Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Toleransi Sebagai Tujuan Pendidikan Dalam Al-Qur'an Ahmad Ma'mun Fikri; Ahmad Saefurrijal; Iskandar Mirza
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v11i2.12817

Abstract

Toleransi adalah salah satu nilai yang sangat penting dalam konteks pendidikan menurut Al-Quran, bukan hanya sekedar penerimaan terhadap perbedaan tetapi juga sebagai sikap proaktif dalam menjalin komunikasi dan kesepahaman dengan individu memiliki pandangan dan keyakinan yang berbeda. Pendekatan ini dapat membangun dialog antar budaya dan agama, menciptakan ruang bagi kerjasama dan sinergi positif di antara masyarakat yang berciri plural. Guru dan pendidik bertanggung jawab dalam mengintegrasikan nilai-nilai toleransi ke dalam proses pembelajaran, tidak hanya tentang pengajaran materi tetapi juga mendidik hati dan pikiran siswa untuk memahami dan menghargai perbedaan. Dengan menggunakan tafsir maudhu'i, artikel ini menganalisis sejumlah ayat yang mencontohkan pentingnya toleransi dalam konteks pendidikan. Toleransi tidak hanya diartikan sebagai penerimaan terhadap perbedaan, tetapi juga sebagai sikap proaktif dalam menjalin komunikasi dan kesepahaman dengan individu yang memiliki pandangan dan keyakinan yang berbeda. Melalui pendekatan ini, penulis menggambarkan bagaimana pendidikan dalam Islam dapat menjadi platform untuk membangun dialog antar budaya dan agama, sehingga menciptakan ruang bagi kerjasama dan sinergi positif di antara masyarakat yang berciri plural. Dengan menekankan prinsip toleransi yang berasal dari ajaran Islam, diharapkan generasi mendatang lebih mampu menghadapi tantangan globalisasi dan pluralisme tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai moral.
Cerdas Sebagai Tujuan Pendidikan Dalam Al-Qur'an Asep Setiadi; Ahmad Saefurrijal; Iskandar Mirza
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v11i2.12820

Abstract

Tujuan pendidikan menurut Al-Qur'an, diantaranya berfokus pada pembentukan kecerdasan kritis individu untuk menjauhi penyebaran hoax dan praktik taqlid. Dalam masyarakat modern yang dipenuhi dengan informasi yang beragam, penting bagi pendidik bisa untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir maudhu'i untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an yang relevan dengan tema pendidikan, menyelidiki prinsip-prinsip yang mendasari kecerdasan, serta tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikannya di dunia nyata. Al-Qur'an mendorong manusia untuk mencari pengetahuan dengan pengamatan dan pemikiran yang mendalam, bukan hanya sekadar mengikuti tradisi atau informasi yang tidak terverifikasi. Melalui pendidikan yang berbasis pada ajaran Al-Qur'an, seorang individu diharapkan mampu mengembangkan kemampuan untuk memilah informasi yang benar dan tidak menyesatkan. Dengan demikian, diantara tujuan pendidikan yang ideal adalah menciptakan masyarakat yang cerdas, kritis, dan mampu meminimalisir dampak negatif dari hoax serta taqlid. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi pengembangan kurikulum pendidikan yang lebih baik, dengan tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan keterampilan berpikir kritis.
Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam sebagai Landasan Pembaruan Sistem Pendidikan Iskandar Mirza; Aris Warisman; Tri Ahmad Syarif
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7615

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, globalisasi, dan perubahan sosial yang berlangsung secara cepat menuntut adanya pembaruan sistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman. Dalam konteks tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak lagi cukup dipahami sebagai proses transmisi pengetahuan keagamaan yang bersifat normatif, tetapi harus direkonstruksi menjadi paradigma pendidikan yang mampu mengintegrasikan dimensi spiritual, intelektual, moral, dan sosial peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi rekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam sebagai landasan pembaruan sistem pendidikan serta merumuskan arah pengembangannya dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam perlu diarahkan pada paradigma integratif, transformatif, dan kontekstual yang menghilangkan dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Rekonstruksi tersebut mencakup pembaruan aspek epistemologi, kurikulum, metode pembelajaran, kompetensi pendidik, serta pemanfaatan teknologi digital. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dapat berfungsi sebagai fondasi dalam membangun sistem pendidikan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik yang berakhlak mulia serta memiliki daya saing global.
Arah Baru Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Peradaban Iskandar Mirza; M. Bisri Syamsuri; Ali Fakhri
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7631

