Hanafiah Hanafiah
Universitas Islam Nusantara, Bandung

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah KejuruanYPIB Tanjungsari Sumedang (Kompetensi Keahlian Farmasi dan Keperawatan) Saepul Rohman; Hanafiah Hanafiah; Faiz Karim Fatkhullah
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2683

Abstract

This study aims to analyze the use of digital technology to improve the quality of Islamic Religious Education (PAI) learning at a Vocational High School (SMK YPIB Tanjungsari Sumedang). The study used a mixed methods approach with a sequential explanatory design. Quantitative data were obtained through a questionnaire of 30 students at SMK YPIB Tanjungsari Sumedang and analyzed using descriptive statistics. Qualitative data were collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed thematically. The results indicate that the use of digital technology is in the good category and contributes positively to increasing student motivation, engagement, and understanding in PAI learning. The integration of digital technology, pedagogically and contextually designed, has been proven to improve the quality of PAI learning at SMK YPIB Tanjungsari Sumedang. This study provides practical implications for PAI teachers in developing digital-based learning that is relevant to the characteristics of vocational students. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan teknologi digital dalam peningkatan mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) YPIB Tanjungsari Sumedang. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory. Data kuantitatif diperoleh melalui angket terhadap 30 peserta didik SMK YPIB Tanjungsari Sumedang dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital berada pada kategori baik dan berkontribusi positif terhadap peningkatan motivasi, keterlibatan, dan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran PAI. Integrasi teknologi digital yang dirancang secara pedagogis dan kontekstual terbukti mampu meningkatkan mutu pembelajaran PAI di SMK YPIB Tanjungsari Sumedang. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi guru PAI dalam mengembangkan pembelajaran berbasis digital yang relevan dengan karakteristik peserta didik vokasional. 
Deep Learning dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran PAI di SMP Kabupaten Sumedang: Studi Kasus di SMP Plus Tanjungsari Supian Munawar; Hanafiah Hanafiah; Faiz Karim Fatkhullah
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2680

Abstract

The quality of Islamic Religious Education (PAI) learning at the junior high school level is often limited to a rote approach (surface learning), thus less encouraging internalization of values and changes in student behavior. Deep learning offers an alternative approach that focuses on in-depth understanding, reflection, and contextual relevance. However, its implementation is often hampered by poorly integrated management factors. This study aims to investigate how the integration of the learning management function (POAC) with deep learning pedagogy can improve the quality of PAI learning in junior high schools. The study used a qualitative approach with a case study design at SMP Plus Tanjungsari, Sumedang. Data were collected through in-depth interviews with the principal and PAI teachers, participant observation, and document study, then analyzed interactively. The implementation of deep learning integrated with the POAC function has been proven to improve the quality of PAI learning holistically. Participatory planning resulted in a Deep Learning Plan (RPM), effective organization through PAI teams and student differentiation, student-centered implementation with active and contextual methods, and comprehensive evaluation covering cognitive, affective, and spiritual aspects. Supporting factors such as the principal's instructional leadership and a flexible curriculum reinforced this success. Improving the quality of Islamic Religious Education (PAI) learning requires synergy between a deep learning pedagogical approach and a structured management framework. The resulting integrative model can serve as a reference for other schools in implementing meaningful and transformative learning.ABSTRAKMutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat SMP masih sering terbatas pada pendekatan hafalan (surface learning), sehingga kurang mendorong internalisasi nilai dan perubahan perilaku siswa. Deep learning menawarkan pendekatan alternatif yang berfokus pada pemahaman mendalam, refleksi, dan keterkaitan kontekstual. Namun, implementasinya sering terkendala oleh faktor manajemen yang kurang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana integrasi antara fungsi manajemen pembelajaran (POAC) dengan pedagogi deep learning dapat meningkatkan mutu pembelajaran PAI di SMP Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di SMP Plus Tanjungsari, Sumedang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan guru PAI, observasi partisipatif, dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara interaktif. Implementasi deep learning yang terintegrasi dengan fungsi POAC terbukti meningkatkan mutu pembelajaran PAI secara holistik. Perencanaan partisipatif menghasilkan Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM), pengorganisasian efektif melalui tim PAI dan diferensiasi siswa, pelaksanaan berpusat pada siswa dengan metode aktif dan kontekstual, serta evaluasi komprehensif yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan spiritual. Faktor pendukung seperti kepemimpinan instruksional kepala sekolah dan kurikulum fleksibel memperkuat keberhasilan ini. Peningkatan mutu pembelajaran PAI memerlukan sinergi antara pendekatan pedagogis deep learning dan kerangka manajemen yang terstruktur. Model integratif yang dihasilkan dapat menjadi rujukan bagi sekolah lain dalam mengimplementasikan pembelajaran yang bermakna dan transformatif.
MANAJEMEN SUPERVISI AKADEMIK PENGAWAS UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PAEDAGOGIK GURU MADRASAH (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Swasta KBB) Budi Komara; Hanafiah Hanafiah; Faiz Karim Fatkhullah
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2665

