Siswanto Siswanto
Universitas Islam Negeri Madura

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Membentuk Karakter Qur'ani: Analisis Nilai Ibadah dalam Buku One Day One Juz Maghfiratus Sholehah; Siswanto Siswanto
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 8 No. 2 (2026): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v8i2.734

Abstract

Pendidikan Agama Islam memiliki tujuan utama untuk membentuk pribadi manusia yang tidak hanya beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai proses pembinaan, salah satunya dengan membiasakan peserta didik untuk membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an. Kegiatan pembiasaan ini menjadi fondasi penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter Qur’ani, sehingga peserta didik mampu menginternalisasi ajaran Islam secara menyeluruh dalam sikap, perilaku, dan cara berpikirnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai-nilai ibadah dalam buku One Day One Juz serta relevansinya dengan tujuan Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter Qur'ani. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis kepustakaan (library research). Sumber data primer adalah buku One Day One Juz: Dahsyatnya Manfaat Membaca Al-Qur'an dan Kisah Inspiratif Odojers karya Miftah A. Malik dan ODOJ, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur relevan lainnya. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan dokumentasi, dianalisis menggunakan analisis isi, dan diuji keabsahannya melalui triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku One Day One Juz memuat nilai-nilai ibadah meliputi penguatan iman, ketenangan jiwa, perolehan pahala, peningkatan motivasi hidup, perlindungan dari perbuatan maksiat, peningkatan ilmu pengetahuan, kelapangan rezeki, dan petunjuk hidup. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi kuat dengan tujuan Pendidikan Agama Islam karena berkontribusi dalam membentuk karakter Qur'ani yang tercermin dalam keimanan, akhlakul karimah, dan kepribadian muslim. Dengan demikian, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan ibadah, tetapi juga sebagai media edukatif pembentukan karakter Qur'ani.  
Child Protection in Indonesian Islamic Boarding Schools: Between Compliance and Normative Coherence. A Systematic Literature Review Achmad Muzammil Alfan Nasrullah; Mohammad Muchlis Solichin; Siswanto Siswanto
FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol. 15 No. 01 (2026): FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jf.v15i01.1810

Abstract

Child protection in Indonesian pesantren remains structurally compromised by a normative gap between Islamic legal principles and state regulatory instruments, a gap distinct from mere enforcement failure. This systematic review synthesizes existing scholarship on this tension and proposes an integrative analytical framework grounded in maqāṣid al-sharīʻah. Following the PRISMA 2020 protocol, 51 peer-reviewed articles (2014–2025) were retrieved from Scopus, Web of Science, ERIC, and Dimensions and analyzed using a hybrid thematic-framework synthesis informed by Jasser Auda's systems approach to maqāṣid. Three disconnected literature streams were identified: empirical-structural studies documenting violence, compliance-oriented assessments of regulatory adherence, and maqāṣid-doctrinal analyses confined to family law, none of which integrates all three within the pesantren context. Applying a four-domain normative gap rubric to taʻzīr legitimacy, reporting mechanisms, kiai–santri power relations, and disciplinary boundaries, a composite gap score of 9.75/12 was obtained relative to Perdirjen 1262/2024, indicating a critical coherence deficit. The Beyond Compliance framework proposed here operates at three recursive levels, normative, institutional, and evaluative, arguing that effective child protection requires principled coherence between Islamic law and state regulation, not compliance with the latter alone. This constitutes the First PRISMA-based systematic review in internationally indexed databases that integrates maqāṣid al-sharīʻah with pesantren child protection scholarship, and the first peer-reviewed evaluation of Perdirjen 1262/2024. Findings carry direct implications for pesantren policy reform and Islamic jurisprudence on child welfare
TANEAN LANJENG SEBAGAI BASIS EPISTEMOLOGI LOKAL: REKONTEKSTUALISASI PARADIGMA INTEGRASI-INTERKONEKSI DI UIN MADURA Suyyinah Suyyinah; Atiqullah Atiqullah; Siswanto Siswanto; Nasrullah Nasrullah
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 2 (2026): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/nayx6c40

