Penelitian ini mengkaji dinamika keterkaitan antara tingkat pendidikan dan kondisi pasar kerja di Indonesia melalui analisis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) periode tahun 2021 hingga 2025. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, penelitian ini menerapkan metode analisis tren dan deskriptif-komparatif untuk memetakan sebaran pengangguran pada delapan kategori jenjang pendidikan formal. Hasil penelitian menunjukkan adanya anomali struktural dalam pembangunan ekonomi nasional. Meskipun volume pengangguran agregat secara nasional mengalami penurunan, beban pengangguran justru terdistribusi secara timpang dan bergeser pada kelompok berpendidikan menengah ke atas. Lulusan SLTA Umum/SMU dan SLTA Kejuruan/SMK secara konsisten mengukuhkan posisi sebagai episenter pengangguran dengan kontribusi akumulatif melebihi 56% dari total penganggur terbuka pada tahun 2025. Pada saat yang sama, terjadi lonjakan kronis pada pengangguran lulusan Universitas (S1) sebesar 34,29% pasca-pandemi, yakni dari 673.485 jiwa pada tahun 2022 menjadi 904.440 jiwa pada 2025. Sebaliknya, kelompok berpendidikan rendah (SD dan SLTP) mencatatkan penurunan pengangguran yang konsisten karena reservation wage yang rendah memaksa mereka terserap ke sektor informal yang fleksibel. Temuan ini mengonfirmasi relevansi Job Search Theory dan Signaling Theory, yang mengindikasikan adanya structural mismatch kronis antara kompetensi pasokan tenaga kerja terdidik dengan kebutuhan riil dunia industri modern. Implikasi kebijakan dari studi ini menuntut pergeseran orientasi kurikulum pendidikan dari supply-driven menjadi demand-driven serta penguatan stimulus investasi pada industri berbasis pengetahuan.