Putusnya hubungan asmara yang terjalin lama pada masa dewasa awal kerap kali menimbulkan penderitaan emosional yang berat, sehingga menempatkan individu pada risiko tinggi mengalami kesepian yang mendalam. Penelitian ini dirancang untuk menguji secara empiris dampak simultan maupun parsial dari gaya kelekatan (attachment style) dan welas diri (self-compassion) terhadap tingkat kesepian yang dirasakan oleh individu dewasa awal pasca-putus cinta di Kabupaten Karawang. Menggunakan pendekatan kuantitatif kausalitas, data dihimpun dari 204 responden (berusia 18–25 tahun) yang mengalami putus hubungan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, dengan usia jalinan asmara sebelumnya minimal dua tahun. Penarikan sampel dilakukan melalui metode non-probability purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan adaptasi dari UCLA Loneliness Scale Version 3, Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA), serta Self-Compassion Scale (SCS). Haasil analisis regeresi linear berganda menunjukkan bahwa attachment style dan self - compassion secara bersama - sama memberikan kontribusi sebesar 49,9% terhadap varians kesepian (F = 103,152; p < 0,001). Secara parsial, gaya kelekatan (khususnya kelekatan tidak aman) membawa pengaruh positif yang signifikan terhadap kesepian (t = 10,901; p < 0,001), sementara welas diri menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan (t = -8,639; p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun gaya kelekatan tidak aman meningkatkan kerentanan terhadap isolasi pasca-putus hubungan, kemampuan welas diri yang kuat berfungsi sebagai mekanisme koping internal yang krusial dalam mereduksi kesepian.