektual, kedalaman spiritual, integritas moral, dan tanggung jawab kewargaan. Selain itu, kerangka ini menekankan pentingnya kontekstualisasi ajaran Islam dalam realitas kontemporer, sehingga pendidikan agama tidak bersifat abstrak dan terlepas dari pengalaman hidup. Isu-isu seperti etika lingkungan, perilaku digital, keadilan sosial, dan kewargaan global menjadi bagian integral dalam diskursus PAI, memungkinkan peserta didik menghubungkan nilai agama dengan tantangan dunia nyata (Kurniawan, 2024). Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi paradigma PAI bukan hanya mendesak tetapi juga fundamental untuk memastikan keberlanjutan pendidikan Islam di era global. Tanpa transformasi tersebut, PAI berisiko mengalami marginalisasi dalam masyarakat pengetahuan yang terus berkembang pesat. Sebaliknya, dengan rekonstruksi yang terarah, PAI berpotensi menjadi kerangka utama dalam membentuk peserta didik yang kompeten secara intelektual, matang secara spiritual, dan mampu menavigasi kompleksitas peradaban kontemporer dengan kejernihan etis dan kepekaan sosial (Azra, 2022; Fauzi, 2021)
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP MUTU PENDIDIKAN PESANTREN Hoerul Umam; Aep Saepullah; Abdul Latip
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 3 (2026): Volume 12 No. 3, September 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i3.17018

Abstract

This study aims to analyze the implementation of the Merdeka Curriculum in Islamic boarding school (pesantren) educational institutions and its implications for improving educational quality. As a national education policy, the Merdeka Curriculum introduces a new learning paradigm that emphasizes flexibility, character development, literacy, numeracy, and student-centered learning. On the other hand, pesantren, as the oldest Islamic educational institution in Indonesia, possesses a distinctive tradition of tafaqquh fi al-din and a value-based educational system deeply rooted in Islamic teachings and community life.This study employed a descriptive qualitative approach using a library research method by examining policy documents, academic journals, books, and previous studies related to the implementation of the Merdeka Curriculum and pesantren education. The findings reveal that the implementation of the Merdeka Curriculum in pesantren can be carried out in an integrative manner while maintaining the identity and distinctive characteristics of pesantren education. This integration is manifested through the incorporation of religious and general sciences within an adaptive and contextual curriculum framework.Furthermore, the implementation of the Merdeka Curriculum has positive implications for improving the quality of pesantren education, particularly in strengthening literacy, character development, creativity, and students’ critical thinking skills. Nevertheless, several challenges remain, including the readiness of human resources, limited educational facilities and infrastructure, and the need for more systematic and professional curriculum management. Therefore, sustainable policy support, intensive training for pesantren educators, and the development of an integrative curriculum model based on pesantren values are essential to ensure the optimal implementation of the Merdeka Curriculum