Agustiawan
Fakultas Kedokteran, Institut Kesehatan Helvetia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EFEKTIVITAS PROBIOTIK SEBAGAI TERAPI ADJUVAN PADA ANSIETAS DAN DEPRESI: TINJAUAN SISTEMATIK RANDOMIZED CONTROLLED TRIAL: EFFECTIVENESS OF PROBIOTICS AS ADJUVANT THERAPY IN ANXIETY AND DEPRESSION: A SYSTEMATIC REVIEW OF RANDOMIZED CONTROLLED TRIALS Zayadha Hazrini; Muhammad Iqbal Rezki Hasibuan; Muhammad Jailani Alfajri; Aulia Putri Adila; Agustiawan
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i2.1155

Abstract

Ansietas dan depresi merupakan gangguan mental yang prevalensinya terus meningkat secara global dan menimbulkan beban signifikan terhadap kualitas hidup. Respons yang tidak optimal terhadap terapi konvensional mendorong eksplorasi terapi tambahan, termasuk probiotik, yang bekerja melalui modulasi gut–brain axis. Artikel ini menilai peran probiotik dalam manajemen ansietas dan depresi berdasarkan bukti ilmiah terkini. Tinjauan sistematik ini disusun mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, Google Scholar, dan SagePub untuk artikel original berbahasa Inggris yang diterbitkan antara tahun 2016–2026. Studi yang disertakan adalah uji klinis terkontrol acak yang mengevaluasi efek probiotik terhadap luaran ansietas dan/atau depresi. Artikel tinjauan pustaka, meta-analisis, editorial, laporan kasus, dan publikasi tanpa DOI dikecualikan. Sebanyak sembilan artikel memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas studi melaporkan perbaikan gejala depresi dan/atau ansietas pada kelompok probiotik dibandingkan kontrol, meskipun signifikansi statistik bervariasi. Efek yang lebih konsisten ditemukan pada pasien dengan gangguan depresi dibandingkan populasi sehat. Probiotik berpotensi menjadi terapi adjuvan yang aman dan menjanjikan dalam manajemen ansietas dan depresi, namun diperlukan penelitian lanjutan berskala besar untuk memastikan efektivitas dan menentukan protokol optimal.
PERAN ORFORGLIPRON DALAM TATALAKSANA PASIEN DENGAN OBESITAS: THE ROLE OF ORFORGLIPRON IN THE MANAGEMENT OF PATIENTS WITH OBESITY Sugianto Mukmin; Amanda Trixie Hardigaloeh; Dira Wahyuni Siregar; Ermawati MH Siregar; Agustiawan
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i2.1231

Abstract

Obesitas merupakan penyakit kronis multifaktorial yang ditandai oleh akumulasi lemak berlebih yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiometabolik. Terapi yang tersedia saat ini masih memiliki keterbatasan, baik dari sisi efektivitas jangka panjang maupun kepatuhan pasien. Orforglipron merupakan agonis reseptor GLP-1 oral non-peptida yang dikembangkan sebagai alternatif terapi obesitas yang lebih praktis. Tinjauan ini bertujuan untuk mengevaluasi peran orforglipron dalam tatalaksana obesitas berdasarkan bukti ilmiah terkini. Metode yang digunakan berupa penelusuran literatur dari uji klinis fase 2 dan fase 3 yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orforglipron mampu menurunkan berat badan secara signifikan, dengan rerata penurunan sekitar 7,8–12,4% pada studi fase 3 dan hingga 14,7% pada dosis tertinggi studi fase 2. Selain itu, terapi ini juga memperbaiki parameter metabolik seperti kadar glukosa darah, HbA1c, dan lingkar pinggang. Mekanisme kerja orforglipron melibatkan aktivasi reseptor GLP-1 yang meningkatkan sekresi insulin, memperlambat pengosongan lambung, dan menekan nafsu makan. Efek samping yang paling sering dilaporkan berupa gangguan gastrointestinal dan umumnya dapat ditoleransi. Secara klinis, orforglipron menunjukkan potensi sebagai terapi oral yang efektif dan praktis untuk membantu penurunan berat badan pada pasien obesitas maupun overweight dengan komorbid metabolik. Namun, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan keamanan jangka panjang dan posisi optimalnya dalam algoritma terapi obesitas.
ANALISIS ELEKTROKARDIOGRAFI SERIAL PADA KASUS WELLENS SYNDROME TIPE B: SERIAL ELECTROCARDIOGRAPHIC ANALYSIS IN A CASE OF TYPE B WELLENS SYNDROME Agustiawan; Juwanto
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i2.1232

