Wida Mulyanti
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

How does the government create 8% growth? A critical transitivity analysis of economic rhetoric in Indonesia Wida Mulyanti; Adi Hidayat; Mahardhika Zifana
Englisia: Journal of Language, Education, and Humanities Vol. 13 No. 2 (2026): Englisia: Journal of Language, Education, and Humanities
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/englisia.150

Abstract

This study employs Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) framework, integrated with Halliday's transitivity system from Systemic Functional Linguistics (SFL), to examine the economic discourse produced by Indonesia's Minister of Finance. The analytical method operationalizes Fairclough's three-dimensional model—textual analysis, discourse practice, and sociocultural practice—through the systematic application of the SFL transitivity system as its principal grammatical tool. At the textual level, transitivity analysis maps the ideational function of language by classifying 768 clauses into six process types: material (31.0%), relational (27.1%), mental (19.1%), verbal (8.7%), existential (2.3%), and behavioral (2.0%), with the remainder comprising minor and elliptical clauses. An in-depth analysis of the three dominant process types reveals distinct ideological functions. Material processes construct the state as the primary economic actor capable of generating growth through deliberate intervention. Relational processes naturalize economic challenges as objective conditions necessitating state response, rather than as outcomes of contestable policy decisions. Mental processes assert epistemic authority while simultaneously constructing a form of epistemic nationalism that challenges the legitimacy of international financial institutions. By fully integrating Fairclough's three-dimensional framework with focused transitivity analysis, this study demonstrates how economic discourse during Indonesia's governmental transition encodes a developmental state ideology, naturalizes active state intervention, and asserts postcolonial epistemic sovereignty. The findings advance CDA methodology by providing a replicable model for the integrated linguistic analysis of economic policy discourse in transitional political contexts.
Nilai Aksiologi dan Strategi Legitimasi dalam Wacana Kebijakan Ekonomi di Indonesia Wida Mulyanti; Syihabuddin Syihabuddin; Mahardhika Zifana; Mely Rizki Suryanita; Rony Wirachman
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 16 No. 2 (2026): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v16i2.3901

Abstract

Penelitian ini mengkaji pembentukan nilai-nilai dalam wacana kebijakan ekonomi melalui analisis kritis pidato Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Great Lecture “Transformasi Ekonomi Nasional: Pertumbuhan Inklusif Menuju 8%” (11 September 2025). Dengan menggabungkan Analisis Wacana Kritis model Fairclough dan kajian nilai (aksiologi), penelitian ini menganalisis tiga tingkat kajian, yaitu teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga nilai utama yang saling berinteraksi. Pertama, nilai pragmatis-instrumental, yang menekankan efisiensi, target terukur, dan pemanfaatan teknologi sebagai dasar kebijakan. Kedua, nilai etika sosial, yang tampak dalam penekanan pada inklusivitas, keadilan distribusi, dan pemerataan kesempatan. Ketiga, nilai estetika komunikatif, yang membingkai kebijakan teknis dalam bentuk narasi visioner untuk membangun rasa kebersamaan publik. Analisis menunjukkan bahwa ketiga nilai tersebut berfungsi membangun legitimasi kebijakan: nilai pragmatis memberikan kesan kredibilitas teknis, nilai etika sosial memberikan pembenaran moral, dan nilai estetika menciptakan keterikatan emosional dengan publik. Namun, penelitian ini juga menemukan adanya potensi kesenjangan antara nilai-nilai yang dikonstruksikan dalam wacana dan pelaksanaan kebijakan di lapangan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya pengawasan kritis terhadap hubungan antara janji wacana kebijakan dan implementasinya secara nyata.