Muhammad Yunus
Prodi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Biseksual Sebagai Alasan Peceraian Perspektif Sadd Adz-Dzari’ah Meriska Adelia Tifani; Ramdan Fawzi; Muhammad Yunus
Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam Volume 5, No, 2 Desember 2025, Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam (JRHKI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrhki.v5i2.8349

Abstract

Abstrak. Fenomena penyimpangan seksual, khususnya biseksual, dalam rumah tangga sering menimbulkan ketidakharmonisan dan berujung pada perceraian. Penelitian ini bertujuan menganalisis Putusan Pengadilan Agama Bandung Nomor 1270/Pdt.G/2024/PA.Badg yang mengabulkan gugatan cerai dengan alasan suami biseksual ditinjau dari perspektif Sadd Adz-Dzari’ah. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif. Data primer diperoleh melalui studi dokumen putusan pengadilan, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi pustaka berupa buku, jurnal, dan peraturan perundang-undangan. Data dianalisis dengan tahapan reduksi, penyajian naratif, dan interpretasi berdasarkan prinsip Sadd Adz-Dzari’ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim mempertimbangkan keretakan rumah tangga akibat perilaku biseksual yang menimbulkan pertengkaran terus-menerus, berpotensi merusak moral, psikologis, dan hak batin istri. Putusan perceraian dipandang selaras dengan prinsip Sadd Adz-Dzari’ah sebagai upaya pencegahan kerusakan yang lebih besar. Penelitian ini menegaskan bahwa orientasi seksual yang menyimpang dapat dijadikan alasan perceraian meskipun tidak diatur secara eksplisit dalam undang-undang. Penerapan prinsip Sadd Adz-Dzari’ah memberi dasar hukum yang fleksibel bagi hakim dalam menghadapi fenomena kontemporer. Penelitian ini menyarankan perlunya sosialisasi hukum terkait penyimpangan seksual dalam perkawinan. Abstract. The phenomenon of sexual deviance, particularly bisexuality, within households often leads to disharmony and ultimately divorce. This study aims to analyze the Decision of the Bandung Religious Court No. 1270/Pdt.G/2024/PA.Badg, which granted a divorce petition on the grounds of the husband's bisexuality, from the perspective of Sadd Adz-Dzari’ah. The study employs a qualitative method with a normative legal approach. Primary data was obtained through a study of court decisions, while secondary data was obtained through a literature review of books, journals, and legislation. The data was analyzed through the stages of reduction, narrative presentation, and interpretation based on the principles of Sadd Adz-Dzari'ah. The results of the study indicate that judges consider the breakdown of the marriage due to bisexual behavior that causes constant arguments, potentially damaging the wife's moral, psychological, and emotional rights. The divorce ruling is seen as consistent with the principle of Sadd Adz-Dzari'ah as an effort to prevent greater damage. This study confirms that deviant sexual orientation can be used as grounds for divorce even though it is not explicitly regulated in the law. The application of the Sadd Adz-Dzari’ah principle provides a flexible legal basis for judges in dealing with contemporary phenomena. This study suggests the need for legal socialization related to sexual deviance in marriage.
Sertifikasi Wakaf Pasca Akta Ikrar Wakaf Menurut Hukum Islam dan UU No. 41/2004 Sipa Rahmadina; Siska Lis Sulistiani; Muhammad Yunus
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 111-118
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.25242

