Industri Hasil Tembakau (IHT) di Kabupaten Ngawi menunjukkan kondisi yang paradoksal. Pada sektor hulu, produksi tembakau mengalami peningkatan, ditunjukkan oleh bertambahnya luas areal tanam dari 1.401 hektare pada tahun 2022 menjadi 1.672 hektare pada tahun 2024. Namun, perkembangan tersebut belum diikuti oleh penguatan sektor hilir. Sebaliknya, sektor hilir mengalami tekanan yang ditandai dengan penurunan investasi PMDN sebesar 93,92% serta berkurangnya jumlah pabrik rokok kecil. Kondisi ini mencerminkan adanya ketimpangan struktural dalam rantai nilai, di mana petani masih berperan sebagai pemasok bahan baku dengan posisi tawar lemah, sementara nilai tambah lebih banyak dinikmati di luar daerah. Permasalahan utama yang diidentifikasi adalah belum terbentuknya identitas kolektif dan strategi place branding yang kuat bagi tembakau Ngawi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan membangun place branding berbasis komunitas di Kawasan Tembakaurejo, Desa Rejomulyo, sebagai upaya memperkuat daya saing komoditas dan citra wilayah. Metode pelaksanaan mengintegrasikan pendekatan rantai nilai, pendekatan partisipatif, dan manajemen strategis pemasaran. Kegiatan dilaksanakan pada November–Desember 2025 di tujuh kecamatan sentra produksi tembakau, dengan melibatkan 30 peserta dari Gapoktan, IKM pengolahan tembakau, dan dinas terkait. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa intervensi branding mendorong terbentuknya kesepakatan kolektif untuk menjadikan varietas unggul lokal Purwosoto dan tradisi budidaya sebagai inti narasi merek bersama. Analisis rantai nilai menunjukkan titik kritis pada aspek logistik keluar dan pemasaran, sedangkan pemetaan persaingan memperlihatkan bahwa IKM lokal masih terjebak dalam kompetisi harga akibat lemahnya identitas merek. Strategi branding dirumuskan melalui penguatan identitas produk, redesain kemasan sebagai silent salesman, dan optimalisasi komunikasi digital. Kegiatan ini menegaskan bahwa pembangunan brand awareness menjadi langkah strategis bagi IHT Ngawi untuk bertransformasi menuju produk bernilai tambah.