Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kolaborasi Antara Bank Konvensioanal dan Fintech Tantangan dan Peluang Kezia Aira Natasya
JACTA: Journal of Accounting and Tax Vol. 2 No. 2 (2024): JACTA: Journal of Accounting and Tax, January 2024
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jacta.v2i2.1046

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong perubahan signifikan dalam sektor keuangan, khususnya melalui munculnya perusahaan Financial Technology (Fintech) yang       menantang   model   bisnis   bank    konvensional.    Penelitian   ini               berjudul “Kolaborasi antara Bank Konvensional dan Fintech: Tantangan dan Peluang” bertujuan untuk menganalisis bentuk kolaborasi yang terjadi antara kedua lembaga keuangan tersebut, serta mengidentifikasi hambatan dan potensi sinergi yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat inklusi keuangan dan efisiensi layanan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui studi literatur, analisis dokumen, dan wawancara semi-terstruktur terhadap beberapa praktisi di sektor perbankan dan fintech di Indonesia. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk menemukan pola kolaborasi, faktor pendorong, serta kendala yang dihadapi dalam integrasi sistem dan regulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antara bank konvensional dan fintech cenderung meningkat dalam lima tahun terakhir, terutama dalam bidang digital payment, kredit mikro, dan layanan perbankan digital. Kolaborasi ini memberikan peluang besar bagi bank untuk memperluas jangkauan nasabah melalui teknologi fintech, sementara fintech memperoleh legitimasi dan akses terhadap infrastruktur keuangan formal. Namun, tantangan yang masih dihadapi meliputi perbedaan budaya organisasi, ketimpangan regulasi, dan keamanan data. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sinergi antara bank dan fintech dapat menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif, adaptif, dan inovatif, asalkan didukung oleh regulasi yang harmonis dan penguatan tata kelola digital yang berkelanjutan.
Analisis Klasifikasi Wilayah Pertanian Bedasarkan Produksi Komoditas Unggulan Kezia Aira Natasya
JAF: Journal of Agricultural and Farming Vol. 4 No. 1 (2026): JAF: Journal of Agricultural and Farming, Maret 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jaf.v4i1.1075

Abstract

Penentuan klasifikasi wilayah pertanian berdasarkan produksi komoditas unggulan merupakan langkah strategis dalam mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berdaya saing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengklasifikasikan wilayah pertanian berdasarkan potensi produksi komoditas unggulan, sehingga hasilnya dapat menjadi acuan dalam perencanaan kebijakan serta pengembangan potensi daerah. Latar belakang penelitian ini didasari oleh adanya perbedaan kondisi agroklimat, kesuburan tanah, ketersediaan air, serta variasi produktivitas antarwilayah yang menimbulkan ketimpangan hasil pertanian di berbagai daerah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik analisis klaster (cluster analysis) menggunakan metode K-Means untuk mengelompokkan wilayah berdasarkan tingkat produksi komoditas unggulan, seperti padi, jagung, kedelai, dan hortikultura. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertanian selama periode 2019–2023. Variabel yang dianalisis mencakup luas panen, produktivitas, dan total produksi setiap komoditas unggulan. Proses analisis dilakukan dengan perangkat lunak statistik untuk menghasilkan klasifikasi wilayah berproduksi tinggi, sedang, dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga kelompok wilayah utama: (1) wilayah dengan produksi tinggi berpotensi menjadi sentra komoditas unggulan, (2) wilayah berproduksi sedang dengan peluang peningkatan efisiensi, dan (3) wilayah berproduksi rendah yang memerlukan intervensi teknologi dan kebijakan penguatan kapasitas. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi perencanaan pembangunan pertanian berbasis potensi wilayah secara efektif dan berkelanjutan.