Regita Amelia
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Ekolinguistik terhadap Diskursus Penggunaan Plastik dalam Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Brayan Tia Maharani; Hoirina Pulungan; Regita Amelia; Shiwi Sulistyani
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39213

Abstract

Penggunaan kantong plastik dalam aktivitas jual beli di Pasar Tradisional Brayan masih menjadi kebiasaan yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Tingginya penggunaan plastik berpotensi meningkatkan jumlah sampah yang berdampak pada pencemaran lingkungan. Penelitian ini dilakukan karena kajian mengenai penggunaan plastik umumnya berfokus pada aspek lingkungan dan kebijakan, sedangkan hubungan antara penggunaan bahasa dan kesadaran ekologis masyarakat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis diskursus penggunaan plastik dalam interaksi jual beli di Pasar Tradisional Brayan melalui perspektif ekolinguistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif karena mampu mengungkap fenomena kebahasaan secara mendalam dalam konteks alamiah. Data penelitian berupa 20 tuturan pedagang dan pembeli serta hasil wawancara terhadap 8 informan. Data dikumpulkan melalui observasi, perekaman, pencatatan, dan wawancara semi terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan plastik masih dinormalisasi melalui tuturan yang menekankan aspek kepraktisan, kemudahan, dan efisiensi. Tuturan seperti “pakai plastik aja” dan “dobel aja plastiknya” merepresentasikan pandangan masyarakat yang menganggap plastik sebagai kebutuhan utama dalam aktivitas jual beli. Di sisi lain, ditemukan tuturan yang menunjukkan kesadaran ekologis, seperti penolakan penggunaan plastik dan kebiasaan membawa tas belanja sendiri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merepresentasikan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Penelitian selanjutnya disarankan mengkaji diskursus penggunaan plastik pada lokasi yang lebih luas untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Tantangan Guru dalam Mengajarkan Kosakata Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Siswa Tunarungu Kelas VIII di SLB E Negeri PTP Sumatera Utara Shiwi Sulistyani; Regita Amelia; Hoirina Pulungan; Lili Tansliova
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39472

Abstract

Penelitian ini membahas tantangan guru dalam mengajarkan kosakata mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa tunarungu kelas VIII SLB. Penguasaan kosakata menjadi aspek penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia karena berkaitan dengan kemampuan memahami, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Namun, keterbatasan pendengaran yang dialami siswa tunarungu menyebabkan perkembangan bahasa dan penguasaan kosakata mereka berbeda dibandingkan siswa reguler. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai tantangan yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran kosakata pada siswa tunarungu serta upaya yang dilakukan untuk mengatasinya. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menghadapi beberapa tantangan, seperti perbedaan kemampuan bahasa antar siswa, keterbatasan media pembelajaran, kesulitan siswa memahami kosakata abstrak, serta hambatan komunikasi dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru menggunakan media visual, bahasa isyarat, komunikasi total, pengulangan kosakata, serta pendampingan individual agar siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran. Dengan demikian, guru memiliki peran penting dalam menciptakan pembelajaran Bahasa Indonesia yang adaptif, komunikatif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa tunarungu.