Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pasemon Sebagai Representasi Bahasa Rakyat Dalam Seni Pertunjukan Gambus Misri: Kajian Etnosemantik Daeng Meilani Ananda Putri Malik Malik; Sri Harti Widyastuti; Respati Retno Utami
Jurnal Online Baradha Vol. 22 No. 1 (2026): Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v22n1.p1-19

Abstract

ABSTRAK Pasemon adalah lambang ekspresi, perilaku, atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan makna secara simbolik atau tidak langsung. Penelitian ini bertujuan menguraikan pasemon dalam kesenian Gambus Misri Jombang sebagai bentuk bahasa rakyat dalam folklor lisan, dengan pendekatan etnosemantik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data primer berupa transkrip lakon “Brandhal Lokajaya” dari kanal YouTube, wawancara, dan observasi. Data sekunder diperoleh dari jurnal, dokumen terkait, dan dokumentasi. Instrumen penelitian meliputi human instrument, daftar pertanyaan wawancara, lembar observasi, serta alat bantu. Keabsahan data diuji melalui validitas semantis dan reliabilitas stabilitas, dengan teknik analisis triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan adanya 11 klasifikasi pasemon verbal dan 9 klasifikasi pasemon non-verbal dari bahasa rakyat. Dalam konteks etnosemantik, ditemukan fungsi nilai dalam pasemon seperti nilai agama, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Pembahasan difokuskan pada pasemon verbal dan non-verbal dalam bahasa rakyat serta konteks makna etnosemantik yang terkandung dalam pertunjukan Gambus Misri. Simpulan menunjukkan bahwa Gambus Misri tidak sekadar sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pelestarian bahasa rakyat dan nilai-nilai budaya Jawa yang bersifat edukatif dan transgenerasional. Kata kunci: Pasemon; Bahasa Rakyat; Folklor; Etnosemantik; Gambus Misri
Kritik Tradisi dalam Novel Serat Prabangkara Karya Ki Padmasusastra (Kajian Antropologi Sastra) Yusuf Nur Kholiq; Suwardi Endraswara; Sri Harti Widyastuti
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4568.476-489

Abstract

This research aims to analyze the criticism of tradition in the novel Serat Prabangkara. This research is a qualitative descriptive study using a literary anthropology approach. The data source for this research is the novel Serat Prabangkara by Ki Padmasusastra accessed through sastra.org. This research data consists of dialogue, narrative, cultural symbols, and criticism of tradition expressed in the story. The research data collection technique was carried out through reading and note-taking techniques. The research data were analyzed using literary anthropology techniques developed by Endraswara. The results of the study show that the novel Serat Prabangkara depicts a critique of Javanese traditions and socio-cultural structures that are hierarchical and patriarchal. This critique is manifested through the conflict between personal love and restrictive social norms, especially in the issue of inter-class marriage between Prabangkara and Rara Apyu. Prabangkara and Rara Apyu's actions in daring to defy traditional norms indicate resistance to a social system that restricts freedom and gender equality. Rara Apyu goes beyond the boundaries of traditional women's roles by disguising herself as a man and leading a kingdom, marking a form of resistance to rigid gender constructions. The novel Serat Prabangkara is a social reflection that criticizes norms that are no longer relevant and calls for change in valuing freedom and equality. The results of this research can enrich literary and cultural studies and provide new insights regarding the role of literature as a medium for reflection and criticism of tradition. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kritik tradisi dalam novel Serat Prabangkara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan antropologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah novel Serat Prabangkara karya Ki Padmasusastra yang diakses melalui sastra.org. Data penelitian ini berupa dialog, narasi, simbol-simbol budaya, dan kritik tradisi yang diungkapkan dalam cerita. Teknik pengumpulan data penelitian ini dilakukan melalui teknik baca dan catat. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik antropologi sastra yang dikembangkan oleh Endraswara. Hasil penelitian menunjukan bahwa novel Serat Prabangkara menggambarkan kritik terhadap tradisi dan struktur sosial budaya Jawa yang bersifat hierarkis dan patriarkal. Kritik tersebut diwujudkan melalui konflik antara cinta pribadi dan norma sosial yang mengekang terutama dalam persoalan pernikahan lintas kelas antara Prabangkara dan Rara Apyu. Tindakan Prabangkara dan Rara Apyu yang berani menentang norma tradisional menunjukkan adanya perlawanan terhadap sistem sosial yang mengekang kebebasan dan kesetaraan gender. Rara Apyu melampaui batasan peran perempuan tradisional dengan menyamar sebagai laki-laki dan memimpin sebuah kerajaan yang menandai bentuk resistensi terhadap konstruksi gender yang kaku. Novel Serat Prabangkara menjadi refleksi sosial yang mengkritik norma-norma yang tidak lagi relevan dan menyerukan perubahan dalam menghargai kebebasan dan kesetaraan. Hasil penelitian ini dapat memperkaya kajian sastra dan budaya serta memberikan wawasan baru terkait peran sastra sebagai media refleksi dan kritik tradisi.
Religious literary literacy in pesantren: a phenomenological study of moral and spiritual learning Lamri Lamri; Else Liliani; Sri Harti Widyastuti
International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) Vol 15, No 4: August 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijere.v15i4.39013

Abstract

This study explores how santri (student) in pesantren (Islamic boarding school) education experience and interpret religious literary practices as a medium for moral and spiritual learning and conceptualizes these experiences into a religious literary literacy (RLL) model. Using a qualitative interpretative phenomenological approach through interpretative phenomenological analysis (IPA), the study examines santri’s lived experiences and meaning-making processes. Data were generated through in-depth semi-structured interviews with eight santri from four pesantren in East Java and Yogyakarta, Indonesia, supported by analysis of student literary works and pesantren literacy archives. The analysis involved iterative stages of close reading, coding, thematization, and hermeneutic interpretation. The findings reveal three interconnected dimensions of RLL: i) literature as spiritual and moral reflection; ii) transformative selfhood and moral consciousness developed through reflective reading and writing; and iii) pesantren as a pedagogical ecosystem integrating faith, ethics, and creative expression. These dimensions form the RLL model, which conceptualizes literary practice as a cyclical process of devotion, reflection, and self-transformation. The study contributes theoretically by extending the concept of religious literacy beyond textual competence toward experiential and interpretative moral formation. Practically, the model offers a conceptual framework for designing reflective literacy programs in Islamic education that support character development and address contemporary moral challenges among youth.