Praktik manajemen modern saat ini berkembang pesat namun cenderung sekuler karena berorientasi pada efisiensi dan target kuantitatif semata, sehingga memicu krisis moral serta dilema tata kelola pada lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sintesis konseptual antara prinsip manajemen kontemporer, seperti Total Quality Management (TQM) dan Lean Management, dengan nilai-nilai profetik dalam hadis, sekaligus merumuskan strategi penguatannya agar menjadi budaya kerja yang berkelanjutan di lembaga formal. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan untuk mensintesis teori manajerial Barat dengan teks-teks hadis secara dialektis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep continuous improvement dalam TQM selaras dengan nilai ihsan dan itqan (profesionalisme), sedangkan prinsip efisiensi dalam Lean Management sejalan dengan larangan israf (pemborosan). Implementasi praktisnya membentuk manajemen berbasis tauhid dengan fungsi perencanaan berdimensi niyyah, pengorganisasian berbasis meritokrasi ('adl), kepemimpinan yang melayani (servant leadership), serta manajemen aset yang transparan guna memitigasi gharar. Strategi keberlanjutan paradigma ini memerlukan internalisasi melalui keteladanan (uswah hasanah), penyusunan Key Performance Indicator (KPI) berbasis keberkahan, dan pemanfaatan teknologi digital yang beretika menggunakan prinsip tabayyun. Kesimpulannya, integrasi ini merupakan keniscayaan epistemologis yang menggeser tata kelola mekanistik menjadi humanistik-transendental, sehingga lembaga pendidikan Islam mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas moral dan spiritualnya.