Kota Cilegon, yang terletak di Provinsi Banten, dikenal sebagai pusat industri baja dan petrokimia terbesar di Indonesia. Pada periode 2010 hingga 2020, kota ini mengalami perluasan industri yang pesat, dengan peningkatan luas kawasan industri lebih dari 20 Ha. Pertumbuhan industri tersebut, yang disertai dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja, mendorong pertumbuhan penduduk, dampaknya, meningkatkan kebutuhan terhadap kawasan permukiman. Akan tetapi, perluasan wilayah permukiman tidak sejalan dengan perkembangan industri, yang peningkatan luasannya hanya sekitar 4 Ha. Ketidakseimbangan ini menunjukkan adanya proses pemadatan atau intensifikasi penduduk di dalam kawasan permukiman telah terjadi. Studi terdahulu menunjukkan bahwa efek UHI paling kuat berkembang di area permukiman. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam hubungan antara peningkatan kepadatan penduduk dan fenomena UHI di Kota Cilegon. Analisis spasial dilakukan menggunakan ArcGIS dan teknik penginderaan jauh untuk memetakan persebaran UHI dan kepadatan penduduk, serta analisis korelasi OLS dan Moran’s I untuk menilai hubungan statistik antara keduanya. Hasil penelitian menunjukkan pola spasial UHI di kawasan permukiman tampak menonjol terutama di sepanjang jalan utama Cilegon dan bertepatan dengan area berkepadatan penduduk tinggi. Dari analisis korelasi spasial yang dilakukan diidentifikasi adanya hubungan signifikan antara kepadatan penduduk dan suhu permukaan (LST) yang mengindikasikan tingkat UHI di wilayah tersebut. Berdasarkan temuan ini, perlu dilakukan pengembangan strategi pengendalian kepadatan penduduk yang didukung oleh kebijakan penataan ruang sebagai upaya mitigasi fenomena UHI.