Agoes Tri Harryo Koencoro Harso Puspito
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Peningkatan Citra Layanan Hotel pada Asrama Haji XYZ Melalui Analisis SWOT Agoes Tri Harryo Koencoro Harso Puspito; Hapzi Ali
Indonesia Economic Journal Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-JUNI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/hy7dn766

Abstract

Persaingan industri perhotelan yang semakin kompetitif menuntut setiap penyedia jasa akomodasi untuk membangun citra layanan yang positif guna meningkatkan daya saing dan menarik minat pelanggan. Asrama Haji XYZ sebagai institusi pemerintah yang memiliki fasilitas akomodasi dan ruang pertemuan memiliki potensi besar sebagai penyedia layanan hotel dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Namun, pemanfaatan layanan tersebut belum optimal karena masih terdapat persepsi masyarakat yang mengidentikkan Asrama Haji hanya sebagai tempat penyelenggaraan ibadah haji. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi citra layanan hotel pada Asrama Haji XYZ serta merumuskan strategi peningkatan citra layanan menggunakan analisis SWOT. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa Expert judgment melibatkan lima informan yang terdiri atas dua pejabat pengelola Asrama Haji XYZ, satu praktisi perhotelan, satu akademisi bidang manajemen strategis, dan satu akademisi bidang pemasaran jasa. Pemilihan informan dilakukan secara purposive berdasarkan kompetensi dan pengalaman yang relevan dengan pengelolaan layanan hotel dan strategi organisasi. Analisis dilakukan melalui Matriks IFAS, EFAS, dan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Asrama Haji XYZ memiliki kekuatan utama berupa lokasi strategis, reputasi sebagai institusi pemerintah, fasilitas lengkap, dan kapasitas layanan yang besar. Nilai IFAS sebesar 3,19 dan EFAS sebesar 3,24 menunjukkan posisi internal yang kuat dan peluang eksternal yang besar. Hasil koordinat SWOT (1,71; 0,60) menempatkan organisasi pada Kuadran I (Growth Strategy). Strategi yang direkomendasikan meliputi penguatan branding layanan hotel, optimalisasi pemasaran digital, pengembangan layanan MICE, peningkatan kualitas pelayanan berbasis hospitality, serta perluasan kemitraan strategis.
Efisiensi Anggaran, Adopsi Teknologi, Kualitas Pelayanan, dan Pemasaran Digital terhadap Citra Layanan Asrama Haji Kelas I Bekasi: Moderasi Tata Kelola Agoes Tri Harryo Koencoro Harso Puspito; Yayan Hendayana; Idel Eprianto
Lokawati : Jurnal Penelitian Manajemen dan Inovasi Riset Vol. 4 No. 5 (2026): September: Jurnal Penelitian Manajemen dan Inovasi Riset
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Manajemen Kewirausahaan dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/lokawati.v4i5.2769

Abstract

Asrama Haji Kelas I Bekasi memiliki dua mandat: mendukung administrasi ibadah haji dan, setelah musim haji berakhir, membuka fasilitas penginapan dan pertemuan untuk masyarakat umum. Namun, pengetahuan masyarakat tentang fasilitas ini masih terbatas. Dengan memanfaatkan kesenjangan tersebut, artikel ini mengkaji sejauh mana efisiensi anggaran, adopsi teknologi, kualitas layanan, dan pemasaran digital membentuk citra layanan lembaga tersebut, dan apakah tata kelola memperkuat keempat keterkaitan tersebut. Data primer dikumpulkan dari 120 partisipan yang pernah menggunakan atau mendengar tentang fasilitas tersebut, yang direkrut melalui pengambilan sampel insidental menggunakan kuesioner yang diberi skor pada skala persetujuan lima tingkat. Estimasi dilakukan menggunakan pemodelan persamaan struktural berbasis varians di SmartPLS 4. Keempat anteseden tersebut terbukti signifikan secara statistik, dan adopsi teknologi memiliki bobot jalur terberat di antara semuanya. Tata kelola meningkatkan citra layanan secara mandiri, namun tidak satu pun dari keempat istilah interaksinya yang melewati ambang batas signifikansi konvensional. Model tersebut menjelaskan 36,6 persen variasi dalam citra layanan. Oleh karena itu, tata kelola bertindak sebagai pendahulu tersendiri dan bukan sebagai penguat, yang menunjukkan bahwa upaya membangun citra harus berpusat pada apa yang dialami pengguna secara langsung.