Abstract: This type of qualitative research uses a case study approach, data collection using participatory observation techniques, in-depth interviews and documentation studies. This focus is based on the assumption that contextual learning that integrates local cultural values can significantly improve the understanding, internalization, and practice of Pancasila values. The data validity techniques used are credibility, transferability, dependability, and confirmability tests. The results of the study indicate that: 1) The local wisdom of the Kajang Tribe is a comprehensive, dynamic, and relevant value system for modern education, especially in the context of Pancasila Education. The life philosophies of Tallasa Kamase-mase (simple living) and Pasang Ri Kajang (living in harmony with nature) directly reflect and strengthen the values contained in Pancasila, such as mutual cooperation, social justice, and harmony. 2) The integration of these values into the school curriculum, especially through contextual and project-based learning approaches, has proven effective in transforming Pancasila learning from mere memorization into a meaningful, engaging, and transformative experience. The positive impact is not only seen in the increase in students' cognitive interest and understanding, but also in changes in their positive attitudes and behaviors, such as growing concern for the environment, empathy, and pride in cultural identity. 3) Learning based on the local wisdom of the Kajang Tribe has succeeded in shaping students' holistic character, training 21st-century skills, and creating agents of change who actively preserve their culture and environment. This approach shows that the values of Pancasila are deeply rooted in the nation's culture, making it a sustainable guide for life. Keywords: local wisdom, learning resources, pancasila education, relevance of local wisdom Abstrak: Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study), pengumpulan data memggunakan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Fokus ini didasarkan pada asumsi bahwa pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dapat secara signifikan meningkatkan pemahaman, internalisasi, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Teknik keabsahan data yang digunakan yaitu uji kredibilitas, transferability, dependability, dan confirmability. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Kearifan lokal Suku Kajang adalah sistem nilai yang komprehensif, dinamis, dan relevan untuk pendidikan modern, khususnya dalam konteks Pendidikan Pancasila. Filosofi hidup Tallasa Kamase-mase (hidup sederhana) dan Pasang Ri Kajang (hidup selaras dengan alam) secara langsung merefleksikan dan memperkuat nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, seperti gotong royong, keadilan sosial, dan keselarasan. 2) Integrasi nilai-nilai ini ke dalam kurikulum sekolah, terutama melalui pendekatan pembelajaran kontekstual dan berbasis proyek, terbukti efektif mengubah pembelajaran Pancasila dari sekadar hafalan menjadi pengalaman yang bermakna, menarik, dan transformatif. Dampak positifnya tidak hanya terlihat dari peningkatan minat dan pemahaman kognitif siswa, tetapi juga pada perubahan sikap dan perilaku positif mereka, seperti tumbuhnya kepedulian terhadap lingkungan, empati, dan rasa bangga terhadap identitas budaya. 3) Pembelajaran berbasis kearifan lokal Suku Kajang berhasil membentuk karakter holistik siswa, melatih keterampilan abad ke-21, dan menciptakan agen perubahan yang secara aktif melestarikan budaya dan lingkungan mereka. Pendekatan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah berakar kuat dalam budaya bangsa, menjadikannya panduan hidup yang berkelanjutan. Kata kunci: kearifan lokal; sumber pembelajaran; pendidikan pancasila; relevansi kearifan lokal