Abstract

Background: Academic supervision is a strategic instrument for teacher mentoring and professional development. However, its implementation in private madrasas often faces structural, cultural, and technical constraints, which impact the stagnation of teachers' pedagogical competence improvement. Objectives: This study aims to describe and analyze the management of madrasah supervisors' academic supervision based on the POAC functions (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) and its effectiveness in improving the pedagogical competence of teachers in Private Madrasah Tsanawiyah in West Bandung Regency. Methods: The research used a qualitative approach with a multisite case study method in three private MTs. Data were collected through observation, in-depth interviews with 3 supervisors, 9 teachers, and 3 madrasah principals, and documentation studies. Data analysis followed an interactive thematic analysis model. Results: The findings reveal that the four POAC management functions in academic supervision are not yet optimal. Planning is top-down and lacks needs assessment; organizing is constrained by supervisor-madrasah ratios and time; implementation is dominated by brief observations with normative feedback; and evaluation and follow-up are almost non-existent. Consequently, the impact of supervision on improving teacher pedagogical competence is minimal and only visible in administrative aspects. Conclusions: Academic supervision in the research locus experiences decoupling, where formal activities are separated from the substantive goal of teacher development. Reformulation of policies, restructuring of supervisor workloads, strengthening clinical supervision capacity, and transformation of supervision culture towards collaborative-participatory approaches are needed.ABSTRAKLatar Belakang: Supervisi akademik merupakan instrumen strategis dalam pembinaan dan pengembangan profesional guru. Namun, implementasinya di madrasah swasta sering kali menghadapi kendala struktural, kultural, dan teknis, yang berimplikasi pada stagnasi peningkatan kompetensi pedagogik guru. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis manajemen supervisi akademik pengawas madrasah berdasarkan fungsi POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) serta efektivitasnya dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru Madrasah Tsanawiyah Swasta di Kabupaten Bandung Barat. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus multisitus di tiga MTs swasta. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan 3 pengawas, 9 guru, dan 3 kepala madrasah, serta studi dokumentasi. Analisis data mengikuti model analisis tematik interaktif. Hasil: Temuan penelitian mengungkapkan bahwa keempat fungsi manajemen POAC dalam supervisi akademik belum berjalan optimal. Perencanaan bersifat top-down dan minim analisis kebutuhan; pengorganisasian terkendala rasio pengawas-madrasah dan waktu; pelaksanaan didominasi observasi singkat dengan umpan balik yang normatif; serta evaluasi dan tindak lanjut nyaris tidak ada. Akibatnya, dampak supervisi terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru sangat minimal dan hanya terlihat pada aspek administratif. Kesimpulan: Supervisi akademik di lokus penelitian mengalami decoupling, di mana aktivitas formal terpisah dari tujuan substantif pengembangan guru. Diperlukan reformulasi kebijakan, penataan ulang beban kerja pengawas, penguatan kapasitas supervisi klinis, dan transformasi budaya supervisi menuju kolaboratif-partisipatif.
MANAJEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENINGKATKAN AKHLAKUL KARIMAH SISWA MADRASAH DI KOTA SERANG Ade Baijuri; Hanafiah Hanafiah; Faiz Karim Fatkhullah
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2668

