p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Serina Abdimas
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERBANDINGAN VOLUME BESI TULANGAN LANTAI 4 PROYEK X ANTARA PERHITUNGAN KONVENSIONAL DAN CUBICOST TRB Joddie Calviano; Arianti Sutandi
Jurnal Serina Abdimas Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v4i1.37526

Abstract

The calculation of reinforcement bar volume is a crucial stage in construction planning that directly affects the accuracy of cost estimation and the smooth procurement of materials. This community service aims to compare the accuracy level and efficiency of rebar volume calculations for column and beam structures on the 4th floor of Project X. The comparison was conducted between conventional methods based on Microsoft Excel software and the use of specialist software Cubicost Take-off Rebar (TRB). This rebar calculation reviews and quantitatively analyzes structural working drawings. The conventional method was implemented based on national standards SNI 2052:2024 and SNI 2847:2019, while Cubicost TRB adopts a Building Information Modeling (BIM) approach. The comparison results show a relatively small difference in total volume, namely 1.33% for column reinforcement and 0.91% for beam reinforcement, with TRB producing slightly larger volumes. Significant differences, reaching 2.02% to 2.13%, were detected in small diameters (D10 and D13), while large diameters showed differences below 1%. The conventional method proved to be flexible, providing detailed calculation control, but requiring longer time and less flexibility when design revisions occur. Cubicost TRB excels in speed, 3D visualization, and good data integration, especially for large-scale projects. Based on the calculation review results, the use of a combination of both methods is recommended as an optimization strategy to achieve more accurate, efficient, and verified rebar volume calculation results. Perhitungan volume besi tulangan merupakan tahapan krusial dalam perencanaan konstruksi yang secara langsung mempengaruhi akurasi estimasi biaya dan kelancaran pengadaan material. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membandingkan tingkat akurasi dan efisiensi perhitungan volume besi tulangan untuk struktur kolom dan balok pada lantai 4 Proyek X. Perbandingan dilakukan antara metode konvensional berbasis perangkat lunak Microsoft Excel dengan pemanfaatan perangkat lunak spesialis Cubicost Take-off Rebar (TRB). Perhitungan besi tulangan ini meninjau dan menganalisis secara kuantitatif gambar kerja struktural. Metode konvensional dilaksanakan berdasarkan standar nasional SNI 2052:2024 dan SNI 2847:2019, sedangkan Cubicost TRB mengadopsi pendekatan Building Information Modeling (BIM). Hasil perbandingan menunjukkan perbedaan volume total yang relatif kecil, yaitu 1,33% untuk tulangan kolom dan 0,91% untuk tulangan balok, dengan TRB menghasilkan volume yang sedikit lebih besar. Perbedaan signifikan, mencapai 2,02% hingga 2,13%, terdeteksi pada diameter kecil (D10 dan D13), sementara diameter besar menunjukkan perbedaan di bawah 1%. Metode konvensional terbukti fleksibel, memberikan kontrol perhitungan yang detail, namun membutuhkan waktu yang lebih lama serta kurang fleksibel saat terjadi revisi desain. Cubicost TRB unggul dalam kecepatan, visualisasi dalam bentuk 3D dan integrasi data yang baik terutama untuk proyek berskala besar . Berdasarkan hasil peninjauan perhitungan, direkomendasikan penggunaan kombinasi kedua metode sebagai strategi optimalisasi untuk mencapai hasil perhitungan volume besi tulangan yang lebih akurat, efisien, dan terverifikasi.
PENGARUH PERUBAHAN DESAIN PILECAP TERHADAP WAKTU PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN X DI KARANG TENGAH Nicholas Rafli; Arianti Sutandi
Jurnal Serina Abdimas Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v4i1.37529

