Abdi Dwiyanto Putra Samosir
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia, RSP Ibnu Sina YW UMI, Makassar, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Status Stunting pada Balita di Puskesmas Tamangapa Makassar: Studi Cross-Sectional Rizky Nurhumairah Sarifuddin; Ida Royani; Abdi Dwiyanto Putra Samosir; Hermiaty Nasruddin; Sidrah Darma
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 5 (2026): Volume 13 Nomor 5
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i5.23772

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada balita yang ditandai dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur -2 SD. Faktor lingkungan, khususnya sanitasi lingkungan yang buruk, berperan dalam meningkatkan risiko infeksi dan gangguan status gizi anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui kejadian stunting, kondisi sanitasi lingkungan, serta hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Tamangapa Makassar tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Tamangapa tahun 2024 sebanyak 60 balita. Sampel penelitian diperoleh menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data stunting diperoleh melalui rekam medik dan pengukuran antropometri berdasarkan standar z-score WHO, sedangkan sanitasi lingkungan diukur menggunakan kuesioner dan observasi meliputi kualitas air, penyediaan air bersih, dan pembuangan kotoran. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kasus stunting ditemukan pada balita usia 1 tahun sebanyak 18 responden (35,5%) dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 36 responden (70,6%). Pada kelompok kasus, mayoritas responden memiliki sanitasi lingkungan buruk sebanyak 29 responden, sedangkan pada kelompok non-stunting sebagian besar memiliki sanitasi lingkungan baik sebanyak 22 responden. Hasil uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting (p-value 0,05). Sanitasi lingkungan yang buruk meningkatkan risiko terjadinya stunting pada balita. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena menggunakan desain cross-sectional sehingga tidak dapat menjelaskan hubungan sebab akibat secara langsung serta pengukuran sanitasi lingkungan yang masih bergantung pada observasi dan kuesioner responden.
Pengaruh Lingkungan terhadap Kejadian Diare Akut pada Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Tamangapa Hafizha Iltizama; Hermiaty Nasaruddin; Sidrah Darma; Abdi Dwiyanto Putra Samosir; Darariani Iskandar
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 5 No. 3 (2026): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Juni 2026
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jkkmm.v5i2.26910

Abstract

Diare masih menjadi masalah kesehatan utama di negara berkembang, termasuk Indonesia, dengan angka kejadian yang tinggi terutama pada anak usia bawah lima tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan dan kejadian diare akut pada anak di wilayah kerja Puskesmas Tamangapa Makassar tahun 2025. Menggunakan desain cross sectional, sebanyak 52 responden dipilih dengan metode purposive sampling. Data diperoleh melalui rekam medis dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 38,5% anak mengalami diare akut. Terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin (p = 0,000), usia anak (p = 0,000), dan kondisi lingkungan (p = 0,000) dengan kejadian diare akut. Anak perempuan, anak usia <1 tahun, serta mereka yang tinggal di lingkungan kurang baik memiliki risiko lebih tinggi mengalami diare. Penelitian ini menegaskan bahwa kondisi lingkungan dan faktor perilaku menjadi determinan penting kejadian diare, sehingga perbaikan sanitasi dasar, akses air bersih, dan edukasi PHBS perlu diperkuat untuk menurunkan angka diare pada anak.