Abstract

Background: The potential of local wisdom as a contextual character education medium is immense, yet its implementation in madrasahs in Serang City is suboptimal, impacting the formation of students' Akhlakul Karimah. This study aims to analyze the implementation of local wisdom-based learning management (PBKL) and develop a holistic model to enhance Akhlakul Karimah. Methods: The research used a qualitative approach with a multi-site study design across five madrasahs in Serang City. Data were collected through observation, in-depth interviews, and document study, then analyzed using the interactive model by Miles, Huberman, Saldana. Results: Findings indicate that PBKL implementation is weak across all POAC functions (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). The rich values of Banten's local wisdom have not been systematically integrated into the curriculum, learning implementation, and evaluation. The main inhibiting factors are limitations in teacher competence, teaching materials, and an unsupportive school culture. The impact on student morals remains temporary (output), not sustainable (outcome). Conclusion: A holistic and contextual PBKL management model is needed, one that synergistically strengthens all four management functions by making local wisdom the core of integration, not merely an add-on.ABSTRAKLatar Belakang: Potensi kearifan lokal sebagai medium pendidikan karakter yang kontekstual sangat besar, namun implementasinya di madrasah Kota Serang belum optimal, yang berdampak pada pembentukan Akhlakul Karimah siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi manajemen pembelajaran berbasis kearifan lokal (PBKL) dan mengembangkan model holistik untuk meningkatkan Akhlakul Karimah. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi multi-situs di lima madrasah di Kota Serang. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, Saldana. Hasil: Temuan menunjukkan implementasi PBKL lemah dalam seluruh fungsi POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Kearifan lokal Banten yang kaya nilai belum terintegrasi secara sistematis ke dalam kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. Faktor penghambat utama adalah keterbatasan kompetensi guru, bahan ajar, dan budaya sekolah yang belum mendukung. Dampak terhadap akhlak siswa masih bersifat temporer (output), belum berkelanjutan (outcome). Kesimpulan: Diperlukan model manajemen PBKL yang holistik dan kontekstual, yang memperkuat keempat fungsi manajemen secara sinergis dengan menjadikan kearifan lokal sebagai inti integrasi, bukan sekadar tempelan.
Principal Managerial Competence in Improving Teacher Performance Nursyifa Aprilia Dewi; Hanafiah Hanafiah
At Turots: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 Juni (2025): At Turots: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51468/jpi.v7i1.1536

Abstract

This research is motivated by the critical role of the principal as an educational leader in cultivating professional and highly competent teachers amidst complex educational challenges, particularly within private early childhood institutions. The purpose of this study is to determine, describe, and deeply analyze how the principal's managerial competence drives the improvement of teacher performance in Early Childhood Education (PAUD). The philosophical foundation of this study is rooted in humanistic educational thinking, while the theoretical framework utilizes George R. Terry’s managerial competence model. This study employs a qualitative approach with a case study design, grounded in a constructivist paradigm. Data collection utilized methodological triangulation through in-depth interviews, participant observation, and documentation analysis. Data were systematically sourced from foundations, committees, principals, teachers, and school archives across two private institutions: TK Al-Hikmah and RA Nuururrohmaan. The findings reveal that the principal's managerial functions—planning, organizing, actuating, and evaluating—have been executed with maximum effort. However, implementation faces systemic constraints, including limited human resources, insufficient structural support, resistance to organizational change, and uneven managerial skill sets. Concurrently, teachers face challenges such as role ambiguity regarding delegated tasks and a lack of institutionalized workshops for continuous professional development. Despite these barriers, the principals have initiated strategic solutions, including optimizing infrastructure and actively involving foundations, school committees, parents, and the broader community in the educational process. The study concludes that the effective, collaborative, and systematic managerial competence of the principal exerts a highly significant influence on the continuous improvement of teacher performance.
Dari Riyadah ke Etika Hidup: Internalisasi Manhaj Attahqiq dan Keberlanjutan Spiritualitas Alumni Pesantren Badrul Munir; Hanafiah Hanafiah; Faiz Karim Fatkhullah
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2669

