Access to healthcare services remains a major challenge in achieving equitable health outcomes in Indonesia, despite the implementation of the National Health Insurance (JKN) program. This study aimed to analyze the barriers to healthcare access experienced by communities as a basis for formulating responsive healthcare service policies. A qualitative descriptive approach was employed, involving six informants selected purposively from JKN participants who had experience accessing healthcare services. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and analyzed using data reduction, data display, and conclusion-drawing techniques. Source triangulation was applied to ensure data validity. The findings revealed four major barriers to healthcare access: geographical, economic, administrative, and health literacy barriers. Geographical and transportation issues, including long distances to healthcare facilities, inadequate road conditions, limited transportation options, and mobility constraints among older adults, emerged as the most prominent challenges. Economic burdens related to transportation costs, complex referral procedures, lengthy waiting times, and limited understanding of healthcare procedures further hindered healthcare utilization. These interconnected barriers contribute to persistent inequalities in healthcare access. The study concludes that healthcare policies should be context-specific and evidence-based, focusing on improving transportation infrastructure, simplifying administrative procedures, strengthening community-based health education, and providing greater support for vulnerable populations. Such efforts are essential to promote equitable and accessible healthcare services for all communities. AbstrakAkses terhadap layanan kesehatan masih menjadi tantangan utama dalam mewujudkan pemerataan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia meskipun Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kendala akses layanan kesehatan yang dialami masyarakat sebagai dasar perumusan kebijakan pelayanan kesehatan yang responsif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Informan penelitian berjumlah enam orang yang dipilih secara purposive, yaitu masyarakat peserta JKN yang pernah mengakses layanan kesehatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam menggunakan pedoman semi-terstruktur dan dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat kendala utama dalam akses layanan kesehatan, yaitu kendala geografis, ekonomi, administratif, dan literasi kesehatan. Kendala geografis dan transportasi berupa jarak fasilitas kesehatan yang jauh, kondisi jalan yang kurang memadai, keterbatasan sarana transportasi, serta keterbatasan mobilitas pada kelompok lansia menjadi hambatan yang paling dominan. Selain itu, biaya transportasi, prosedur administrasi yang kompleks, antrean pelayanan yang panjang, serta rendahnya pemahaman masyarakat mengenai prosedur dan hak pelayanan kesehatan turut memengaruhi pemanfaatan layanan kesehatan. Berbagai kendala tersebut saling berkaitan dan memperkuat ketimpangan akses layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang kontekstual dan berbasis kebutuhan masyarakat melalui peningkatan infrastruktur transportasi, penyederhanaan prosedur pelayanan, penguatan edukasi kesehatan berbasis komunitas, serta perhatian khusus terhadap kelompok rentan. Upaya tersebut penting untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih adil, merata, dan mudah diakses oleh seluruh masyarakat.