Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Refugee Women’s Sexual and Reproductive Health Rights in Indonesia Arimbi Fajari Furqon
Walisongo Law Review (Walrev) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/walrev.2026.8.1.31354

Abstract

This article critically examines the protection of sexual and reproductive health rights (SRHR) of refugee women in Indonesia within the context of its status as a non-signatory to the 1951 Refugee Convention. While Indonesia has ratified key human rights instruments, the national legal framework—primarily Presidential Regulation No. 125/2016—fails to adequately guarantee access to maternal and reproductive healthcare for refugee women. Employing a non-doctrinal qualitative methodology, this study integrates normative legal analysis with empirical data derived from interviews with UN Refugee Agency (UNHCR) Indonesia and reports from international and civil society organizations. The article introduces a novel analytical framework by combining Availability, Accessibility, Acceptability, Affordability, Quality standards, ROAM health equity indicators, and feminist legal theory to assess Indonesia’s obligations as a transit state. It argues that Indonesia operates under a model of “delegated humanitarianism,” whereby state responsibility for refugee protection is effectively transferred to international organizations such as UNHCR and UN Migration Agency (IOM). This governance model produces structural inequalities, particularly for refugee women, whose reproductive health needs remain unaddressed due to gender-neutral regulatory approaches. Findings reveal systemic disparities in maternal healthcare access, discriminatory treatment in service delivery, and the absence of state-funded healthcare mechanisms for refugees. The article concludes by proposing an integrated legal and institutional reform model that emphasizes state accountability, gender-sensitive policy design, and multi-level coordination to ensure the fulfillment of SRHR for refugee women in transit contexts. Artikel ini mengkaji secara kritis perlindungan hak kesehatan seksual dan reproduksi perempuan pengungsi di Indonesia dalam konteks statusnya sebagai negara yang tidak menandatangani Konvensi Pengungsi 1951. Meskipun Indonesia telah meratifikasi instrumen-instrumen hak asasi manusia utama, kerangka hukum nasional—terutama Peraturan Presiden No. 125/2016—gagal menjamin akses yang memadai terhadap layanan kesehatan ibu dan reproduksi bagi perempuan pengungsi. Dengan menggunakan metodologi kualitatif non-doktrinal, studi ini mengintegrasikan analisis hukum normatif dengan data empiris yang diperoleh dari wawancara dengan UNHCR Indonesia serta laporan dari organisasi internasional dan masyarakat sipil. Artikel ini memperkenalkan kerangka kerja analitis baru dengan menggabungkan standar AAAQ (Ketersediaan, Aksesibilitas, Penerimaan, Keterjangkauan, Kualitas), indikator kesetaraan kesehatan ROAM, dan teori hukum feminis untuk menilai kewajiban Indonesia sebagai negara transit. Artikel ini berpendapat bahwa Indonesia beroperasi berdasarkan model “kemanusiaan yang didelegasikan,” di mana tanggung jawab negara dalam perlindungan pengungsi secara efektif dialihkan kepada organisasi internasional seperti UNHCR dan IOM. Model tata kelola ini menimbulkan ketidaksetaraan struktural, terutama bagi perempuan pengungsi, yang kebutuhan kesehatan reproduksinya tetap tidak terpenuhi akibat pendekatan regulasi yang netral gender. Temuan-temuan menunjukkan adanya kesenjangan sistemik dalam akses layanan kesehatan ibu, perlakuan diskriminatif dalam penyediaan layanan, dan tidak adanya mekanisme layanan kesehatan yang didanai negara bagi pengungsi. Artikel ini diakhiri dengan mengusulkan model reformasi hukum dan kelembagaan terintegrasi yang menekankan akuntabilitas negara, perancangan kebijakan yang sensitif gender, dan koordinasi multi-tingkat untuk memastikan terpenuhinya HKSR bagi perempuan pengungsi dalam konteks transit. Keywords: Maternal; Health; Refugee; Sexual and Reproductive Health; Woman.
Penegakan Hukum Terhadap Pelanggaran Kedaulatan Di Laut Natuna Utara Oleh Kapal Asing Lea Laska Arepa; Muhammad Farraz Syaviq; Ema Septaria; Arimbi Fajari Furqon
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 6: Mei 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i6.16618

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum laut internasional dan hukum nasional Indonesia dalam penegakan hukum di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), serta mengkaji pelaksanaan dan kendala penegakan hukum terhadap pelanggaran oleh kapal asing di Laut Natuna Utara. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Bahan hukum yang digunakan meliputi UNCLOS 1982, peraturan perundang-undangan nasional, serta putusan Permanent Court of Arbitration (PCA) tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif Indonesia memiliki dasar hukum yang kuat dalam menegakkan hukum di ZEE, baik berdasarkan UNCLOS 1982 maupun hukum nasional. Namun, dalam praktiknya, penegakan hukum menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan sarana pengawasan, tumpang tindih kewenangan antar lembaga, serta tekanan geopolitik akibat klaim sepihak China di Laut Cina Selatan. Pelaksanaan penegakan hukum telah dilakukan melalui patroli, penangkapan kapal, dan langkah diplomasi, tetapi efektivitasnya belum optimal. Maka penegakan hukum di Laut Natuna Utara memerlukan penguatan kapasitas pengawasan maritim, peningkatan koordinasi antar lembaga, serta strategi diplomasi yang konsisten guna menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional Indonesia.
IMPLEMENTASI PENEGAKAN HUKUM LAUT TERHADAP PENCEMARAN SAMPAH DI PESISIR PANTAI PANJANG KOTA BENGKULU Tasya Bitha Zhafirah rizqi; Sania Afara Nadhifa; Tarisya Putri Ufairah; Ema Septiana; Arimbi Fajari Furqon
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.12866

Abstract

Law enforcement on marine pollution, particularly waste pollution in coastal areas, is a strategic issue in maintaining environmental sustainability and marine ecosystems. This study aims to analyze the implementation of maritime law enforcement against waste pollution in the coastal area of Pantai Panjang, Bengkulu City. The research employs a qualitative approach with a descriptive method, using data collection techniques such as observation, interviews, and documentation studies.The results show that the implementation of law enforcement against waste pollution in the area has not been optimal. This is due to low public awareness, weak supervision, and limited coordination among related institutions. Although regulations are already in place, their implementation still faces various challenges, including limited resources and weak enforcement of sanctions.This study concludes that strengthening inter-agency coordination, increasing public awareness, and enforcing stricter and more consistent legal measures are necessary. The findings are expected to contribute to the development of more effective policies and strategies for managing waste pollution in coastal areas