Rafli Maulana Damarasyah
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Integratif Industrialisasi Modern dalam Pengembangan Industri Daerah: Sinergi Teknologi, Sumber Daya Manusia, Kebijakan, dan Pasar Muhammad Faiz Aulia Zuhud; Rafli Maulana Damarasyah; Muhamad Yasin
Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen Indonesia Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI -JUNI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/1wd8fq19

Abstract

Modern industrialization is one of the primary strategies for driving economic growth and regional industrial development amidst the dynamics of globalization and digital transformation. The success of industrialization is determined not only by technological adoption but is also influenced by the quality of human resources, government policy support, and the ability to access markets effectively. This study aims to analyze an integrative model of modern industrialization that combines four main components—technology, human resources, policy, and markets—in supporting regional industrial development. The research method used is a literature review (library research) with a descriptive-analytical approach. Data were obtained from scientific journals, academic books, and official reports relevant to industrialization, economic development, and industrial management. The findings indicate that the success of modern industrialization requires the simultaneous integration of technological innovation, human resource capacity building, adaptive policies, and market access expansion. The integration of these four components is capable of enhancing productivity, industrial competitiveness, job creation, and sustainable regional economic growth. Therefore, local governments need to develop industrial policies integrated with digital transformation, workforce competence strengthening, and the development of a competitive market ecosystem to support modern industrialization.
PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA 5 TAHUN KEBELAKANG Fauziah Ramadhani; Jenny Dwi Nur Faizah; Auwen Defendi; Salwa Alya Achmad; Farida Sasi Febrianty; Ahmad Rizky Aryanto; Rafli Maulana Damarasyah; Rizki Himawan Saputra; Arga Christian Sitohang
ECONOMOS Vol 6 No 02 (2026): EKONOMI DAN BISNIS
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/grjb.v6i02.2938

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika keterkaitan antara tingkat pendidikan dan kondisi pasar kerja di Indonesia melalui analisis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) periode tahun 2021 hingga 2025. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, penelitian ini menerapkan metode analisis tren dan deskriptif-komparatif untuk memetakan sebaran pengangguran pada delapan kategori jenjang pendidikan formal. Hasil penelitian menunjukkan adanya anomali struktural dalam pembangunan ekonomi nasional. Meskipun volume pengangguran agregat secara nasional mengalami penurunan, beban pengangguran justru terdistribusi secara timpang dan bergeser pada kelompok berpendidikan menengah ke atas. Lulusan SLTA Umum/SMU dan SLTA Kejuruan/SMK secara konsisten mengukuhkan posisi sebagai episenter pengangguran dengan kontribusi akumulatif melebihi 56% dari total penganggur terbuka pada tahun 2025. Pada saat yang sama, terjadi lonjakan kronis pada pengangguran lulusan Universitas (S1) sebesar 34,29% pasca-pandemi, yakni dari 673.485 jiwa pada tahun 2022 menjadi 904.440 jiwa pada 2025. Sebaliknya, kelompok berpendidikan rendah (SD dan SLTP) mencatatkan penurunan pengangguran yang konsisten karena reservation wage yang rendah memaksa mereka terserap ke sektor informal yang fleksibel. Temuan ini mengonfirmasi relevansi Job Search Theory dan Signaling Theory, yang mengindikasikan adanya structural mismatch kronis antara kompetensi pasokan tenaga kerja terdidik dengan kebutuhan riil dunia industri modern. Implikasi kebijakan dari studi ini menuntut pergeseran orientasi kurikulum pendidikan dari supply-driven menjadi demand-driven serta penguatan stimulus investasi pada industri berbasis pengetahuan.