This Author published in this journals
All Journal Jurnal Mitrasehat
Jinny Graselia
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DETERMINAN STATUS GIZI REMAJA SMP: STUDI KASUS JENIS KELAMIN, USIA, DAN INDIKATOR SOSIAL EKONOMI KELUARGA Andi Sani Silwanah; Nurleli; Jinny Graselia; Andi Amal Sakti
Jurnal Mitrasehat Vol. 16 No. 2 (2026): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v16i2.727

Abstract

Latar belakang: Remaja menghadapi tantangan beban ganda malnutrisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor determinan selama masa pertumbuhan pesat. Kondisi status gizi pada usia sekolah menengah pertama menjadi indikator penting bagi kesehatan di masa dewasa mendatang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan status gizi remaja sekolah menengah pertama dengan memfokuskan pada pengaruh jenis kelamin, usia, dan indikator sosial-ekonomi keluarga. Metode: Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional ini dilaksanakan di SMPN 52 Makassar. Sampel berjumlah 188 remaja yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran antropometri (IMT/U) dan pengisian kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki status gizi normal (63,8%), namun terdapat prevalensi overweight sebesar 21,3% dan gizi kurang sebesar 14,9%. Analisis bivariat mengungkapkan adanya hubungan signifikan antara jenis kelamin (p=0,012) dan usia (p=0,027) terhadap status gizi. Sebaliknya, indikator sosial-ekonomi keluarga berupa penghasilan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,985) terhadap status gizi remaja. Kesimpulan: Jenis kelamin dan usia merupakan determinan utama status gizi remaja di SMPN 52 Makassar, sementara faktor ekonomi tidak lagi menjadi penentu dominan dalam fenomena transisi gizi di perkotaan.