Abstract

Paradigma integrasi-interkoneksi yang dikembangkan oleh M. Amin Abdullah telah menjadi salah satu fondasi epistemologis dalam transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia. Paradigma ini berhasil mengurangi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum melalui pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner. Meskipun demikian, pengembangannya masih cenderung beroperasi pada tataran filosofis yang bersifat universal sehingga belum secara optimal mengakomodasi budaya lokal sebagai sumber epistemologi dalam konstruksi keilmuan Islam. Artikel ini bertujuan menganalisis potensi Tanean Lanjeng sebagai basis epistemologi lokal dalam merekontekstualisasi paradigma integrasi-interkoneksi di UIN Madura. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari karya-karya M. Amin Abdullah, literatur mengenai epistemologi lokal, serta kajian tentang Tanean Lanjeng dan budaya masyarakat Madura. Analisis dilakukan melalui pendekatan hermeneutik dan analisis konseptual untuk mengidentifikasi nilai-nilai epistemologis yang terkandung dalam Tanean Lanjeng serta relevansinya terhadap pengembangan paradigma keilmuan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanean Lanjeng tidak hanya merepresentasikan pola permukiman tradisional masyarakat Madura, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip epistemologis berupa religiusitas, komunalitas, keterhubungan, musyawarah, dan tanggung jawab sosial. Kelima nilai tersebut membentuk model produksi pengetahuan yang bersifat relasional, dialogis, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Temuan ini memperlihatkan bahwa budaya lokal dapat berfungsi sebagai sumber epistemologi yang memperkaya paradigma integrasi-interkoneksi. Artikel ini mengusulkan perluasan paradigma integrasi-interkoneksi melalui pengakuan terhadap dimensi budaya lokal sebagai sumber pengetahuan yang sah dalam pengembangan keilmuan Islam. Dengan demikian, rekontekstualisasi integrasi-interkoneksi berbasis Tanean Lanjeng menawarkan model pengembangan ilmu yang lebih kontekstual, inklusif, dan berakar pada pengalaman sosial budaya masyarakat.
Rekonstruksi Moderasi Beragama Perspektif Al-Ghazali: Manifestasi Etika Spiritual sebagai Strategi Deradikalisasi Sholihin Sholihin; Siswanto Siswanto; Atiqullah Atiqullah
Cendekiawan : Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol 5 No 2 (2026): June: Multiple Intelligences of Students in Formal, Informal, and Nonformal Educa
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/cendekiawan.v5i2.999

Abstract

Radikalisme agama kontemporer sering kali didekati melalui perspektif keamanan (security approach) yang bersifat formalistik, namun pendekatan ini kerap gagal menyentuh akar permasalahan yang bersifat epistemologis dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep moderasi beragama melalui pemikiran Imam Al-Ghazali, dengan menitikberatkan pada manifestasi etika spiritual sebagai strategi deradikalisasi. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan teknik analisis hermeneutika filosofis terhadap karya monumental Ihya’ Ulumuddin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa radikalisme merupakan manifestasi dari "penyakit hati" (amradz al-qulub) dan ketidakseimbangan daya jiwa. Al-Ghazali menawarkan tiga pilar utama dalam deradikalisasi: Muhasabah (introspeksi untuk meruntuhkan arogansi teologis), Mahabbah (cinta kasih untuk menghapus kebencian terhadap liyan), dan Riyadhah al-Nafs (pelatihan jiwa untuk menjinakkan agresivitas). Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis antara dimensi psikologi-sufistik dengan upaya deradikalisasi modern. Disimpulkan bahwa moderasi yang efektif tidak dapat dipaksakan melalui regulasi luar, melainkan harus tumbuh secara organik melalui transformasi batin dan kesehatan mental-spiritual, sehingga mampu menciptakan ketahanan ideologis yang permanen dan substantif.
Reconstruction of Islamic Education Curriculum Based on Tawhid: Epistemological Analysis of Al-Ghazali's Thought Achmad Muzammil Alfan Nasrullah; Siswanto Siswanto; Atiqullah Atiqullah
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 9 No. 2 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v9i2.3436

Abstract

Contemporary Islamic education faces an epistemological crisis characterized by a dichotomy between religious and general knowledge, as well as the dominance of a secular paradigm that separates the values of monotheism from the learning process. This crisis is rooted in the weak philosophical foundation of the curriculum, which is no longer based on a holistic Islamic worldview. This study aims to analyze the epistemological concept of the monotheism-based Islamic education curriculum in the thoughts of Imam Al-Ghazali, examine the relationship between reason, revelation, and intuition (kashf) in curriculum reconstruction, and identify the contribution of Al-Ghazali's thought in building a holistic and integrative curriculum paradigm in the modern era. This study uses a descriptive qualitative approach with a library research type. Data collection techniques are carried out through documentation of Al-Ghazali's primary works, especially Ihya' Ulumuddin, Mi'yar al-'Ilm, Tahafut al-Falasifah, and Al-Munqidz min al-Dhalal, as well as secondary data in the form of journal articles and relevant books. The data analysis technique uses content analysis with a critical discourse analysis model to uncover the epistemological structure of Al-Ghazali's thought. Based on the description above, this study produces four conclusions. First, the epistemological concept of the Islamic education curriculum based on tawhid in Al-Ghazali's thought is built on the foundation of tawhid as the highest integrating principle that unites all domains of knowledge. Al-Ghazali rejects the separation of religious knowledge and general knowledge, classifying knowledge into fardhu 'ain and fardhu kifayah as a functional differentiation, not a dichotomy. This tawhid epistemology requires the integration of transcendental, cognitive, and moral goals. Second, the triadic relationship between reason, revelation, and spiritual intuition (kashf) is the main pillar of curriculum reconstruction. The three are not hierarchical and mutually exclusive, but rather complement and validate each other, with intuition as the highest validation. Third, Al-Ghazali's criticism of the secular curriculum is highly relevant, especially his criticism of the extreme rationalism of philosophers who ignore revelation. Fourth, Al-Ghazali's contribution to developing a holistic and integrative curriculum paradigm is reflected in the integration of cognitive, affective, and psychomotor aspects. This study recommends reconstructing an Islamic education curriculum that is monotheistic, integrative, and oriented toward the formation of a perfect human being.