Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MASSA OVARIUM REKUREN DENGAN KADAR CA-125 SANGAT TINGGI YANG MENYERUPAI KEGANASAN: LAPORAN KASUS: RECURRENT OVARIAN MASS WITH EXTREMELY ELEVATED CA-125 MIMICKING MALIGNANCY: CASE REPORT Andhika Budi Sentoso; Ronny Ajartha Tarigan; Clarissa Anastasya; Zacky Aufnouval Firja Barus
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1263

Abstract

Ovarian endometrioma is a form of endometriosis that often presents a diagnostic challenge due to its ability to mimic ovarian malignancy both clinically and biochemically. Markedly elevated CA-125 levels may further raise suspicion of malignancy, potentially leading to overdiagnosis and overtreatment. We report the case of a 39-year-old woman with a recurrent ovarian mass presenting with progressive dysmenorrhea, abdominal enlargement, and menstrual irregularities. Examination revealed a large abdominal mass with a significantly elevated CA-125 level of 1,500 U/mL. Ultrasonography demonstrated a cystic lesion with a characteristic “ground glass appearance” without solid components, suggestive of endometrioma. However, intraoperative findings of extensive adhesions raised strong suspicion of malignancy. Frozen section analysis suggested a benign lesion consistent with endometrioma, which was subsequently confirmed by final histopathological examination. The patient subsequently underwent total hysterectomy and unilateral salpingo-oophorectomy, followed by postoperative GnRH agonist therapy. This case highlights that ovarian endometrioma can closely mimic ovarian malignancy, particularly in the presence of markedly elevated CA-125 levels. Histopathological examination remains the gold standard for definitive diagnosis. A comprehensive and individualized approach is essential to avoid unnecessary aggressive management and to optimize patient outcomes. AbstrakEndometrioma ovarium merupakan salah satu bentuk endometriosis yang sering menimbulkan tantangan diagnostik karena dapat menyerupai keganasan ovarium, baik secara klinis maupun biokimiawi. Peningkatan kadar CA-125 yang sangat tinggi sering kali memperkuat kecurigaan terhadap keganasan sehingga berpotensi menyebabkan overdiagnosis dan overtreatment. Dilaporkan kasus seorang wanita berusia 39 tahun dengan massa ovarium rekuren yang disertai keluhan dismenore progresif, pembesaran abdomen, dan gangguan menstruasi. Pemeriksaan menunjukkan massa abdomen berukuran besar dengan kadar CA-125 mencapai 1.500 U/mL. Ultrasonografi memperlihatkan lesi kistik dengan gambaran khas ground glass appearance tanpa komponen solid yang mengarah pada diagnosis endometrioma. Namun, temuan intraoperatif berupa adhesi luas menimbulkan kecurigaan kuat terhadap keganasan ovarium. Pemeriksaan frozen section menunjukkan lesi jinak yang konsisten dengan endometrioma dan selanjutnya dikonfirmasi melalui pemeriksaan histopatologi definitif tanpa ditemukan tanda keganasan. Pasien menjalani histerektomi total dan salpingo-ooforektomi unilateral, diikuti terapi agonis GnRH pascaoperasi. Kasus ini menunjukkan bahwa endometrioma ovarium dapat menyerupai keganasan ovarium, terutama pada kondisi dengan kadar CA-125 yang sangat tinggi. Pemeriksaan histopatologi tetap merupakan standar emas dalam menegakkan diagnosis definitif. Pendekatan diagnostik yang komprehensif dan individual diperlukan untuk menghindari tindakan yang tidak perlu serta mengoptimalkan luaran pasien.
SPEKTRUM PLASENTA AKRETA DENGAN KOMPLIKASI APENDISITIS AKUT PADA KEHAMILAN ATERM DENGAN TIGA RIWAYAT SEKSIO SESAREA SEBELUMNYA: LAPORAN KASUS: PLACENTA ACCRETA SPECTRUM COMPLICATED BY ACUTE APPENDICITIS IN A TERM PREGNANCY WITH THREE PREVIOUS CESAREAN DELIVERIES: A CASE REPORT Andhika Budi Sentoso; Ronny Ajartha Tarigan; Nazua Maulida Rahma
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1266

