Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana gempa bumi yang sangat tinggi karena letaknya berada pada jalur Cincin Api Pasifik. Berdasarkan data dari BMKG, sepanjang tahun 2023 tercatat lebih dari 11.500 gempa bumi mengguncang berbagai wilayah di Indonesia, termasuk kawasan Papua yang tergolong sebagai daerah dengan aktivitas seismik cukup intens. Fenomena ini menegaskan bahwa upaya edukasi mengenai mitigasi bencana perlu dimulai sejak usia dini, khususnya pada anak-anak taman kanak-kanak yang termasuk kelompok paling rentan saat terjadi bencana. Pengabdian ini menawarkan solusi berupa pengembangan dan implementasi media pembelajaran mitigasi gempa berbasis gerak dan lagu yang dirancang sesuai dengan dunia anak. Lagu akan mengandung pesan edukatif seperti tanda-tanda gempa dan langkah penyelamatan, disertai gerakan yang sederhana namun bermakna. Guru dilatih untuk menguasai dan menyampaikan materi ini secara komunikatif, serta disediakan media bantu seperti poster dan video visual yang menunjang pembelajaran. Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari siswa, guru, dan kepala sekolah. Simulasi dilakukan dua kali, di mana hasil pengamatan menunjukkan peningkatan signifikan kemampuan respon siswa terhadap instruksi mitigasi gempa dari sekitar 70% respon benar pada simulasi pertama menjadi hampir 90% pada simulasi kedua. Selain memberikan pengetahuan praktis kepada siswa, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran guru dan staf sekolah terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana. Pihak sekolah mengapresiasi metode ini karena bersifat menyenangkan, relevan, dan mudah direplikasi. Program edukasi mitigasi gempa berbasis gerak dan lagu efektif membangun keterampilan keselamatan pada anak usia dini, mendukung pembentukan procedural memory, dan berpotensi dikembangkan ke sekolah lain di wilayah rawan bencana. Disarankan untuk mengintegrasikan materi ini ke dalam kurikulum PAUD/TK, memperkuat kapasitas guru, serta melibatkan orang tua dan komunitas dalam pelaksanaan simulasi berkelanjutan.