Abstract

This study addresses the challenge of sustaining religious character and spiritual resilience among pesantren alumni after returning to broader social environments. Many graduates experience a decline in religious consistency when institutional structures are no longer present. This research aims to explore how the Manhaj Attahqiq at Banuraja Islamic Boarding School is internalized and how it influences the sustainability of religious practices, moral development, and spiritual well-being of alumni. A descriptive qualitative approach was employed using in-depth interviews, open-ended questionnaires, and triangulation with significant others. Data were analyzed thematically to capture patterns of lived experiences and subjective meanings. The findings indicate that Manhaj Attahqiq does not merely cultivate ritual habits but internalizes spiritual discipline (riya?ah) as a sustainable life ethic, reflected in consistent worship practices, emotional stability, self-regulation, and meaningful life orientation. Dhikr, spiritual routines, and ethical discipline function as primary sources of spiritual resilience in navigating life challenges. The study concludes that a manhaj-centered internalization model emphasizing inner awareness and ethical embodiment is more effective in sustaining spiritual continuity than purely normative-instructional approaches, offering significant implications for the development of pesantren-based spiritual education models.ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan keberlanjutan pembentukan karakter dan spiritualitas alumni pesantren setelah kembali ke masyarakat. Banyak lulusan lembaga pendidikan keagamaan mengalami penurunan konsistensi ibadah dan ketahanan akhlak ketika tidak lagi berada dalam lingkungan yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana Manhaj Attahqiq di Pondok Pesantren Banuraja diinternalisasikan dan berdampak pada keberlanjutan ibadah, pembentukan akhlak, serta kesejahteraan lahir dan batin alumni. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, angket terbuka, dan triangulasi dengan orang-orang terdekat alumni. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan makna subjektif alumni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Manhaj Attahqiq tidak hanya membentuk kebiasaan ritual, tetapi menginternalisasikan riya?ah sebagai etika hidup yang berkelanjutan, tercermin dalam konsistensi ibadah, stabilitas emosi, pengendalian diri, serta orientasi hidup yang lebih bermakna. Praktik dzikir, wirid, dan disiplin adab menjadi sumber utama ketahanan spiritual alumni dalam menghadapi dinamika kehidupan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi manhaj yang berorientasi pada pembentukan kesadaran batin lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan spiritual dibandingkan pendekatan normatif-instruksional semata, sehingga memiliki implikasi penting bagi pengembangan model pendidikan pesantren berbasis tasawuf amali.
MANAJEMEN INTEGRASI ZAKAT MAL DAN PEMBERDAYAAN KEARIFAN LOKAL PERELEK DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN UMAT (Studi Kasus : Masjid Jami Al-Amin Desa Sukawening Kec. Ciwidey Kab. Bandung) Eep Jamaludin; Hanafiah Hanafiah; Faiz Karim Fatkhullah
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2670

