Suyyinah Suyyinah
Universitas Islam Negeri Madura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reproduksi dan Transformasi Gender dalam Keluarga Madura: Perspektif Pendidikan Agama Islam Suyyinah Suyyinah; Mohammad Muchlis Solichin; Nasrullah Nasrullah
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/s89zaw53

Abstract

Keluarga merupakan institusi pendidikan pertama yang berperan penting dalam pembentukan nilai, identitas, dan relasi gender. Dalam masyarakat Madura, pendidikan agama Islam tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi ajaran keagamaan, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai budaya yang membentuk pemahaman mengenai peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga. Artikel ini bertujuan menganalisis reproduksi dan transformasi gender dalam keluarga Madura melalui perspektif pendidikan agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan mengkaji berbagai literatur yang relevan mengenai pendidikan agama Islam, gender, keluarga, dan masyarakat Madura. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens untuk menjelaskan hubungan antara struktur sosial dan agensi dalam pembentukan relasi gender. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam berperan sebagai struktur sosial yang mereproduksi nilai-nilai gender melalui proses sosialisasi dan internalisasi norma mengenai kepemimpinan laki-laki, pembagian peran keluarga, serta tanggung jawab domestik dan publik. Namun demikian, pendidikan agama Islam juga menjadi ruang transformasi gender ketika anggota keluarga melakukan negosiasi dan reinterpretasi terhadap nilai-nilai tersebut seiring meningkatnya akses pendidikan, partisipasi ekonomi perempuan, dan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Madura. Artikel ini menyimpulkan bahwa reproduksi dan transformasi gender berlangsung secara simultan melalui interaksi antara pendidikan agama Islam, budaya lokal, dan agensi anggota keluarga dalam merespons dinamika sosial kontemporer
TANEAN LANJENG SEBAGAI BASIS EPISTEMOLOGI LOKAL: REKONTEKSTUALISASI PARADIGMA INTEGRASI-INTERKONEKSI DI UIN MADURA Suyyinah Suyyinah; Atiqullah Atiqullah; Siswanto Siswanto; Nasrullah Nasrullah
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 2 (2026): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/nayx6c40

Abstract

Paradigma integrasi-interkoneksi yang dikembangkan oleh M. Amin Abdullah telah menjadi salah satu fondasi epistemologis dalam transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia. Paradigma ini berhasil mengurangi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum melalui pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner. Meskipun demikian, pengembangannya masih cenderung beroperasi pada tataran filosofis yang bersifat universal sehingga belum secara optimal mengakomodasi budaya lokal sebagai sumber epistemologi dalam konstruksi keilmuan Islam. Artikel ini bertujuan menganalisis potensi Tanean Lanjeng sebagai basis epistemologi lokal dalam merekontekstualisasi paradigma integrasi-interkoneksi di UIN Madura. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari karya-karya M. Amin Abdullah, literatur mengenai epistemologi lokal, serta kajian tentang Tanean Lanjeng dan budaya masyarakat Madura. Analisis dilakukan melalui pendekatan hermeneutik dan analisis konseptual untuk mengidentifikasi nilai-nilai epistemologis yang terkandung dalam Tanean Lanjeng serta relevansinya terhadap pengembangan paradigma keilmuan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanean Lanjeng tidak hanya merepresentasikan pola permukiman tradisional masyarakat Madura, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip epistemologis berupa religiusitas, komunalitas, keterhubungan, musyawarah, dan tanggung jawab sosial. Kelima nilai tersebut membentuk model produksi pengetahuan yang bersifat relasional, dialogis, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Temuan ini memperlihatkan bahwa budaya lokal dapat berfungsi sebagai sumber epistemologi yang memperkaya paradigma integrasi-interkoneksi. Artikel ini mengusulkan perluasan paradigma integrasi-interkoneksi melalui pengakuan terhadap dimensi budaya lokal sebagai sumber pengetahuan yang sah dalam pengembangan keilmuan Islam. Dengan demikian, rekontekstualisasi integrasi-interkoneksi berbasis Tanean Lanjeng menawarkan model pengembangan ilmu yang lebih kontekstual, inklusif, dan berakar pada pengalaman sosial budaya masyarakat.