Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Penerapan Model Sains Teknologi Masyarakat (STM) terhadap Keterampilan Berpikir Siswa pada Mata Pelajaran IPA Kelas VIII SMPN 04 Tebo Epa Epa; Sugeng Kurniawan; Ayu Wandari
JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 2 (2026): JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jagomipa.v6i2.4413

Abstract

Pembelajaran IPA di SMP masih didominasi ceramah sehingga konsep sains terasa abstrak dan sulit dikaitkan siswa dengan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini berdampak pada rendahnya keterampilan berpikir siswa, terutama pada materi sistem pencernaan yang menuntut kemampuan analisis dan evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Sains Teknologi Masyarakat terhadap keterampilan berpikir siswa kelas 8 SMP Negeri 04 Tebo. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain pretest-posttest non equivalent control group dan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 25 siswa kelas eksperimen dengan model STM dan 23 siswa kelas kontrol dengan model konvensional, dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan berpikir, angket, dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas, homogenitas, uji t independen, dan analisis N-Gain. Hasil menunjukkan rata-rata N-Gain kelas eksperimen 0,69 kategori sedang, lebih tinggi dari kelas kontrol 0,50. Uji t menghasilkan nilai signifikansi 0,00 sehingga terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Model STM terbukti efektif meningkatkan keterampilan berpikir siswa karena pembelajaran dikaitkan dengan isu teknologi dan sosial di lingkungan. Disimpulkan bahwa STM dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran IPA yang bermakna di SMP. Rekomendasi penelitian lanjutan adalah menguji model STM pada materi dan jenjang berbeda serta mengembangkan instrumen keterampilan berpikir yang lebih spesifik per indikator.
Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Nurhaliza Nurhaliza; Sugeng Kurniawan; Mabruri Mabruri
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 6 No. 3 (2026): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2026 (3)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v6i3.4596

Abstract

Kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan esensial dalam pembelajaran abad ke-21, namun pengembangannya pada siswa sekolah dasar masih menghadapi berbagai tantangan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar masih perlu ditingkatkan sehingga diperlukan model pembelajaran yang mampu mendorong siswa berpikir secara aktif dan sistematis. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa merupakan salah satu tujuan utama dalam proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi model PBL dan mendeskripsikan pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPAS di SD Negeri 030/VIII Kabupaten Tebo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan partisipan sebanyak 21 siswa kelas III yang ditentukan menggunakan teknik sampling jenuh. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sementara itu, validitas data diperiksa menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model PBL dilakukan secara terstruktur dan mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar. Siswa menjadi lebih aktif dalam mengajukan pertanyaan, terlibat dalam diskusi, menganalisis masalah, dan menyampaikan pendapat. Kemampuan berpikir kritis siswa juga menunjukkan peningkatan yang tercermin dalam hasil evaluasi pembelajaran dan perubahan perilaku belajar. Model Pembelajaran Berbasis Masalah efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran IPAS di tingkat sekolah dasar.
Implementasi Pembelajaran IPAS Berbasis Projek dalam Meningkatkan Literasi Sains Siswa SDN 131/II SKB Muara Bungo Sugeng Kurniawan; Aulia Okta Sari; Amelda Putri; M. Abdul Rozaq; Nur Fitri; Pijairi Pijairi
Ibtida'iy : Jurnal Prodi PGMI Vol 11, No 2 (2026): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/ibtidaiy.v11i2.40707

Abstract

Abstract:  This study aims to examine in depth the implementation of project-based Natural and Social Sciences (IPAS) learning in developing the scientific literacy skills of fifth-grade students at SDN 131/II SKB Muara Bungo. This study was conducted to address the low level of students’ scientific literacy, which is associated with passive, conventional learning practices that emphasize rote memorization. This study employed a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected naturally in the field through classroom observations, in-depth interviews with the fifth-grade homeroom teacher, and documentation. The researcher served as the primary research instrument, analyzing the data contextually to provide an authentic description of the learning process. The findings reveal that project-based IPAS learning was implemented through systematic stages, including introducing fundamental concepts, organizing students into collaborative groups, engaging them in authentic project activities (such as earthquake simulations and the development of instructional teaching aids), and conducting reflective evaluation sessions. Teachers’ strategies, particularly the use of guiding questions and reinforcement through two-way interaction, effectively enhanced students’ active participation, collaboration, critical thinking skills, and scientific literacy. This study is limited by its focus on a single fifth-grade class in one elementary school, which restricts the generalizability of the findings. In addition, several practical challenges were encountered during the implementation, including a classroom environment that occasionally became less conducive due to students’ high levels of physical activity and unequal participation among group members.