Rapid advances in digital technology have increased gadget use among adolescents, which has the potential to lead to addiction and impact academic, social, and psychological aspects. This study aims to screen for levels of gadget addiction and evaluate the effectiveness of educational interventions in improving students’ knowledge regarding healthy gadget use. The study was conducted with 89 students at SMA Negeri 1 Ambarawa using a pre–post design without a control group. The instruments used were the short version of the Smartphone Addiction Scale (SAS-SV) questionnaire and pre- and post-education knowledge questionnaires. The screening results showed that the majority of respondents fell into the high gadget addiction category (65.2%), while 34.8% were in the low category. These findings indicate a high level of gadget dependence among adolescents. Following the educational session, there was an increase in students’ knowledge, as evidenced by a shift toward more adaptive categories of gadget use. The education provided proved effective in raising students’ awareness of the negative impacts of excessive gadget use, although behavioral changes were not yet optimal.Theoretically, increased knowledge is the first step toward behavioral change; however, sustained interventions are needed to produce more significant changes. Limitations of this study include the absence of a control group, the use of self-report instruments, and the short duration of the intervention. Therefore, it is recommended to develop a structured educational program, involve parents and schools, and use more comprehensive evaluation methods. This screening and education initiative has the potential to serve as a promotive-preventive intervention model for reducing gadget addiction among adolescents. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat telah meningkatkan penggunaan gadget pada remaja, yang berpotensi menimbulkan kecanduan dan berdampak pada aspek akademik, sosial, dan psikologis. Studi ini bertujuan untuk melakukan skrining tingkat kecanduan gadget serta mengevaluasi efektivitas edukasi dalam meningkatkan pengetahuan siswa terkait penggunaan gadget yang sehat. Kegiatan dilaksanakan pada 89 siswa di SMA Negeri 1 Ambarawa menggunakan pendekatan pre–post tanpa kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Smartphone Addiction Scale versi singkat (SAS-SV) serta kuesioner pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hasil skrining menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori kecanduan gadget tinggi (65,2%), sedangkan 34,8% berada pada kategori rendah. Temuan ini menunjukkan tingginya tingkat ketergantungan gadget pada remaja. Setelah diberikan edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan siswa yang ditunjukkan melalui perubahan distribusi kategori penggunaan gadget yang lebih adaptif. Edukasi yang diberikan terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa terhadap dampak negatif penggunaan gadget berlebihan, meskipun perubahan perilaku belum optimal. Secara teoritis, peningkatan pengetahuan merupakan langkah awal dalam perubahan perilaku, namun diperlukan intervensi berkelanjutan untuk menghasilkan perubahan yang lebih signifikan. Keterbatasan kegiatan ini meliputi tidak adanya kelompok kontrol, penggunaan instrumen self-report, serta durasi intervensi yang singkat. Oleh karena itu, direkomendasikan pengembangan program edukasi yang terstruktur, pelibatan orang tua dan sekolah, serta penggunaan metode evaluasi yang lebih komprehensif. Kegiatan skrining dan edukasi ini berpotensi menjadi model intervensi promotif-preventif dalam mengurangi kecanduan gadget pada remaja.