Abstract

Placenta Accreta Spectrum (PAS) is characterized by abnormal placental adherence or invasion into the myometrium and is associated with significant maternal morbidity. It is one of the leading causes of life threatening postpartum hemorrhage, particularly among women with a history of repeated cesarean deliveries. A 32-year-old woman (G4P3A0) with a history of three previous cesarean deliveries was referred with suspected PAS based on ultrasonographic findings of abnormal placental implantation. The patient presented with severe lower abdominal pain accompanied by nausea and vomiting. Physical examination revealed stable hemodynamic status with a temperature of 38°C. Laboratory investigations demonstrated moderate anemia and leukocytosis with neutrophilia, suggestive of an inflammatory process. The patient underwent cesarean section with simultaneous appendectomy. Intraoperative findings demonstrated abnormal placental adherence suggestive of PAS and inflammatory changes of the appendix suggestive of acute appendicitis. Estimated blood loss was approximately 1200 mL, requiring transfusion of 3 units of packed red blood cells. A healthy male infant weighing 3100 g was delivered with Apgar scores of 8 and 10 at 1 and 5 minutes, respectively. The postoperative course was uneventful, and the patient was discharged in good condition on postoperative day five. PAS is strongly associated with repeated cesarean deliveries due to abnormal trophoblastic attachment and invasion at scarred uterine sites. Concurrent acute appendicitis during pregnancy is uncommon and may complicate diagnosis because of altered anatomical presentation. Early recognition of PAS risk factors and concurrent intra-abdominal pathologies, together with adequate perioperative preparation and multidisciplinary management, are essential to improve maternal and neonatal outcomes. AbstrakPlacenta Accreta Spectrum (PAS) ditandai dengan perlekatan atau invasi abnormal plasenta ke dalam miometrium dan berhubungan dengan morbiditas maternal yang signifikan. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab utama perdarahan postpartum yang mengancam jiwa, terutama pada wanita dengan riwayat operasi sesar berulang. Seorang wanita berusia 32 tahun (G4P3A0) dengan riwayat tiga kali persalinan melalui operasi sesar dirujuk dengan dugaan PAS berdasarkan temuan ultrasonografi berupa implantasi plasenta abnormal. Pasien datang dengan keluhan nyeri hebat di perut bagian bawah disertai mual dan muntah. Pemeriksaan fisik menunjukkan kondisi hemodinamik stabil dengan suhu tubuh 38°C. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia sedang dan leukositosis disertai neutrofilia yang mengarah pada proses inflamasi. Pasien menjalani operasi sesar disertai appendektomi simultan. Temuan intraoperatif menunjukkan perlekatan plasenta abnormal yang mengarah pada PAS serta perubahan inflamasi pada apendiks yang mengarah pada appendisitis akut. Estimasi perdarahan intraoperatif sekitar 1200 mL sehingga diperlukan transfusi 3 unit packed red blood cells (PRC). Seorang bayi laki-laki sehat dengan berat lahir 3100 gram dilahirkan dengan skor Apgar 8 dan 10 pada menit pertama dan kelima. Perjalanan pascaoperasi berlangsung tanpa komplikasi, dan pasien dipulangkan dalam kondisi baik pada hari kelima pascaoperasi. PAS berhubungan erat dengan riwayat operasi sesar berulang akibat perlekatan dan invasi trofoblas abnormal pada area jaringan parut uterus. Keberadaan appendisitis akut yang terjadi bersamaan selama kehamilan merupakan kondisi yang jarang dan dapat mempersulit diagnosis akibat perubahan anatomi selama kehamilan. Identifikasi dini faktor risiko PAS dan patologi intraabdomen yang menyertai, disertai persiapan perioperatif yang adekuat serta tata laksana multidisiplin, sangat penting untuk meningkatkan luaran maternal dan neonatal.