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) menempati posisi strategi dan memainkan peran penting dalam membentuk karakter, pola piker, dan orientasi hidup peserta didik sebagai bagian dari fondasi bagi pembangunan peradaban. Sebaliknya, akibat dinamika global kemajuan teknologi, perubahan sosial, krisis moral, serta tren pengetahuan paradigma baru, pola pikir PAI perlu direkonstruksi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Makalah ini bertujuan untuk merekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam menuju peradaban. Penelitian ini merupakan studi literatur yang menelaah berbagai literatur dan hasil penelitian dengan rujukan pada perkembangan pemikiran pendidikan Islam kontemporer. Studi ini menyimpulkan bahwa upaya rekonstruksi pemikiran PAI perlu diarahkan pada penguatan integrasi antara nilai-nilai Islam dan pengetahuan, pengembangan pembelajaran yang kritis dan reflektif, serta penguatan dimensi humanistik-transformatif dalam pendidikan. Selain itu, Pendidikan Agama Islam perlu memposisikan peserta didik sebagai subjek yang kreatif dan mampu merespons peluang sosial, budaya, dan teknologi tanpa menghilangkan identitas mereka sebagai peserta didik madrasah. Arah baru menegaskan bahwa PAI tidak hanya menjadi media untuk transfer pengetahuan agama, tetapi juga alat dalam pengembangan manusia rasional, spiritual, dan mampu secara sosial untuk berkontribusi pada peradaban yang lebih baik yang melalui keterlibatan berorientasi ke depan dapat menjadi benteng terhadap masyarakat yang inklusif dan adil. Oleh karena itu, rekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam merupakan kebutuhan yang mendesak untuk mewujudkan generasi yang memiliki ketahanan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan perkembangan sosial global yang ada.
Rekontruksi Epistemologi Pendidikan Agama Islam dalam Konteks Perkembangan Ilmu Pengetahuan Iskandar Mirza; Wulan Setyaningrum; Rosmayati
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7668

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji epistemologi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan merumuskan langkah-langkah rekonstruksinya dalam menjawab tantangan era modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan disrupsi informasi. PAI saat ini menghadapi tantangan fundamental berupa dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang berdampak pada fragmentasi pengetahuan serta ketidaksiapan peserta didik dalam menghadapi realitas kehidupan yang kompleks. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) karena fokus kajian terletak pada analisis rekonstruksi epistemologi PAI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi epistemologi PAI harus diarahkan pada paradigma integratif-interkonektif yang menghapus pemisahan antara aspek spiritual dan intelektual. Rekonstruksi ini dilakukan dengan mensinergikan tiga pilar utama sumber pengetahuan, yaitu wahyu (bayani), akal (burhani), dan pengalaman empiris atau intuisi spiritual (irfani). Integrasi ini memungkinkan PAI untuk tetap relevan dalam perkembangan dan teknologi tanpa kehilangan identitas moral dan etika dasarnya. Dengan landasan epistemologis yang utuh, PAI diharapkan mampu melahirkan generasi Muslim yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan spiritual, intelektual, sosial, dan teknologi guna membangun peradaban global yang berkeadaban.
Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Kebutuhan Zaman Iskandar Mirza; Indra Kurnia; Muhammad Beryl Walida Askari
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7672

Abstract

Studi ini diarahkan untuk mengonseptualisasikan arah baru rekonstruksi kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) yang selaras dengan akselerasi teknologi, arus globalisasi, serta transformasi sosial kontemporer. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research), eksplorasi data bersumber dari literatur buku, jurnal ilmiah, dan dokumen akademik yang mengkaji epistemologi PAI serta paradigma pendidikan integratif. Pengumpulan data dioptimalisasi lewat teknik dokumentasi, yang kemudian dibedah menggunakan analisis isi (content analysis) melalui fase reduksi, kategorisasi, interpretasi, hingga konklusi. Temuan merujuk pada urgensi pergeseran orientasi kurikulum PAI yang mulanya dominan bersifat normatif-kognitif menuju model yang lebih kontekstual, integratif, dan adaptif. Aktualisasi rekonstruksi tersebut dimanifestasikan melalui implementasi pendekatan integratif-interkonektif, sublimasi instrumen teknologi dalam pedagogi, internalisasi karakter mulia, serta penguasaan kecakapan abad ke-21. Meski demikian, aksentuasi tauhid tetap diposisikan sebagai jangkar filosofis utama. Reorientasi ini menjadi rute strategis guna mengafirmasi lahirnya generasi yang kokoh secara spiritual, sekaligus cakap secara global, kritis, dan berdaya saing tinggi
Dinamika Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam di Tengah Perubahan Sosial Iskandar Mirza; M. Sukron; Cucu Hasanah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7686

Abstract

Perubahan sosial yang masif di era masyarakat digital dan globalisasi menuntut institusi serta pemikir pendidikan Islam untuk melakukan reorientasi secara mendasar. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dinamika rekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam merespons pergeseran nilai, budaya, keagamaan, dan teknologi di masyarakat modern. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), penelitian ini menelaah literatur pemikiran pendidikan kontemporer serta fenomena sosiologis masyarakat siber. Hasil penelitian menemukan bahwa model PAI konvensional yang cenderung doktriner, tekstual, dan dikotomis mulai kehilangan relevansinya di hadapan generasi Z dan Alpha yang memiliki karakteristik kritis dan berbasis digital. Rekonstruksi pemikiran PAI kontemporer bertumpu pada tiga pilar utama: rekonstruksi epistemologis melalui pendekatan integrasi-interkoneksi antara ilmu agama dan sains; rekonstruksi kurikulum berbasis kontekstualisasi isu sosial; serta rekonstruksi metodologis yang bertransformasi menuju pembelajaran dialogis-inklusif. Hasil rekonstruksi ini diharapkan mampu mengubah paradigma PAI dari sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge) menjadi penggerak transformasi moral dan kesalehan sosial yang aplikatif (transformative learning).
Pendidikan Agama Islam dalam Arus Perubahan: Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Iskandar Mirza; Aep Saepullah; Siti Fathonah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7832

