p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal TEKNO
Muhammad I. Jasin
Universitas Sam Ratulangi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemodelan Perubahan Garis Pantai Akibat Kenaikan Muka Air Laut Dan Intensitas Gelombang Menggunakan Pemodelan Perubahan Numerik Fellicty R. Rengkuan; Muhammad I. Jasin; Jeffry D. Mamoto; Arthur H. Thambas; Ariestides K. T. Dundu; Cindy J. Supit
TEKNO Vol. 24 No. 96 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i96.67938

Abstract

Garis pantai merupakan batas dinamis pertemuan daratan dan air laut yang rentan mengalami perubahan spasial akibat kenaikan muka air laut global dan fluktuasi intensitas gelombang musiman. Pantai Malalayang Kota Manado merupakan wilayah pesisir strategis yang memiliki kerentanan geomorfologis terhadap ancaman abrasi. Keterbatasan data prediktif mengenai arah dan laju abrasi menghambat efektivitas mitigasi bencana di kawasan pesisir ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola hidrodinamika, mengkaji pengaruh interaksi kenaikan muka air laut dan gelombang, serta memprediksi visualisasi spasial perubahan garis pantai Malalayang untuk jangka waktu 6 tahun ke depan. Pendekatan kuantitatif diterapkan melalui pemodelan numerik dua dimensi berbasis piranti lunak MIKE 21. Simulasi diintegrasikan menggunakan kopel tiga modul utama: Hydrodynamic Module (HD), Spectral Wave Module (SW), dan Sand Transport Module (ST) yang dijalankan pada skenario tiga musim (Musim Barat, Musim Timur, dan Musim Peralihan). Hasil pemodelan menunjukkan bahwa intensitas gelombang signifikan ($Hs$) dan kecepatan arus puncak terjadi pada Musim Barat yang memicu laju abrasi paling agresif di area pantai terbuka. Berdasarkan estimasi laju perubahan tahunan hasil ekstrapolasi model, diprediksi dalam jangka 6 tahun ke depan garis pantai Malalayang berpotensi mengalami kemunduran (abrasi) maksimum hingga mencapai 4,1 m pada wilayah kritis pesisir terbuka. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan data teknis ilmiah bagi pemerintah daerah dalam merancang infrastruktur bangunan pengaman pantai (coastal defense structures) secara efektif. Kata kunci: perubahan garis pantai, kenaikan muka air laut, intensitas gelombang, MIKE 21, Pantai Malalayang
Perencanaan Bangunan Pengaman Pantai Di Pantai Bulotoan Desa Rerer I Kecamatan Kombi Kabupaten Minahasa Javier J. Wajong; Arthur H. Thambas; Ariestides K. T. Dundu; Jeffry D. Mamoto; Muhammad I. Jasin; Cindy J. Supit
TEKNO Vol. 24 No. 96 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i96.68053

Abstract

Pantai Bulotoan yang berada di Kecamatan Kombi, Desa Rerer I, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, terletak pada posisi 1°15'18.46" LU – 125°03'22.30" BT. Kawasan pesisir ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk berbagai aktivitas, namun kondisi energi gelombang laut yang cukup tinggi di wilayah tersebut menyebabkan terjadinya abrasi pantai. Energi gelombang yang besar secara terus-menerus mengakibatkan pengikisan pada garis pantai sehingga berpotensi menyebabkan mundurnya garis pantai dan dapat berdampak terhadap lingkungan pesisir serta infrastruktur yang berada di sekitarnya. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan suatu perencanaan bangunan pengaman pantai yang efektif untuk mengurangi dampak abrasi di Pantai Bulotoan, Kecamatan Kombi, Kabupaten Minahasa. Perencanaan pengaman pantai dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder yang diperoleh dari Power DAV NASA dan SRGI berupa data angin, pasang surut, serta data penunjang lainnya yang kemudian dianalisis menggunakan metode perencanaan bangunan pantai dan software penunjang. Hasil analisis tersebut digunakan untuk menentukan jenis dan dimensi bangunan pengaman pantai yang sesuai dengan kondisi lokasi penelitian. Dari hasil analisis data diperoleh bangunan pengaman pantai tipe Hard Structure berupa Groin tipe T yang berfungsi untuk mengendalikan transport sedimen sepanjang pantai serta mengurangi energi gelombang pada area yang dilindungi, dengan tinggi mercu 8,3 m, lebar puncak 4,4 m, kemiringan bangunan 1:2, lebar toe protection 7,99 m, serta tinggi toe protection 3,101 m. Kata kunci: bangunan pengaman pantai, groin tipe T, Pantai Bulotoan
Pemodelan Arus Pasang Surut Di Perairan Pantai Malalayang Menggunakan Pemodelan Numerik Chrisel N. M. Manopo; Muhammad I. Jasin; Arthur H. Thambas; Ariestides K. T. Dundu; Jeffry D. Mamoto; Cindy J. Supit
TEKNO Vol. 24 No. 96 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i96.68188

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe pasang surut dan pola arus pasang surut di perairan Pantai Malalayang, Kecamatan Malalayang, Kota Manado, menggunakan pemodelan numerik dengan perangkat lunak MIKE 21 Flexible Mesh (FM). Data yang digunakan meliputi data pasang surut dari Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI), data angin dari NASA POWER, data batimetri dari GEBCO, serta peta lokasi dari Google Earth. Penelitian dilakukan dengan pendekatan musiman yang mewakili tiga musim utama, yaitu musim barat (Januari 2019), musim peralihan (April 2019), dan musim timur (Juni 2019), masing-masing selama satu bulan dengan interval data per jam. Proses pemodelan dilakukan melalui pengolahan data batimetri, pembentukan mesh domain, input kondisi batas pasang surut dan angin, serta simulasi hidrodinamika menggunakan MIKE 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe pasang surut di Pantai Malalayang pada ketiga musim tergolong pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed semi-diurnal tide), yang ditandai dengan terjadinya dua kali pasang dan dua kali surut dalam satu hari dengan amplitudo yang tidak seragam. Pola arus pasang surut menunjukkan perbedaan karakteristik pada setiap musim. Musim barat didominasi arus bergerak dari barat daya menuju timur laut dengan kecepatan maksimum sebesar 0,334608 m/s, musim peralihan menunjukkan arus relatif lebih lemah dengan arah dominan menuju barat daya dan kecepatan maksimum sebesar 0,071699 m/s, sedangkan musim timur memiliki arus paling kuat dengan arah dominan ke barat dan kecepatan maksimum sebesar 0,600107 m/s. Hasil ini menunjukkan bahwa variasi musiman dan pengaruh angin berperan dalam membentuk dinamika arus pasang surut di Pantai Malalayang sehingga dapat menjadi dasar informasi dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pembangunan infrastruktur pantai secara berkelanjutan. Kata kunci: arus pasang surut, pemodelan numerik, MIKE 21, Pantai Malalayang, hidrodinamika pesisir, pasang surut campuran