Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Faktor Ekonomi Dalam Pelaksanaan Rehabilitasi Hutan Dan Lahan (RHL): Studi Kasus Di Desa Momala, Kabupaten Gorontalo Safira Putri H. Malik; Sitti Muti'ah Rahman; Dicky Artha; Fitryane Lihawa; Iswan Dunggio
Jurnal Multidisiplin West Science Vol 5 No 06 (2026): Jurnal Multidisiplin West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jmws.v5i06.3430

Abstract

Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) merupakan program strategis dalam upaya memulihkan fungsi hidrologis Daerah Aliran Sungai (DAS) sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan. Kajian mengenai faktor ekonomi dalam pelaksanaan RHL di tingkat tapak masih sangat terbatas, khususnya di wilayah DAS Gorontalo. Mini riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor ekonomi yang berkaitan dengan pelaksanaan program RHL di Desa Momala, Kabupaten Gorontalo, sebagai studi pendahuluan (preliminary study) berbasis data lapangan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan instrumen kuesioner Skala Likert 4 poin yang terdiri dari 25 pertanyaan tertutup dan 2 pertanyaan uraian. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih 10 responden yang memiliki keterlibatan langsung dalam kegiatan RHL suatu jumlah yang lazim dalam penelitian eksploratoris berbasis informan kunci (key informant study). Instrumen diorganisasikan dalam lima dimensi ekonomi: (A) Insentif dan Pendapatan Langsung, (B) Biaya Peluang, (C) Modal dan Biaya Operasional, (D) Akses Pasar dan Nilai Produk, serta (E) Kepastian Ekonomi dan Kesejahteraan. Rata-rata skor keseluruhan sebesar 66,1 dari 100 (setara 2,64/4,00; kategori Cukup), dengan dimensi Biaya Peluang memperoleh skor terendah (2,3/4,00; kategori Kurang). Mini riset ini menghasilkan peta awal lima dimensi hambatan ekonomi RHL yang dapat menjadi acuan bagi penelitian lanjutan berskala lebih besar maupun bagi evaluasi desain program di lapangan. Kontribusi utama penelitian ini adalah tersedianya instrumen diagnostik multidimensi yang kontekstual dan dapat diadaptasi untuk lokasi DAS lainnya di Gorontalo.
Kesadaran Sosiologis Pengelolaan Sampah Pra-TPA dalam Pengendalian Jejak Karbon di Gorontalo: Kajian Literatur Safira Putri H. Malik; Wawan K. Tolinggi; Irwan Bempah
Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 1 (2026): Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin (Februari 2026 - Juli 2026)
Publisher : Transbahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54923/researchreview.v5i1.360

Abstract

Landfills represent a significant source of greenhouse gas emissions arising from the anaerobic decomposition of organic material that is not managed at source. This literature review departs from the sociological premise that waste management is fundamentally a social problem before it becomes a technical one that ecological values, community norms, social capital, and local wisdom determine waste management effectiveness far more profoundly than infrastructure availability alone. Using environmental sociology as the primary analytical framework, this review examines reputable references from the Scopus database, international institutional reports (World Bank, IPCC), and local empirical studies in Gorontalo. Discussion is organized around three major sociological themes: (1) biospheric values, social identity, and determinants of community pro-environmental behavior; (2) social norms, social capital, and the role of Huyula local wisdom in collective environmental management in Gorontalo; and (3) sociological implications for the design of pre-landfill waste management programs. Synthesis findings indicate that the absence of ecological value internalization and the discontinuation of community socialization constitute the sociological root causes of increasing landfill burdens. Conversely, communities with internalized biospheric values, rooted sorting norms, and structured social capital such as the Huyula tradition in Gorontalo possess substantially greater capacity to realize effective and sustainable pre-landfill waste management.