Abstract

Studi ini secara kritis mengkaji urgensi rekonstruksi paradigma Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam merespons percepatan transformasi global yang ditandai oleh disrupsi digital, pergeseran epistemologis, dan rekonfigurasi sosial-budaya yang kompleks (Azra, 2022; Muhaimin, 2023). Dalam era kontemporer, pendidikan tidak lagi terbatas pada transmisi pengetahuan, tetapi semakin dituntut untuk merespons ketidakpastian, ambiguitas etis, dan cepatnya arus informasi dalam ekosistem digital yang terus membentuk ulang cara berpikir, nilai, dan perilaku manusia (Arifin, 2023). Dalam konteks ini, PAI menghadapi tantangan multidimensional dalam menjaga relevansi, koherensi, dan kapasitas transformatifnya dalam membentuk perkembangan moral dan intelektual peserta didik. Percepatan teknologi digital telah mengubah secara fundamental struktur produksi dan diseminasi pengetahuan, sehingga otoritas tidak lagi terpusat melainkan tersebar dalam platform digital dan jejaring sosial (Hidayat & Abdullah, 2022). Pergeseran ini berdampak pada pendidikan Islam, khususnya dalam cara kebenaran, moralitas, dan interpretasi keagamaan diakses dan dipahami peserta didik. Akibatnya, PAI tidak hanya menghadapi tantangan pedagogis tetapi juga disrupsi epistemologis yang mempengaruhi cara siswa membangun makna dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan metodologi kualitatif-kritis berbasis kajian pustaka luas dan analisis konseptual (Sugiyono, 2021), penelitian ini menyelidiki ketegangan struktural antara pendekatan pedagogis normatif-dogmatis tradisional dan tuntutan lanskap pendidikan yang berkembang pesat. Analisis menunjukkan bahwa stagnasi PAI berakar pada epistemologi yang terlalu berpusat pada teks yang cenderung memprioritaskan transmisi doktrin dibandingkan inkuiri kritis, keterlibatan kontekstual, dan dialog interdisipliner (Nata, 2021). Orientasi ini menghasilkan keterbatasan imajinasi pedagogis yang kesulitan merespons isu kontemporer seperti etika kecerdasan buatan, kewargaan digital, dan gangguan informasi di era post-truth (Fauzi, 2021). Selain itu, dominasi model pembelajaran berpusat pada guru memperkuat budaya belajar pasif, di mana siswa diposisikan sebagai penerima, bukan konstruktor aktif pengetahuan. Kondisi ini melemahkan potensi transformatif pendidikan Islam yang seharusnya menumbuhkan kesadaran kritis, penalaran etis, dan tanggung jawab sosial. Sebaliknya, tuntutan pendidikan kontemporer membutuhkan peserta didik yang mampu menavigasi kompleksitas, ambiguitas, dan perubahan cepat dengan ketajaman intelektual dan kejernihan moral. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini mengusulkan kerangka rekonstruksi transformatif-kontekstual bagi PAI. Kerangka ini mengintegrasikan berpikir kritis, literasi digital, kesadaran etis, dan nilai-nilai Islam universal untuk mereposisi PAI sebagai disiplin yang dinamis, adaptif, dan responsif secara sosial (Muhaimin, 2023). Dalam reorientasi ini, PAI tidak lagi dipahami semata sebagai sarana instruksi keagamaan, tetapi sebagai proses pedagogis emansipatoris yang menumbuhkan ketajaman intelektual, kedalaman spiritual, integritas moral, dan tanggung jawab kewargaan. Selain itu, kerangka ini menekankan pentingnya kontekstualisasi ajaran Islam dalam realitas kontemporer, sehingga pendidikan agama tidak bersifat abstrak dan terlepas dari pengalaman hidup. Isu-isu seperti etika lingkungan, perilaku digital, keadilan sosial, dan kewargaan global menjadi bagian integral dalam diskursus PAI, memungkinkan peserta didik menghubungkan nilai agama dengan tantangan dunia nyata (Kurniawan, 2024). Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi paradigma PAI bukan hanya mendesak tetapi juga fundamental untuk memastikan keberlanjutan pendidikan Islam di era global. Tanpa transformasi tersebut, PAI berisiko mengalami marginalisasi dalam masyarakat pengetahuan yang terus berkembang pesat. Sebaliknya, dengan rekonstruksi yang terarah, PAI berpotensi menjadi kerangka utama dalam membentuk peserta didik yang kompeten secara intelektual, matang secara spiritual, dan mampu menavigasi kompleksitas peradaban kontemporer dengan kejernihan etis dan kepekaan sosial (Azra, 2022; Fauzi, 2021)