Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Perspektif Imam Al-Ghazali Dan Michael Fullan Elviana India Sinta Dewi; Suwendi Suwendi; Abdul Mukti
Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 9 No 2 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/cetta.v9i2.5242

Abstract

Deep learning is a central issue in contemporary education because it emphasizes meaningful understanding, reflection, and the relevance of learning materials to real life. However, the integration of modern pedagogical approaches and spiritual values has rarely been examined systematically. This study analyzes and compares the concept of deep learning according to Imam Al-Ghazali and Michael Fullan to identify conceptual intersections and potential synthesis. The method employed is a systematic literature review with a comparative approach, utilizing primary sources from Imam Al-Ghazali (Ayyuhal Walad) and Michael Fullan (Deep Learning: Engage the World, Change the World), as well as relevant scholarly literature from the past ten years. The analysis was conducted thematically and comparatively. The findings show that Al-Ghazali emphasizes character formation, purification of the soul, and spiritual orientation, whereas Fullan focuses on developing 21st-century competencies through the 6C framework. The synthesis of these two perspectives gives rise to the concept of “authentic learning,” which integrates spiritual dimensions and global competencies. This concept has the potential to enrich holistic educational practices in Indonesia, particularly in building a generation with strong character and global competitiveness.
RASIONALITAS DALAM PEMIKIRAN MUHAMMAD ABID AL-JABIRI SERTA SIGNIFIKANSINYA BAGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM YANG BERORIENTASI PADA BERPIKIR KRITIS Asiah Allayyinah; Abdul Mukti
Jurnal Dinamika Sosial dan Sains Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Dinamika Sosial dan Sains
Publisher : CV.Sentral Bisnis Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60145/jdss.v3i1.313

Abstract

Pendidikan Islam masa kini mash dihadapkan pada persoalan lemahnya pengembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik, karena praktik pembelajaran lebih banyak berorientasi pada hafalan serta pemahaman teks secara normatif. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep rasionalitas dalam pemikiran Muhammad Abid Al-Jabiri dan menelaah relevansinya bagi pembaruan pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan menelaah secara mendalam karya-karya utama Al-Jabiri, terutama Nagd al-'Aql al-'Arabi dan Takwin al- 'Aql al-'Arabi, serta berbagai artikel jurnal dan buku ilmiah yang berkaitan dengan epistemologi dan pendidikan Islam. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi menggunakan pendekatan konseptual-kritis untuk mengidentifikasi karakteristik nalar bayani, irfani, dan burhani beserta implikasinya dalam konteks pendidikan Islam. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kuatnya dominasi nalar bayani dan irfani dalam praktik pendidikan Islam turut membatasi berkembangnya kemampuan berpikir kritis peserta didik. Sebaliknya, rasionalitas burhani yang dikemukakan Al-Jabiri menekankan penggunaan logika, argumentasi yang sistematis, serta keterhubungan pengetahuan dengan realitas empiris, sehingga memiliki relevansi kuat sebagai dasar pembaruan pendidikan Islam. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penguatan pendekatan rasional dan dialogis dalam kurikulum maupun proses pembelajaran guna membentuk peserta didik yang kritis, reflektif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
APPLICATION OF CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING MODEL IN DEVELOPING CRITICAL THINKING SKILLS IN FIQH THAHARAH LESSONS: A CASE STUDY AT THE ANNUR DARUNNAJAH 8 ISLAMIC BOARDING SCHOOL IN CIDOKOM, BOGOR REGENCY Saidatul Fitri Rifadina; Armai Arief; Abdul Mukti
Jurnal Konseling Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Konseling Pendidikan Islam
Publisher : LP2M IAI Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jkpi.v7i1.1296

Abstract

This study aims to describe the implementation of the Contextual Teaching and Learning (CTL) model in fiqh thaharah learning and to analyse its implications for students’ critical thinking skills at Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8 Cidokom, Bogor. Using a qualitative case study design, the research was conducted in the fiqh class of upper secondary level students. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with school leaders, curriculum staff, fiqh teachers, and students, as well as documentation of lesson plans and learning outcomes. Data were analysed using Miles and Huberman’s interactive model, including data reduction, data display, and conclusion drawing, and were validated through source, technique, and time triangulation and member checking. The findings show that the CTL model has been implemented through seven core components: constructivism, inquiry, questioning, learning community, modelling, reflection, and authentic assessment, which are integrated into fiqh thaharah learning and pesantren daily practices such as wudu, maintaining cleanliness, and worship routines.
Pemikiran Pendidikan Humanis Paulo Freire dan Relevansinya dengan Pendidikan Humanisme Islam Redza Sutiara Akbar; Abdul Mukti; Erba Rozalina Yulianti
IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 02 (2025): IQ (Ilmu Al-qur’an): Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Tarbiyah, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/m87sm108

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran pendidikan humanis Paulo Freire dan menelaah relevansinya dengan konsep pendidikan humanisme Islam melalui kajian komparatif terhadap karya-karya utama Freire serta literatur pendidikan Islam klasik maupun kontemporer. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan dan analisis isi (content analysis), penelitian ini mengidentifikasi titik temu, perbedaan, serta kemungkinan integrasi antara kedua kerangka pemikiran tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan humanis menurut Paulo Freire berakar pada kritik terhadap pendidikan gaya bank yang menempatkan peserta didik sebagai objek pasif. Freire menawarkan pendidikan hadap masalah yang menekankan dialog, kesadaran kritis, serta pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan sosial, ekonomi, dan politik. Sementara itu, pendidikan humanisme Islam berpijak pada pandangan bahwa manusia adalah makhluk mulia yang memiliki potensi fitrah, akal, dan kehendak bebas. Tujuannya ialah membentuk manusia seutuhnya melalui integrasi aspek intelektual, moral, sosial, dan spiritual, dengan nilai tauhid sebagai landasan utama. Dengan demikian, sintesis kreatif antara keduanya berpotensi melahirkan model pendidikan yang lebih humanis, kritis, transformatif, dan sekaligus berakar pada spiritualitas Islam.