Abstract

In a construction project, there are three main factors that are closely related, namely cost, quality, and time. In this paper, we will review the changes in pile caps in the X housing project in Karang Tengah to determine their impact on scheduling. Scheduling is the process of determining the time and sequence of activities in a project and combining them to produce the desired output. One important component in the construction of a structure is the pile cap, which is a structural element placed on piles and transmits the load from the upper structure to the pile foundation which is useful as a connection between the piles and the building structure. Design changes in pile caps often occur due to changes in the floor plan that impact the scheduling of the planned work. The method used in this paper includes data collection, consultation with contractors, field observations, volume comparisons before and after design changes in pile caps, including observing the S curve. Based on field data, the use of pile cap types increased from using 8 types to 10 types, resulting in a 3-week delay in pile cap work. The problem was handled well by the contractor by adding labor and changing the work method, namely by working on houses per unit until completion so that they can proceed to the next job. Thus, the results of the construction progress have returned to following the planned schedule in the 14th week. Pada suatu proyek konstruksi ada 3 faktor utama yang sangat berkaitan yaitu biaya, mutu dan waktu. Dalam penulisan ini akan ditinjau pada perubahan pilecap di proyek perumahan X di karang tengah untuk mengetahui dampaknya kepada penjadwalan. Penjadwalan adalah proses penentuan waktu dan urutan kegiatan dalam proyek serta penggabungannya untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan. Salah satu komponen penting dalam pembangunan struktur adalah pilecap, yaitu elemen struktural yang diletakkan di atas tiang pancang dan meneruskan beban dari struktur atas ke pondasi tiang yang bermanfaat sebagai penghubung tiang pancang dengan struktur bangunan. Perubahan desain pada pilecap biasa sering terjadi akibat perubahan denah yang berdampak ke penjadwalan pekerjaan yang sudah direncanakan. Metode yang digunakan dalam penulisan ini menyertai pengumpulan data-data, konsultasi dengan kontraktor, pengamatan dilapangan, perbandingan volume sebelum dan sesudah perubahan desain pada pilecap, disertakan dengan memerhatikan kurva S. Berdasarkan data di lapangan, penggunaan tipe pilecap bertambah yang berawal dari menggunakan 8 tipe menjadi 10 tipe, sehingga berakibat pada pekerjaan pilecap yang mengalami keterlambatan selama 3 minggu. Masalah ditangani dengan baik oleh kontraktor dengan menambahkan tenaga kerja dan perubahan pada metode kerja yaitu dengan pengerjaan rumah per unit sampai tuntas agar bisa lanjut ke pekerjaan selanjutnya. Dengan demikian, hasil progres pembangunan sudah kembali mengikuti jadwal rencana pada minggu ke 14.
EVALUASI PENERAPAN K3 PADA PEKERJAAN PROYEK PEMBANGUNAN BHISA PLAZA CIREBON David Wibowo; Arianti Sutandi
Jurnal Serina Abdimas Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v4i1.37532

Abstract

By identifying possible risks and putting preventative measures in place in case of an incident, Occupational Safety and Health (OSH) aims to prevent workplace accidents and occupational diseases. Construction projects are inherently risky, especially when it comes to structural work and demolition, which call for heavy lifting and the use of dangerous machinery. The purpose of this essay is to assess how OSH procedures were applied in the Cirebon building project known as Bhisa Plaza. Direct field observations and document studies pertaining to the OSH processes used during the construction phase were used to conduct the evaluation. Workplace organization, site monitoring mechanisms, and the use of personal protective equipment (PPE) are among the elements that were noticed. According to the evaluation's findings, OSH implementation at the project site has been completed, although it is still not at its best, especially when it comes to safety compliance. There were still a few minor infractions discovered, like employees not always wearing safety shoes or helmets in specific locations and not receiving frequent safety briefings before beginning daily tasks. Low worker awareness and little project inspector on-site supervision are the primary causes of poor OSH implementation. In order to guarantee more efficient OSH implementation and reduce the risk of workplace accidents in upcoming building projects, this research highlights the necessity of improved safety awareness programs, ongoing supervision, and frequent socialization activities.. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bertujuan untuk mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan cara mengidentifikasi potensi risiko serta menerapkan langkah-langkah pencegahan jika terjadi insiden. Proyek konstruksi memiliki tingkat risiko yang tinggi, terutama pada pekerjaan struktur dan pembongkaran yang melibatkan aktivitas fisik berat serta penggunaan alat berat yang berbahaya. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menilai bagaimana penerapan prosedur K3 pada proyek pembangunan Bhisa Plaza di Cirebon. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung di lapangan dan studi dokumen terkait proses penerapan K3 selama tahap konstruksi. Aspek-aspek yang diamati meliputi pengaturan area kerja, mekanisme pengawasan di lapangan, serta penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penerapan K3 di lokasi proyek telah dilakukan, namun belum sepenuhnya optimal, terutama dalam hal kepatuhan terhadap keselamatan. Masih ditemukan beberapa pelanggaran ringan seperti pekerja yang tidak selalu mengenakan helm atau sepatu keselamatan di area tertentu, serta tidak adanya pengarahan keselamatan (safety briefing) secara rutin sebelum kegiatan kerja dimulai. Rendahnya kesadaran pekerja dan minimnya pengawasan dari inspektur proyek menjadi penyebab utama lemahnya implementasi K3. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan program kesadaran keselamatan, pengawasan yang berkelanjutan, serta sosialisasi rutin untuk memastikan penerapan K3 berjalan lebih efektif dan dapat meminimalkan risiko kecelakaan kerja pada proyek-proyek konstruksi di masa mendatang..