Kejadian ISPA pada balita merupakan masalah kesehatan yang masih menjadi tantangan di negara berkembang, termasuk Indonesia. ISPA pada balita dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti karakteristik individu, kondisi lingkungan tempat tinggal, pola gaya hidup keluarga, akses pelayanan kesehatan, serta faktor genetik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Buahdua, Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 78 responden yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang paling dominan berhubungan dengan kejadian ISPA adalah jenis kelamin, usia balita, asap rokok, pendidikan ibu, genetik, polusi udara, menggendong anak saat memasak, air eksklusif, malnutrisi, sirkulasi udara, sosial ekonomi, kepadatan hunian, status imunisasi, dan bahan bakar untuk memasak. Temuan ini mengindikasikan bahwa kejadian ISPA dapat dicegah melalui perbaikan lingkungan rumah, peningkatan cakupan imunisasi, serta edukasi mengenai pola asuh dan gaya hidup sehat. Oleh karena itu, upaya pencegahan ISPA pada balita perlu melibatkan peran aktif keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat secara luas dalam menciptakan lingkungan sehat dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Pada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan desain analitik seperti studi case-control atau kohort agar hubungan kausal antarvariabel dapat dianalisis lebih mendalam.