Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Persepsi dan Kesiapan Guru terhadap Pendidikan Kesehatan Mental: Studi Survei Awal di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa Hamsu Kadriyan; Gunawan Gunawan; Muthia Cenderadewi; Ni Made Yeni Suranti; Marisa Syavitri Dilaga; Muhammad Hilmy As Shiddiq; Lalu Hizrian Zikri Hamdi
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2026): Mei
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppm.v9i2.12252

Abstract

Kesehatan mental merupakan salah satu aspek penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung perkembangan peserta didik. Guru memiliki peran strategis dalam mengenali, memahami, dan memberikan dukungan awal terhadap berbagai permasalahan kesehatan mental yang dialami siswa. Namun, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan guru dalam bidang kesehatan mental masih menjadi tantangan di lingkungan sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diawali dengan survei kebutuhan sebagai dasar penyusunan program pelatihan edukasi kesehatan mental bagi guru di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Survei dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif terhadap 47 guru dari jenjang TK/PAUD, SD/MI, dan SMP/MTs. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup aspek pemahaman dasar kesehatan mental, pengalaman guru dalam menangani permasalahan psikologis siswa, serta kebutuhan pelatihan kesehatan mental. Hasil survei menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi positif terhadap pentingnya kesehatan mental di sekolah, ditunjukkan oleh tingginya skor pada aspek lingkungan belajar yang aman dan suportif (3,69) serta peran guru dalam mendukung kesehatan mental siswa (3,62). Meskipun demikian, guru masih mengalami kesulitan dalam mengenali dan menangani permasalahan emosional siswa. Selain itu, terdapat kebutuhan yang tinggi terhadap pelatihan kesehatan mental, khususnya terkait strategi penanganan siswa dengan masalah emosional, komunikasi empatik, dan manajemen stres. Temuan ini menjadi dasar dalam merancang program pelatihan kesehatan mental yang relevan dan aplikatif guna meningkatkan kapasitas guru dalam mendukung kesejahteraan psikologis peserta didik serta menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan inklusif.
Aksi “Gulali”(Gerakan Pengendalian Diabetes Melitus) dengan Peer Health Coaching Program : Menuju Desa Siaga Dm Mareta Dea Rosaline; Diah Tika anggraeni; Duma Lumban Tobing; Santi Herlina; Arief Wahyudi Jadmiko; Sang Ayu Made Adyani; Lalu Ahmad Gamal; Marisa Syavitri Dilaga; Lina Berliana Togatorop; Clara Oktalia Cahyani; Syakia Retno Aditya Dwi Putri
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i3.25239

Abstract

ABSTRAK Diabetes Melitus (DM) merupakan ancaman kesehatan global dengan prevalensi yang meningkat signifikan, termasuk di Desa Kuta, Lombok Tengah. Literasi kesehatan dan efikasi diri menjadi hambatan utama dalam manajemen penyakit dan pencegahan komplikasi DM. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui Aksi GULALI (Gerakan Pengendalian Diabetes Melitus) dengan pendekatan Peer Health Coaching. Peserta berjumlah 55 orang dari Desa Kuta. Intervensi meliputi pelatihan Peer Health Coaching bagi kader dan keluarga yang mencakup tanda gejala DM, komplikasi, aktivitas fisik, pemantauan glukosa darah, kepatuhan terapi farmakologis, serta deteksi dini kaki diabetik menggunakan monofilament test. Selain itu, dilakukan skrining kadar gula darah yang berkolaborasi dengan Puskesmas Kuta. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test yang dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed-Rank. Mayoritas responden adalah perempuan (72,7%) dengan rata-rata usia 45,2 tahun. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan pada rata-rata skor pengetahuan dari 2,89 (48,15%) menjadi 4,32 (72%) dengan nilai p = 0,001. Proporsi peserta berpengetahuan tinggi meningkat dari 28,3% menjadi 68,3%. Program GULALI efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengendalian DM dan perawatan kaki diabetik. Sinergi antara kader, keluarga, dan tenaga kesehatan setempat menjadi kunci keberhasilan program menuju Desa Siaga DM. Kata Kunci: Diabetes Melitus,GULALI, Gerakan Pengendalian Diabetes Melitus,Peer Health Coaching Program.  ABSTRACT Diabetes Mellitus (DM) is a global health threat with significantly increasing prevalence, including in Kuta Village, Central Lombok. Low health literacy and self-efficacy are major barriers to disease management and complication prevention. This community service activity aims to increase public knowledge through the GULALI Program (Diabetes Mellitus Control Movement) using a Peer Health Coaching approach. The participants consisted of 55 individuals from Kuta Village. The intervention included Peer Health Coaching training for cadres and families covering DM symptoms, complications, physical activity, blood glucose monitoring, pharmacological therapy adherence, and early detection of diabetic foot using the monofilament test. Additionally, capillary blood glucose screening was conducted in collaboration with the Kuta Health Center. Evaluation was performed using pre-test and post-test, analyzed with the Wilcoxon Signed-Rank test.The majority of respondents were female (72.7%) with an average age of 45.2 years. The analysis results showed a significant increase in the average knowledge score from 2.89 (48.15%) to 4.32 (72%) with a p-value = 0.001. The proportion of participants with high knowledge increased from 28.3% to 68.3%. The GULALI Program is effective in increasing community knowledge regarding DM control and diabetic foot care. Synergy between cadres, families, and local health workers is the key to the success of the program towards a DM Alert Village. Keywords: Diabetes Mellitus, Family, GULALI (Diabetes Mellitus Control Movement), Health Cadres, Family, Peer Health Coaching.
Comparative Effectiveness of Luliconazole, Sertaconazole, and Terbinafine for Tinea Corporis and Tinea Cruris: A Systematic Review Ni Luh Putu Eka Widya Ananta Putri; Marisa Syavitri Dilaga
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i3.13063

Abstract

Dermatophytosis (tinea corporis and tinea cruris) is a superficial fungal infection with a high prevalence in tropical regions. The WHO has reported cases of resistance to antifungal treatments. Topical antifungals from the allylamine (terbinafine) and azole (sertaconazole and luliconazole) classes are widely used; however, evidence regarding their comparative head-to-head effectiveness is inconsistent and has not yet been systematically synthesized with rigorous methodological quality assessment. This study aimed to evaluate and compare the clinical effectiveness, mycological cure rates, cost-effectiveness, and safety of topical terbinafine, sertaconazole, and luliconazole for tinea corporis and tinea cruris through a systematic review. A literature search was conducted using Publish or Perish across Google Scholar (n=200) and PubMed (n=16), yielding 216 articles. Following deduplication via Covidence (17 duplicates), title/abstract screening, and full-text review, nine studies met the final eligibility criteria. Methodological quality was assessed using the JBI Critical Appraisal Checklist for RCTs (13 items); six studies scoring >50% were included in the narrative synthesis. Results showed that comparisons between sertaconazole and terbinafine (four studies) consistently demonstrated equivalent effectiveness, although one high-quality study reported sertaconazole to be superior in terms of rapid relief from pruritus and achieving mycological cure. In one study of moderate quality, luliconazole demonstrated a significantly greater reduction in symptom scores compared to terbinafine. Sertaconazole showed higher clinical effectiveness than luliconazole, yet luliconazole was superior in terms of cost-effectiveness in one moderate-quality study. All three drugs were reported to be safe and well-tolerated. In conclusion, the three antifungal agents demonstrate generally comparable effectiveness in the management of tinea corporis and tinea cruris infections, although sertaconazole and luliconazole tend to outperform terbinafine in certain parameters across some studies.