Kajian ini mengulas aksiologi produksi pengetahuan pada masa Abbasiyah terutama etika gerakan penerjemahan Baghdad dan merekonstruksinya sebagai landasan integritas akademik bagi pendidikan Islam kontemporer yang menghadapi plagiarisme, budaya instan, problem atribusi, serta kaburnya etika sitasi di era digital. Pemaparan ini berangkat dari celah kajian: studi Abbasiyah umumnya berhenti pada uraian historis kemajuan institusi dan dinamika ilmu tanpa menurunkan etika produksi ilmu menjadi kerangka normatif pendidikan, sedangkan kajian integritas akademik dalam pendidikan Islam lebih sering menekankan kebijakan, sanksi, atau pencegahan teknis, namun jarang ditautkan dengan fondasi aksiologis Islam yang spesifik dari ekosistem Abbasiyah. Tujuan kajian adalah memetakan nilai yang mengatur how knowledge is made dalam tradisi penerjemahan Abbasiyah dan merumuskan kerangka normatif integritas akademik yang dapat dioperasionalisasikan. Melalui studi kepustakaan kualitatif dengan analisis konseptual-filosofis dan sintesis historis-kritis, temuan merumuskan empat prinsip: ketelitian-akurasi, verifikasi, atribusi-otoritas rujukan, dan akuntabilitas ilmuwan–pendidik. Kerangka ini diturunkan menjadi pedoman sitasi-atribusi, rubrik verifikasi sumber, modul literasi digital/AI berbasis amanah, serta tata kelola etika akademik yang berorientasi pembinaan nilai.
Copyrights © 2026