Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Interaksi Teman Sebaya Terhadap Etika Berkomunikasi pada Anak Usia 6-11 Tahun di Lingkungan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Annisa Rahmadiani; Kiran Aprillia Victorisintya Visser; Zafira Putri Andika; Raja Oloan Tumanggor
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 6 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i6.2747

Abstract

Penelitian ini membahas pengaruh teman sebaya terhadap etika berkomunikasi pada anak usia 6–11 tahun di RPTRA Satria Jelambar, sekaligus melihat bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi yang sopan pada anak. Hal ini dilatarbelakangi oleh pentingnya etika dalam berkomunikasi, terutama di era sekarang ketika penggunaan bahasa yang kurang sopan dan rendahnya rasa menghargai orang lain mulai sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen melalui pengukuran sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) kegiatan. Partisipan dalam penelitian ini adalah 14 anak usia 6–11 tahun yang mengikuti kegiatan di RPTRA Satria Jelambar. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Social Skills Improvement System (SSIS) yang mencakup aspek kerja sama, komunikasi, sikap tegas, tanggung jawab, empati, keterlibatan, dan pengendalian diri. Dalam penelitian ini juga dilakukan tiga kegiatan utama, yaitu psikoedukasi tentang etika berkomunikasi, permainan kelompok Flash and Act, dan Emotional Mapping. Data kemudian dianalisis menggunakan uji t-test untuk melihat perbedaan hasil sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan sosial anak setelah mengikuti kegiatan. Ini menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukan secara edukatif dan menyenangkan dapat membantu anak lebih memahami dan menerapkan etika berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari
Job Boredom and Counterproductive Work Behavior: The Moderating Role of Self-Control (A Study on Civil Servants of the Provincial Government of “X”) Thenisia Warinta; P. Tommy Y. S. Suyasa; Raja Oloan Tumanggor
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 1 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i1.52583

Abstract

State Civil Apparatus (ASN) remains one of the most sought-after professions in Indonesia. In carrying out their duties, ASN are bound by laws and regulations, particularly those regarding ASN discipline. Data from the State Civil Service Agency indicate that ASN disciplinary violations throughout 2024 reached 4,195 cases. This study investigates the relationship between job boredom and counterproductive work behavior (CWB) among civil servants in Indonesia, while examining the moderating role of self-control. Amid high rates of disciplinary violations among State Civil Apparatus (ASN), there is a pressing need to understand the psychological drivers of these detrimental workplace behaviors. The research aims to determine whether job boredom predicts CWB and whether an individual’s self-control can mitigate this relationship. Using a quantitative correlational approach, the study collected data from 185 civil servants (109 males and 76 females, aged 24–58 years) in the Provincial Government of "X" via questionnaires measuring job boredom, self-control, and interpersonal and organizational CWB. The results showed that job boredom has a positive and significant influence on counterproductive work behavior, both interpersonally (PKK-I) and organizationally (PKK-O). Self-control was also found to significantly moderate the relationship between job boredom and counterproductive work behavior. The results of this study are expected to provide better insight into alternative recruitment and training strategies for employees, especially civil servants in Indonesia.
Landasan Etis Undang-Undang No 23 Tahun 22 Mengenai Pendidikan dan Layanan Psikologi Raja Oloan Tumanggor
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i4.16612

Abstract

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022 tentang Pendidikan dan Pelayanan Psikologi merupakan payung hukum yang mengatur pelayanan dan pendidikan psikologi di Indonesia. Tujuan utama undang-undang ini adalah untuk melindungi masyarakat dan memastikan bahwa pelayanan psikologi yang diberikan berkualitas tinggi dan beretika. Dalam konteks praktik dan pendidikan psikologi, landasan etika sangat penting. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi landasan etika yang terkandung dalam undang-undang ini dan bagaimana prinsip-prinsip etika tersebut berfungsi dalam menjaga integritas praktik psikologi. Studi ini menggunakan metode kualitatif berdasarkan literatur dan observasi. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dan disajikan secara teratur mengikuti alur dan pola pikir yang terkandung dalam tema yang dibahas. Ini berarti bahwa komponen reduksi data dan penyajian data dilakukan secara bersamaan dengan proses pengumpulan data. Setelah pengumpulan data, ketiga komponen analisis (reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi) berinteraksi satu sama lain. Dengan menggunakan metode tinjauan pustaka, berbagai sumber primer hukum dan sumber sekunder yang berkaitan dengan landasan etika yang terkandung dalam undang-undang akan dianalisis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa undang-undang tersebut menekankan prinsip-prinsip etika seperti kemurahan hati, keadilan, otonomi, tanggung jawab, perlindungan klien yang rentan, serta pengawasan dan penegakan hukum. Prinsip-prinsip etika ini sangat penting untuk menjunjung tinggi pendidikan dan layanan psikologi guna memastikan manfaat psikologi benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan untuk kemajuan psikologi itu sendiri di masa depan.