Abstract

Wellens syndrome merupakan pola elektrokardiografi khas yang mengindikasikan adanya stenosis kritis pada arteri left anterior descending (LAD) dan berisiko tinggi berkembang menjadi infark miokard anterior luas. Kondisi ini sering tidak disertai elevasi segmen ST sehingga dapat terlewatkan dalam praktik klinis. Publikasi kasus Wellens syndrome masih relatif jarang dilaporkan di Indonesia, padahal pengenalan dini terhadap pola elektrokardiografi khas ini sangat penting untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan terjadinya kerusakan miokard yang lebih luas. Kami melaporkan seorang laki-laki usia 59 tahun dengan keluhan nyeri dada kiri yang memberat, menjalar ke punggung, dan disertai keringat dingin. Pasien memiliki faktor risiko berupa merokok berat, diabetes melitus tidak terkontrol, dan aktivitas fisik rendah. Pemeriksaan elektrokardiografi serial menunjukkan inversi gelombang T pada lead anteroseptal khas untuk Wellens syndrome tipe B. Peningkatan troponin membuat diagnosis NSTEMI dengan Wellens syndrome ditegakkan. Pasien mendapatkan terapi optimal sesuai pedoman berupa antiplatelet ganda, antikoagulan, statin, beta blocker, dan nitrat dengan perbaikan klinis. Kasus ini menegaskan pentingnya pengenalan dini Wellens syndrome melalui interpretasi EKG yang cermat untuk mencegah terjadinya infark miokard anterior luas melalui intervensi yang tepat waktu.
HIPERGLIKEMIA DAN EARLY NEUROLOGICAL DETERIORATION SETELAH TROMBOLISIS PADA STROKE ISKEMIK AKUT: LAPORAN KASUS: HYPERGLYCEMIA AND EARLY NEUROLOGIC DETERIORATION AFTER THROMBOLYSIS IN ACUTE ISCHEMIC STROKE: A CASE REPORT Novia Aiko; Agustiawan; Nurul Izzaty Rery
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 26 No. 1 (2027): Januari 2027
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v26i1.1316

Abstract

Early neurological deterioration (END) merupakan komplikasi yang dapat terjadi setelah intravenous recombinant tissue plasminogen activator (IV-rtPA) pada stroke iskemik akut dan berhubungan dengan luaran klinis yang buruk. Hiperglikemia diketahui berperan dalam memperburuk cedera iskemik dan diduga meningkatkan risiko END, meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami. Seorang perempuan berusia 49 tahun datang dengan hemiparesis dekstra dan disartria yang timbul mendadak. Pemeriksaan awal menggunakan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) menunjukkan skor 8. Pasien memenuhi kriteria terapi IV-rtPA dan mengalami perbaikan neurologis awal dengan penurunan NIHSS menjadi 3 satu jam setelah trombolisis, kemudian menjadi 1 pada evaluasi 24 jam. Namun, pada hari kelima perawatan terjadi END dengan peningkatan NIHSS menjadi 10 disertai hiperglikemia persisten (HbA1c 8,7% dan glukosa darah tidak terkontrol selama perawatan). Evaluasi klinis dan penunjang tidak menunjukkan bukti perdarahan intrakranial maupun penyebab lain yang jelas terhadap perburukan neurologis. Kasus ini menunjukkan bahwa hiperglikemia persisten dapat berkontribusi terhadap terjadinya END setelah terapi IV-rtPA pada stroke iskemik akut. Pemantauan dan pengendalian glukosa darah secara ketat selama fase akut merupakan bagian penting dari tata laksana pasien untuk mengoptimalkan luaran neurologis.