Parlaungan Christoffel Simanjuntak
STT HKBP Pematangsiantar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kedai Kopi Gereja sebagai Ruang Penginjilan dan Pemberdayaan Jemaat Parlaungan Christoffel Simanjuntak
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.692

Abstract

Social and cultural transformations in the contemporary era require the Church to formulate mission strategies that are contextual without neglecting its core teachings. This study explores the integration of the practice of fellowship (hospitality), as a sacramental and communal expression, with the functions of modern public spaces such as coffee shops as a means of evangelism. In this context, fellowship is not an official liturgy as in formal worship services, but a form of communion that manifests contextually in informal spaces like coffee shops, where evangelistic and pastoral values can grow organically. This research aims to examine the potential of coffee shops as meeting spaces that support contextual evangelism and church ministry. The study employs a qualitative method with a literature review approach, analyzing books and journal articles related to church mission, contextual evangelism, and the presence of the church in social spaces. The findings indicate that coffee shops have the potential to serve as inclusive, dialogical, and strategic mission spaces for the contemporary Church in carrying out its evangelistic task. AbstrakTransformasi sosial dan budaya di era kontemporer menuntut Gereja untuk merumuskan strategi misi yang kontekstual tanpa mengabaikan ajaran intinya. Penelitian ini mengeksplorasi integrasi praktik persekutuan (hospitality) sebagai ekspresi sakramental dan komunal dengan fungsi ruang publik modern seperti coffee shop sebagai sarana penginjilan. Dalam konteks ini, persekutuan bukanlah liturgi resmi seperti dalam ibadah formal, melainkan bentuk kebersamaan yang hadir secara kontekstual dalam ruang informal seperti coffee shop, di mana nilai-nilai evangelistik dan pastoral dapat bertumbuh secara organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi coffee shop sebagai ruang perjumpaan yang mendukung penginjilan kontekstual dan pelayanan gereja. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, melalui analisis buku dan artikel jurnal yang berkaitan dengan misi gereja, penginjilan kontekstual, dan kehadiran gereja dalam ruang sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa coffee shop memiliki potensi sebagai ruang misi yang inklusif, dialogis, dan strategis bagi Gereja masa kini dalam menjalankan tugas penginjilannya.
Kutukilah Allahmu dan Matilah: Mendekonstruksi Narasi Istri Ayub sebagai Subjek Penderitaan dalam Perspektif Pastoral Parlaungan Christoffel Simanjuntak; Perlindungan Lugu
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.532

Abstract

The Book of Job presents the story of a righteous man who remains faithful to God amid intense suffering. However, the figure of Job’s wife is often marginalized in biblical interpretation and frequently portrayed negatively. Her statement, “Curse God and die” (Job 2:9), is commonly understood as an expression of unfaithfulness. Yet, the text implicitly reflects her own profound suffering, including the loss of her children, wealth, and future, within the patriarchal context of the Ancient Near East. Existing studies on Job’s wife remain largely dominated by reductive interpretations and rarely consider her as a subject of suffering within a pastoral framework. This gap indicates the need for a more integrative and empathetic approach. This study aims to reinterpret the statement of Job’s wife as part of the broader narrative of suffering. It employs a qualitative library research method using narrative criticism of Job 2:9, combined with Hebrew lexical analysis and feminist and pastoral perspectives. The findings suggest that her statement carries semantic ambiguity, allowing for alternative interpretations beyond a literal curse, including as an expression of existential anguish. Thus, Job’s wife can be understood as a subject who experiences trauma rather than merely a negative figure. This study contributes by integrating biblical, feminist, and pastoral approaches, offering a more empathetic and contextual reading of human suffering. AbstrakKitab Ayub menghadirkan kisah penderitaan seorang tokoh saleh yang tetap setia kepada Allah, namun sosok istri Ayub kerap ditempatkan di pinggiran narasi dan ditafsirkan secara negatif dalam berbagai studi biblika. Ucapannya, “Kutukilah Allahmu dan matilah” (Ayub 2:9), umumnya dipahami sebagai bentuk ketidaksetiaan iman. Sementara itu, teks juga secara implisit merekam penderitaannya yang mendalam, termasuk kehilangan anak, harta, dan masa depan dalam konteks budaya patriarki Timur Dekat Kuno. Hingga kini, kajian terhadap istri Ayub masih didominasi oleh tafsir yang bersifat reduktif dan belum banyak mengembangkan pembacaan yang menempatkannya sebagai subjek penderitaan dalam kerangka pastoral. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih integratif dan empatik. Penelitian ini bertujuan mereinterpretasi ucapan istri Ayub sebagai bagian dari narasi dan seruan penderitaan. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan analisis naratif terhadap Ayub 2:9, dipadukan dengan kajian bahasa Ibrani serta perspektif feminis dan pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ujaran tersebut memiliki ambiguitas makna yang memungkinkan pembacaan alternatif sebagai ekspresi penderitaan eksistensial. Dengan demikian, istri Ayub dapat dipahami sebagai subjek yang turut mengalami trauma. Penelitian ini berkontribusi dalam mengintegrasikan pendekatan biblika, feminis, dan pastoral, serta mendorong pembacaan yang lebih empatik dan kontekstual terhadap pengalaman penderitaan manusia.