Reza Setya Rachman
Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reconstructing Islamic Religious Education Test Instruments Through Authentic Digital Assessment Reza Setya Rachman; Dina Hermina; Sheila Rosalia
Classroom: Journal of Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/classroom.v3i1.54

Abstract

The advent of digital transformation and the emergence of generative artificial intelligence appear to have challenged conventional assessment practices within Islamic Religious Education, particularly concerning the treatment of written examinations as the primary evidential measure of students' religious comprehension. This article seeks to effect a reconstruction of assessment instruments in Islamic Religious Education through the integration of written, oral, and performance evaluations within an authentic assessment framework. This study utilizes a descriptive-analytical approach, grounded in a comprehensive examination of extant literature pertaining to educational evaluation, authentic assessment, Islamic Religious Education assessment, digital learning, and artificial intelligence in education. The findings suggest that while written tests may retain utility for assessing conceptual understanding, religious reasoning, and textual literacy, they appear insufficient for encompassing oral competence, worship practices, moral conduct, and the internalization of Islamic values. Oral tests are needed to verify the depth and authenticity of students' understanding, while performance tests are essential for assessing worship skills, religious behavior, and value-based action. This article proposes the development of an integrative assessment model, which is predicated upon the triangulation of written, oral, and performative evidence, substantially supported by digital technology. The model positions technology as a tool for documentation, feedback, and portfolio management, while teachers remain the central pedagogical interpreters of students' religious learning evidence.
Aksiologi Produksi Pengetahuan pada Masa Abbasiyah: Rekonstruksi Etika Penerjemahan Baghdad Sebagai Landasan Integritas Akademik di Pendidikan Islam Kontemporer Reza Setya Rachman; Tarwilah; Suraijiah
PROGRESSA: Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 10 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Wijaya Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32616/pgr.v10.1.545.59-71

Abstract

Kajian ini mengulas aksiologi produksi pengetahuan pada masa Abbasiyah terutama etika gerakan penerjemahan Baghdad dan merekonstruksinya sebagai landasan integritas akademik bagi pendidikan Islam kontemporer yang menghadapi plagiarisme, budaya instan, problem atribusi, serta kaburnya etika sitasi di era digital. Pemaparan ini berangkat dari celah kajian: studi Abbasiyah umumnya berhenti pada uraian historis kemajuan institusi dan dinamika ilmu tanpa menurunkan etika produksi ilmu menjadi kerangka normatif pendidikan, sedangkan kajian integritas akademik dalam pendidikan Islam lebih sering menekankan kebijakan, sanksi, atau pencegahan teknis, namun jarang ditautkan dengan fondasi aksiologis Islam yang spesifik dari ekosistem Abbasiyah. Tujuan kajian adalah memetakan nilai yang mengatur how knowledge is made dalam tradisi penerjemahan Abbasiyah dan merumuskan kerangka normatif integritas akademik yang dapat dioperasionalisasikan. Melalui studi kepustakaan kualitatif dengan analisis konseptual-filosofis dan sintesis historis-kritis, temuan merumuskan empat prinsip: ketelitian-akurasi, verifikasi, atribusi-otoritas rujukan, dan akuntabilitas ilmuwan–pendidik. Kerangka ini diturunkan menjadi pedoman sitasi-atribusi, rubrik verifikasi sumber, modul literasi digital/AI berbasis amanah, serta tata kelola etika akademik yang berorientasi pembinaan nilai.