Abstract

Abstract. Waqf is an Islamic legal institution and a social institution regulated under Law No. 41/2004 on Waqf, which requires registration of every waqf act through a Waqf Pledge Deed (AIW) and subsequent registration with the National Land Agency (BPN). Yet data from the Indonesian Waqf Board show only about 57.42% of waqf land is certified, as seen in Al-Barokah Mosque, Tanjungsari Village, Sukaluyu, Cianjur, which holds an AIW but remains unregistered due to the absence of a nazhir. This study analyzes waqf certification status after the AIW at Al-Barokah Mosque under Islamic law and Law No. 41/2004. It uses a qualitative method with a normative-juridical approach. Primary data comprise legislation and scholarly literature; secondary data were obtained through interviews with the Mosque Prosperity Council (DKM) and library research, analyzed descriptively through data reduction, display, and conclusion drawing. Findings show that under Islamic law, the absence of a nazhir does not invalidate the waqf, since nazhir is not a pillar of waqf, while certification functions as tawtsiq  (evidentiary reinforcement) and himayah (protection) based on maslahah mursalah. Under Law No. 41/2004, certification is mandatory and urgent, with nazhir replacement through the Indonesian Waqf Board (BWI) as a prerequisite for continuing certification.   Abstrak. Wakaf merupakan pranata hukum Islam sekaligus institusi sosial yang diatur dalam Undang-Undang No. 41/2004 tentang Wakaf, yang mewajibkan pencatatan setiap perbuatan hukum wakaf melalui Akta Ikrar Wakaf (AIW) dan pendaftaran ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Namun, data Badan Wakaf Indonesia menunjukkan baru sekitar 57,42% tanah wakaf yang telah bersertifikat, sebagaimana tercermin pada kasus Masjid Al-Barokah, Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, yang telah memiliki AIW namun belum didaftarkan ke BPN akibat kekosongan nazhir aktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan sertifikasi wakaf pasca-AIW di Masjid Al-Barokah menurut hukum Islam dan UU No. 41/2004. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis-normatif. Data primer berupa peraturan perundang-undangan dan literatur ilmiah, sedangkan data sekunder diperoleh melalui wawancara dengan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan studi kepustakaan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut hukum Islam, ketiadaan nazhir tidak membatalkan keabsahan wakaf karena nazhir bukan rukun wakaf, sedangkan sertifikasi berfungsi sebagai tawtsiq  (penguatan bukti) dan himayah (perlindungan) berdasarkan maslahah mursalah. Menurut UU No. 41/2004, sertifikasi bersifat wajib dan mendesak, dengan penggantian nazhir melalui Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai prasyarat kelanjutan proses sertifikasi.
Nafkah Anak Pasca Perceraian Perspektif Q.S. Al-Baqarah:233 (Analisis Putusan No. 1411/Pdt.G/2025/PA.Sby) Annisa Sofi Irchamni; Muhammad Yunus; Encep Abdul Rojak
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 159-166
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.26097

Abstract

Abstract. The enforcement of child support obligations following divorce aims to ensure the fulfillment of children's rights despite the dissolution of their parents' marriage. In judicial practice, determining the amount of child support is often conducted despite the father's financial capacity not being fully established, requiring judges to consider statutory provisions, the best interests of the child, and the principles of Islamic law. This study aims to analyze the enforcement of post-divorce child support through the legal reasoning of judges in Decision Number 1411/Pdt.G/2025/PA.Sby and its conformity with Qur'an Surah Al-Baqarah verse 233. This research employs a normative juridical method using statutory and case approaches. Legal materials were collected through library research and document analysis and were examined using qualitative legal analysis. The findings indicate that the enforcement of law in the decision is reflected in the application of statutory regulations, the Compilation of Islamic Law, and judicial consideration of the facts presented during the trial in determining child support obligations. The decision upholds the father's responsibility to provide child support and reflects the principles of bil ma'ruf, lā tukallafu nafsun illā wus'ahā, the best interests of the child, and justice as embodied in Qur'an Surah Al-Baqarah verse 233.   Abstrak. Penegakan hukum terhadap kewajiban nafkah anak pasca perceraian merupakan upaya untuk menjamin terpenuhinya hak anak meskipun hubungan perkawinan orang tuanya telah berakhir. Dalam praktik peradilan, penetapan besaran nafkah sering dilakukan ketika kemampuan ekonomi ayah tidak diketahui secara pasti sehingga hakim dituntut mempertimbangkan ketentuan hukum positif, kepentingan terbaik bagi anak, serta prinsip-prinsip hukum Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis penegakan hukum nafkah anak pasca perceraian melalui pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Agama Surabaya Nomor 1411/Pdt.G/2025/PA.Sby serta kesesuaiannya dengan Q.S. Al-Baqarah ayat 233. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan hukum dalam putusan tersebut diwujudkan melalui penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan, Kompilasi Hukum Islam, serta pertimbangan terhadap fakta persidangan dalam menetapkan kewajiban nafkah anak. Putusan tersebut pada prinsipnya telah menempatkan ayah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas nafkah anak dan mencerminkan prinsip bil ma'ruf, lā tukallafu nafsun illā wus'ahā, kepentingan terbaik bagi anak, serta keadilan sebagaimana terkandung dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 233.