Abstract

Background: The management of Zakat Mal at the village mosque level is often trapped in a traditional paradigm characterized by the absence of formal institutions, lack of transparency, and short-term consumptive distribution patterns. This phenomenon contrasts sharply with the vitality of local wisdom, such as the "Perelek" system, which thrives as a community-based social finance mechanism with participatory and accountable governance.Objective: This study aims to (1) identify and analyze the management gap between the Zakat Mal and "Perelek" systems at the mosque level, and (2) design and propose a synergistic integration model based on the POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) framework to optimize the role of Islamic philanthropy in enhancing community welfare holistically and sustainably. Method: Using a qualitative approach with an intrinsic case study strategy at the Al-Amin Jami Mosque, Sukawening Village, Bandung Regency. Data collection was conducted through triangulation via participatory observation, in-depth semi-structured interviews with 15 key informants (mosque board members, muzakki, mustahik), and in-depth analysis of financial documents from the "Perelek" program. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, Saldana. Results: The findings reveal a sharp management dichotomy. Zakat Mal management experiences dysfunction across all POAC aspects: lack of data-based planning, ad-hoc institutionalization, passive-reactive implementation, and non-existent control. Conversely, "Perelek" demonstrates optimal performance with routine planning, organization within the mosque board structure, participatory-responsive implementation, and highly transparent control. The significant economic potential of Zakat Mal from the agricultural and convection sectors remains untapped due to a public trust deficit. Conclusion: It is concluded that the main gap lies in the aspects of organizing and controlling. The proposed integration model is "Functional Differentiation with Convergence of Governance Principles", where "Perelek" is consolidated as a consumptive social safety net, while Zakat Mal is transformed into a productive economic empowerment instrument, fully adopting the transparency and participation principles of "Perelek". Implementing this model requires UPZ legalization, contextual zakat fiqh education, and a transformation of the reporting system.ABSTRAKLatar Belakang: Pengelolaan Zakat Mal di tingkat masjid pedesaan seringkali terperangkap dalam paradigma tradisional yang ditandai dengan ketiadaan kelembagaan formal, minimnya transparansi, dan pola distribusi konsumtif jangka pendek. Fenomena ini berbanding terbalik dengan vitalitas kearifan lokal, seperti sistem “Perelek”, yang justru tumbuh sebagai mekanisme keuangan sosial berbasis komunitas dengan tata kelola partisipatif dan akuntabel. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi dan menganalisis kesenjangan manajemen antara sistem Zakat Mal dan “Perelek” di tingkat masjid, serta (2) merancang dan mengusulkan model integrasi sinergis berbasis kerangka POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) untuk mengoptimalkan peran filantropi Islam dalam meningkatkan kesejahteraan umat secara holistik dan berkelanjutan. Metode: Menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus intrinsik di Masjid Jami Al-Amin, Desa Sukawening, Kabupaten Bandung. Pengumpulan data dilakukan secara triangulasi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 15 informan kunci (pengurus DKM, muzakki, mustahik), dan analisis mendalam terhadap dokumen keuangan program “Perelek”. Data dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, Saldana. Hasil: Temuan mengungkap dikotomi manajemen yang tajam. Pengelolaan Zakat Mal mengalami disfungsi pada seluruh aspek POAC: tidak ada perencanaan berbasis data, kelembagaan yang ad-hoc, pelaksanaan yang pasif-reaktif, dan pengawasan yang nihil. Sebaliknya, “Perelek” menunjukkan kinerja optimal dengan perencanaan rutin, pengorganisasian dalam struktur DKM, pelaksanaan yang partisipatif-responsif, dan pengawasan yang sangat transparan. Potensi ekonomi Zakat Mal dari sektor pertanian dan konveksi yang signifikan tidak tergarap akibat defisit kepercayaan publik. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa kesenjangan utama terletak pada aspek kelembagaan (organizing) dan akuntabilitas (controlling). Model integrasi yang diusulkan adalah “Diferensiasi Fungsi dengan Konvergensi Prinsip Tata Kelola”, di mana “Perelek” dikonsolidasikan sebagai jaring pengaman sosial konsumtif, sementara Zakat Mal ditransformasi menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi produktif, dengan mengadopsi sepenuhnya prinsip transparansi dan partisipasi dari “Perelek”. Implementasi model ini memerlukan legalisasi UPZ, edukasi fikih zakat kontekstual, dan transformasi sistem pelaporan.