Risnita Tri Utami
Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Aktivitas Antioksidan Senyawa Bioaktif Daun Mangrove Sonneratia alba dan Rhizophora apiculata dari Pulau Payung, Banyuasin Ikhlasul Amal; Muhammad Hendri; Risnita Tri Utami; Ardy Andreas Bernard Kase; Nur Rizki Sari
Journal of Marine Research Vol 15, No 2 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i2.55719

Abstract

Ekosistem mangrove dikenal sebagai sumber potensial senyawa bioaktif akibat kemampuannya beradaptasi terhadap kondisi lingkungan pesisir yang ekstrem. Fungsi biologis utama dari senyawa bioaktif yang terkandung dalam mangrove adalah kemampuannya sebagai antioksidan dalam menetralisir radikal bebas. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan ekstrak daun mangrove Sonneratia alba dan Rhizophora apiculata yang dikoleksi dari ekosistem mangrove Pulau Payung, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan melalui percobaan laboratorium yang meliputi pemilihan daun dewasa sebagai bahan uji, pengolahan awal sampel, ekstraksi melalui perendaman menggunakan pelarut etil asetat, serta evaluasi kemampuan antioksidan berdasarkan uji peredaman radikal bebas DPPH. Aktivitas antioksidan dianalisis secara kualitatif berdasarkan perubahan warna larutan dan secara kuantitatif melalui pengukuran persentase penghambatan radikal bebas serta penentuan nilai IC₅₀. Analisis regresi linier digunakan sebagai dasar dalam perhitungan nilai IC₅₀. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa ekstrak daun S. alba dan R. apiculata menunjukkan kemampuan peredaman radikal bebas DPPH pada seluruh konsentrasi yang diuji (50–1000 ppm), dengan tingkat aktivitas yang meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi. Secara kuantitatif, ekstrak daun S. alba menunjukkan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dengan nilai IC₅₀ sebesar 42,38 ppm (kategori sangat kuat), sedangkan ekstrak daun R. apiculata memiliki nilai IC₅₀ sebesar 88,61 ppm (kategori kuat). Perbedaan aktivitas antioksidan diduga berkaitan dengan variasi komposisi dan kadar senyawa bioaktif sebagai respons adaptif terhadap kondisi lingkungan pesisir. Dengan demikian, daun mangrove S. alba dan R. apiculata, khususnya S. alba, berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.Mangrove ecosystems are recognized as a potential source of bioactive compounds due to their ability to adapt to extreme coastal environmental conditions. One of the primary biological functions of bioactive compounds found in mangroves is their antioxidant capacity to neutralize free radicals. This study was conducted to evaluate the antioxidant activity of leaf extracts from S. alba  and R. apiculata collected from the mangrove ecosystem of Payung Island, Banyuasin Regency, South Sumatra Province. The research was carried out through laboratory experiments, which included the selection of mature leaves as test materials, preliminary sample preparation, extraction by maceration using ethyl acetate as the solvent, and evaluation of antioxidant capacity based on the DPPH free radical scavenging assay. Antioxidant activity was analyzed qualitatively through observable color changes in the solution and quantitatively by measuring the percentage of free radical inhibition and determining the IC₅₀ value. The results indicated that the leaf extracts of S. alba and R. apiculata exhibited DPPH radical scavenging activity at all tested concentrations (50–1000 ppm), with activity increasing proportionally to concentration. Quantitatively, the leaf extract of S. alba demonstrated higher antioxidant activity, with an IC₅₀ value of 42.38 ppm (very strong category), whereas the leaf extract of R. apiculata showed an IC₅₀ value of 88.61 ppm (strong category). The observed differences in antioxidant activity are presumed to be associated with variations in the composition and concentration of bioactive compounds as adaptive responses to coastal environmental conditions. Therefore, mangrove leaves of S. alba and R. apiculata, particularly S. alba, have the potential to be developed as sustainable, locally based sources of natural antioxidants.
Dinamika Spasial dan Temporal Gelombang Panas Laut di Selat Karimata Sebagai Respons Terhadap Anomali Iklim Ekstrem Muhamad Nur; Ellis Nurjuliasti Ningsih; Redho Yoga Nugroho; Risnita Tri Utami; Qurnia Wulan Sari; Hiskia Abel Perdana Ardi; Alfianu Adhi Riztiawan
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 2 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i2.31305

Abstract

Gelombang Panas Laut (GPL) merupakan fenomena ekstrem yang frekuensi, durasi, dan intensitasnya meningkat sebagai respons terhadap pemanasan global akibat aktivitas antropogenik. Selat Karimata, sebagai wilayah strategis dalam sistem lintas laut Indonesia, sangat rentan terhadap anomali termal ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik spasial dan temporal GPL di perairan Selat Karimata selama periode 1992-2024. Analisis dilakukan menggunakan data Suhu Permukaan Laut (SPL) harian resolusi tinggi dari Operational Sea Surface Temperature and Ice Analysis (OSTIA). Deteksi kejadian GPL dilakukan dengan pendekatan ambang klimatologis berbasis persentil ke-90, dengan durasi minimum lima hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Selat Karimata mengalami rata-rata 2-3 kejadian GPL per tahun dengan durasi sekitar 10 hari dan intensitas maksimum mencapai 1,34 °C di atas ambang klimatologis. Temuan utama menunjukkan adanya tren peningkatan durasi GPL yang signifikan sebesar 11,5 hari per dekade, serta peningkatan frekuensi sebesar 1,1 kejadian per dekade. Secara temporal, kejadian GPL terpanjang dan terkuat terjadi pada tahun 1998 dan 2016, yang berkorelasi erat dengan fenomena El Niño kuat. Secara spasial, wilayah selatan Selat Karimata menunjukkan intensitas dan durasi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah utara. Selain itu, kejadian GPL berdurasi panjang dan berintensitas tinggi lebih dominan di wilayah pesisir dan laut semi-tertutup. Peningkatan signifikan pada parameter GPL ini mengindikasikan tekanan termal yang semakin besar pada ekosistem laut di Selat Karimata. Temuan ini menegaskan bahwa Selat Karimata merupakan wilayah yang rentan terhadap tekanan termal laut, dengan implikasi signifikan terhadap ekosistem pesisir dan pengelolaan perikanan (WPPNRI) 711 dalam menghadapi risiko perubahan iklim di masa depan.