Kanker serviks merupakan keganasan dengan angka kematian tertinggi kedua pada Perempuan di Indonesia. Pada tahun 2022, tercatat 662.301 kasus baru di dunia dengan sebagian besar kematian terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia yang melaporkan 36.633 kasus baru. Deteksi dini melalui pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) terbukti efektif menurunkan kejadian kanker serviks. Namun, cakupan skrining nasional masih rendah, sekitar 14–16% dari target 70%. Di Sumatera Barat, cakupan IVA tahun 2023 mencapai 6,9%, sedangkan di Kota Padang sebesar 10,9% pada tahun 2024. Cakupan di Puskesmas Belimbing masih sangat rendah, yaitu 3,5%. Tujuan: menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dukungan suami/keluarga, dukungan tenaga kesehatan, akses informasi, dan motivasi dengan partisipasi wanita usia subur dalam pemeriksaan IVA serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 109 WUS dipilih menggunakan proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil: partisipasi WUS dalam pemeriksaan IVA sebesar 29,4%. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan (p=0,000; OR=11,009), sikap (p=0,001; OR:6,150), dukungan suami/keluarga (p=0,000; OR:5,595), dukungan tenaga kesehatan (p=0,000; OR=9,158), akses informasi (p=0,000; OR=6,240) dan motivasi (p=0,000; OR=5,595) dengan partisipasi pemeriksaan IVA. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan merupakan faktor paling dominan (Exp(B)=9,398; p=0,001), diikuti oleh dukungan tenaga kesehatan (Exp(B)=7,988; p=0,000). Kesimpulan: Pengetahuan menjadi faktor utama yang memengaruhi partisipasi WUS dalam pemeriksaan IVA. Peningkatan edukasi kesehatan yang berkelanjutan diperlukan untuk mendorong deteksi dini kanker serviks.